Aquarius adalah mermaid kembar yang memiliki sifat saling bertolak belakang. Jika Aqua adalah ombak besar ditengah lautan, maka Rius adalah air tenang dalam kolam.
Keduanya tidak pernah menyangka, bahwa ibu mereka sendiri telah terikat perjanjian de...
Rius diam seperti patung manekin, tubuhnya tegang saat dua makhluk aneh—yang sebelumnya memperkenalkan diri sebagai Maid—merias wajahnya. Keberanian ekstra dibutuhkan untuk berhadapan dengan makhluk-makhluk itu. Setiap kali jarak wajah mereka terlalu dekat, Rius menahan napas, berusaha tidak memperlihatkan ketakutannya. Wajah mereka yang menyeramkan membuat Rius tak bisa membayangkan seperti apa riasan yang mereka coba poleskan pada dirinya.
"Jangan-jangan wajahku nanti malah jadi seseram mereka," pikir Rius, mencoba menenangkan dirinya.
Ia mencuri pandang dengan takut-takut ke arah dua Maid itu, yang tampak serius bekerja. Rius merasa semakin cemas setiap detik yang berlalu. Rasanya, meski air mata sudah hampir menetes, ia harus tetap tegar.
Setelah kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya kedua makhluk aneh itu mundur, menjauh dengan senyum yang terukir di bibir mereka. Dua ibu jari mereka terangkat tinggi, seolah memberi isyarat bahwa Rius telah siap. Rius menarik napas panjang, sedikit lega, namun ketegangan masih terasa di dadanya.
"Anda benar-benar terlihat sangat cantik, Ratu. Saya senang sekali bisa berkesempatan merias wajah Anda hari ini," kata salah satu Maid dengan senyum penuh kepuasan.
Rius hanya bisa tertawa canggung. Pujian itu terasa hampa. Apa yang seharusnya bisa membuatnya senang justru membuatnya semakin cemas. Menyadari ritual pernikahan yang semakin dekat, ia tidak bisa bersikap santai.
"Ratu, apakah Anda menginginkan sesuatu?" Maid itu bertanya, mengalihkan perhatian Rius dari pikirannya.
Rius terkejut. Dengan gugup dan penuh hati-hati, ia akhirnya memberanikan diri untuk berbicara setelah sekian lama memilih diam.
"B-bisakah kalian ambilkan air untuk Rius? Emmm... Rius merasa haus," ucapnya terbata-bata, suaranya terdengar cemas.
Maid itu saling melirik, kemudian salah satunya mengangguk setuju dan segera melangkah keluar melewati pintu, meninggalkan Rius bersama yang satu lagi.
Rius menatap Maid yang masih tersisa, yang kini sedang membereskan alat rias dengan teliti. Merasa ingin mengatakan sesuatu, namun bingung, Rius akhirnya memilih untuk tetap diam. Namun, sepertinya Maid itu lebih dulu membuka suara.
"Apakah Anda menginginkan hal lainnya, Ratu? Jangan ragu, karena Anda adalah calon Ratu King Albartaz." Lyn berkata sambil tersenyum, tapi senyum itu justru semakin membuat Rius takut. Wajah seram Lyn terlihat seperti monster bagi Rius.
"M-makanan! Ya, Rius belum makan sejak tiba di tempat ini. B-bisakah Rius meminta makanan juga?" Rius berusaha terlihat tenang, meski hatinya masih berdebar-debar.
Lyn segera mengangguk. "Tentu, Ratu. Apa yang biasa Anda makan? Saya akan segera menyiapkannya."
"A-apa saja. Aku akan makan apa pun yang kalian sajikan untuk Rius," jawab Rius tergagap, menghindari menatap wajah Lyn.
"Baik, Ratu. Mohon tunggu sebentar." Lyn bergegas keluar, meninggalkan Rius sendirian.
Begitu kedua Maid itu pergi, Rius menghela napas lega. Tanpa berpikir panjang, ia mengeluarkan liontin perak dari balik pakaiannya. Liontin itu, yang diberikan oleh Ratu Melisa, dikatakan dapat mengabulkan keinginan mermaid dengan mantra.
Ini adalah kesempatan yang ditunggu-tunggu. Dengan tangan sedikit gemetar, Rius memegang liontin itu dan mulai membaca mantra yang telah diajarkan Ratu Melisa, berharap sesuatu akan terjadi.
Namun, setelah membuka mata, Rius merasa kecewa. Ekornya tidak berubah. Tidak menyerah, ia mencoba lagi, namun tetap gagal. Kekesalan mulai menguasainya, terutama saat ia mendengar suara pintu yang berderik, menandakan kembalinya kedua Maid itu.
Rius merasa semakin terjebak. Di luar sana, King Albartaz menunggu untuk melangsungkan pernikahan yang tidak diinginkannya.
"Aduh!" Rius terjatuh dari bak mandi ketika ia menggerakkan ekornya dengan tergesa-gesa, kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terlempar ke lantai kamar mandi.
Ia mengusap pinggulnya yang terasa nyeri, tapi matanya terbelalak melihat ekornya berubah menjadi kaki manusia, meskipun hanya sebentar. Sejenak, Rius terdiam, berpikir.
Kemudian, dengan penuh keyakinan, ia menyeret tubuhnya menjauh dari genangan air. Dalam sekejap, ekornya berubah sepenuhnya menjadi sepasang kaki manusia.
Rius memekik kegirangan, menutup mulutnya sendiri dengan tangan setelah menyadari apa yang baru saja terjadi.
"Astaga! Liontin ini benar-benar bisa mengubah ekor Rius menjadi kaki manusia!" bisiknya dengan wajah berseri-seri, jantungnya berdebar kencang.
Tanpa membuang waktu, Rius berdiri, meraih tembok untuk menyeimbangkan tubuhnya, dan mengunci pintu yang kebetulan masih terkunci. Dengan kaki manusia baru, ia melompat-lompat kecil menuju jendela, mencoba membukanya perlahan.
Namun, begitu ia melihat ke luar, rasa mual langsung menghantamnya. Menara yang ia tempati ternyata sangat tinggi. Rius mundur, tak percaya.
"Hiks, bagaimana caranya Rius turun dari menara setinggi ini?" Tangisnya pecah. Rius merasa tak ada jalan keluar.
Ketukan di pintu membuat jantungnya berdebar keras. "Ratu, kami sudah membawakan makanan dan minuman Anda."
Tok. Tok. Tok.
Rius terkejut dan langsung berlari menuju pintu, menahan pintu sekuat tenaga.
"Ratu?"
"Tidak! Rius tidak mau menikah!" jerit Rius frustasi, memunggungi pintu, jatuh terduduk. Ia menenggelamkan wajahnya di lutut, menangis seperti anak kecil.
Di luar, Lyn dan Tan terlihat khawatir. "Bagaimana ini?"
"Ibunda, Aqua, tolong selamatkan Rius. Rius mau pulang," bisik Rius, sendu. Rius merasa tak berdaya.
Tok. Tok. Tok.
"Rius bilang! Rius tidak mau menikah!"
Suara itu langsung membuat tubuh Rius menegang. Suara King Albartaz terdengar tepat di samping telinganya, membuat bulu kuduknya meremang. Rius menoleh pelan, matanya terbuka lebar ketika melihat sosok Albartaz berdiri tepat di depannya.
"K-King Albartaz," suara Rius tergetar, air matanya masih mengalir deras.
Rius mengangkat wajahnya, menatap pria itu dengan mata penuh air mata. Albartaz berjongkok, mendekatkan wajahnya pada Rius yang menangis keras.
"Hiks, kenapa King Albartaz begitu jahat pada Rius? Rius salah apa? Kenapa King Albartaz terus memaksa Rius seperti ini?" tangis Rius semakin parah. "Rius mau pulang. Tolong antarkan Rius pulang. Rius mohon, Rius mau pulang, Hua... Rius mau pulang!"
Albartaz memegang kepala Rius dengan lembut. "Kau mau pulang?"
Rius mengangguk lugu, wajahnya memerah dan penuh air mata. "Rius mau Ibu. Rius mau kakak."
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang."
Mendengar itu, mata Rius bersinar terang. Albartaz tersenyum tipis, merasa gemas melihatnya.
"B—benarkah?" tanya Rius dengan penuh harap.
"Hm."
"King Albartaz berjanji?" Rius mengulurkan jari kelingkingnya, berharap Albartaz menautkannya.
"Tentu. Tapi setelah kita menikah." Albartaz tersenyum lebar, seringainya penuh dengan makna. Rius terdiam, wajahnya berubah menjadi datar seketika, menyadari betapa besar permainan ini.
To be continued...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.