Di balkon istana Agathea, Pangeran Arkeolus duduk di pagar marmer, menggoyang-goyangkan kakinya dengan tatapan kosong ke langit malam. Zion berdiri di sampingnya, menghela napas panjang sambil melipat tangan di dada.
"Pangeran, kau tidak bisa terus seperti ini," ujar Zion, mencoba merayu sang pangeran agar berhenti merajuk.
Arkeolus mendengus pelan. "Hmph, kau tidak tahu rasanya dikhianati cinta pertama, Zion..."
Zion mengangkat alisnya. "Yang Mulia, ini bukan cinta pertama Anda. Kau sudah pacaran dengan entah berapa wanita sebelum ini-"
"DIAM!" Arkeolus mendelik tajam. "Mereka semua tidak penting! Hanya Aqua yang spesial!"
Zion menahan diri untuk tidak menepuk dahinya sendiri. "Baiklah, kalau begitu, kenapa tidak bicara lagi dengan Nona Aqua?"
Arkeolus menggeleng dengan ekspresi sebal. "Hah! Untuk apa? Toh, dia sudah dijodohkan dengan Arthur! Aku ini apa? Kentang goreng? Disingkirkan begitu saja?!"
Zion menahan napas, tidak yakin apakah ia harus menanggapi keluhan sang pangeran yang mulai tidak masuk akal.
Arkeolus akhirnya menghela napas panjang. "Zion, sepertinya aku hanya ingin pulang."
Zion mengerutkan kening. "Pulang? Maksudnya kembali ke kerajaan?"
Arkeolus mengangguk. "Ya. Aku rindu ibuku."
Zion mengerjapkan mata. "Uh... Apa?"
Zion ingin mengatakan sesuatu, tetapi Arkeolus tiba-tiba mengusap wajahnya sendiri, lalu mengendus pelan.
"Aku benar-benar ingin pulang..." suaranya sedikit bergetar.
Zion terkejut. "Yang Mulia, apakah kau-"
Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, Arkeolus benar-benar menangis.
"Aku ingin pulang... Aku ingin bertemu Ibu..." isaknya sambil menutupi wajah dengan kedua tangan.
Zion hanya bisa menatapnya dengan ekspresi tercengang. Ini pertama kalinya ia melihat Pangeran Arkeolus menangis seperti anak kecil.
Dengan cepat, Zion menepuk punggung sang pangeran dengan lembut. "Sudah, sudah... Aku akan menyiapkan perjalanan pulang untukmu. Jangan menangis seperti ini..."
Arkeolus masih terisak. "Ibu pasti akan menghiburku... Dia akan membelai rambutku dan mengatakan bahwa aku adalah pangeran paling tampan di dunia... Aku rindu ibuuuu...."
Zion terbatuk, nyaris tersedak udara. Walaupun kasihan, melihat sang pangeran bertingkah seperti ini justru membuatnya merasa lebih lega. Setidaknya, Arkeolus masih menjadi dirinya sendiri. "Pangeran serius ingin pulang ke kerajaan?"
"Tentu saja!" Arkeolus menggembungkan pipinya. "Sekali lagi kau menanyakan pertanyaan yang sama. Aku akan meninggalkanmu disini Zion."
Zion benar-benar kehabisan kata-kata.
Zion akhirnya menepuk punggung sang pangeran dengan sabar. "Baiklah, Yang Mulia. Aku akan mengurus perjalanan kita pulang..."
"Jangan lama-lama!" Arkeolus masih mengerang. "Aku mau pulang besok pagi! Tidak! Malam ini juga boleh!"
Dari kejauhan, Aqua berdiri di balik pilar marmer, tak sengaja mendengar semua curahan hati Arkeolus. Ia sempat berniat menemui sang pangeran, tetapi kini hanya bisa terdiam di tempatnya.
Aqua menatap Arkeolus yang merengek seperti anak kecil, berguling-guling di lantai sambil memanggil ibunya dengan suara manja.
Ia tidak pernah melihat Arkeolus seperti ini sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AQUARIUS [END]
FantasyAquarius adalah mermaid kembar yang memiliki sifat saling bertolak belakang. Jika Aqua adalah ombak besar ditengah lautan, maka Rius adalah air tenang dalam kolam. Keduanya tidak pernah menyangka, bahwa ibu mereka sendiri telah terikat perjanjian de...
![AQUARIUS [END]](https://img.wattpad.com/cover/258407798-64-k512087.jpg)