Bab 23

811 42 0
                                        

Pangeran Arkeolus kembali mendekat, memberikan napas buatan untuk Aqua yang mulai kesulitan bernapas lagi. Bibirnya menempel pada bibir gadis itu, memberikan udara yang sangat dibutuhkan. Aqua menerima dengan rakus, tubuhnya melemas dalam dekapannya.

Namun, tepat saat itu-

"Ehem."

Sebuah suara terdengar di depan sel.

Arkeolus mendengus kesal begitu melihat Zion berdiri di sana dengan ekspresi canggung.

"Tch. Kau datang di saat yang sangat tidak tepat," gerutu Arkeolus, melepaskan Aqua dengan enggan.

Sementara itu, Aqua buru-buru berpaling, menyembunyikan wajahnya yang kini bersemu merah. Ia berdehem pelan untuk menutupi kegugupannya, lalu menatap Zion dengan penuh harap. "Bagaimana, Zion?" tanyanya, mencoba mengalihkan suasana.

Zion menegakkan tubuhnya. "Aku sudah menyerahkan kalung itu pada saudaramu. Kita hanya tinggal menunggu nona itu beraksi."

Mata Aqua berbinar, percaya bahwa Rius pasti akan melakukan sesuatu. Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, Arkeolus langsung menyahut dengan nada tajam.

"Sampai kapan kita harus menunggu?" Suara Arkeolus terdengar marah kali ini. "Aqua bisa mati tanpa liontin itu!"

Zion menelan ludah, gugup melihat tatapan membunuh dari sang pangeran. "Anu... Pangeran. Kita tidak bisa memprediksi..."

"Hah!" Arkeolus memijit pelipisnya, frustasi.

Saat itu, seorang penjaga datang, membawa makanan dan minuman ke dalam sel. Tanpa berpikir panjang, Arkeolus bergegas menghampiri penjaga itu, meraih gelas berisi air, lalu menyiramkannya langsung ke ekor Aqua.

Aqua terkejut.

Zion terperangah.

Penjaga itu melongo.

"A-Arkeolus?" Aqua tidak menyangka mendapatkan perlakuan seperti ini. Air yang menyentuh ekornya membuatnya sedikit lebih segar, tetapi yang lebih mengejutkan adalah tatapan Arkeolus yang serius dan gelisah.

Namun, Arkeolus tidak berhenti sampai di situ. Ia menoleh pada penjaga itu dengan sorot mata tajam. "Beri aku lebih banyak air."

Penjaga itu menelan ludah. "T-Tapi, Pangeran..."

"Aku tidak ingin mendengar alasan," potong Arkeolus dingin. "Sediakan bak berisi air untuk Aqua. Aku adalah putra King Albartaz, dan kau harus mematuhiku!"

Aqua terkejut melihat Arkeolus yang seperti ini. Selama perjalanan bersama, Arkeolus selalu terlihat santai, bahkan terkadang sembrono. Namun, ini adalah kali kedua Aqua melihat sisi lain dari Arkeolus-sisi yang benar-benar serius dan menakutkan.

Dan untuk pertama kalinya, Aqua menyadari betapa besar kepedulian Arkeolus padanya.

🌊🌊🌊

Setelah beberapa waktu, penjaga akhirnya kembali dengan sebuah bak besar berisi air. Ia meletakkannya di dalam sel dengan ekspresi waswas, takut akan amarah Arkeolus jika ini tidak cukup.

Tanpa menunggu lebih lama, Arkeolus bergegas mengangkat Aqua dan membawanya ke dalam bak itu.

Begitu tubuhnya menyentuh air, Aqua langsung menghela napas lega. Ekornya yang sebelumnya tampak lemas kini mulai bergerak lincah, berkilauan di bawah cahaya samar sel penjara. Rasa nyeri dan sesak yang sempat menyiksanya perlahan menghilang, digantikan dengan kehangatan yang menenangkan.

AQUARIUS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang