Di bawah cahaya bulan yang samar, mereka terus berjalan mengikuti Arthur. Hutan semakin lebat, dengan pepohonan tinggi menjulang dan akar-akar besar yang melintang di jalan setapak. Suasana mencekam, namun mereka tak punya pilihan lain selain melanjutkan perjalanan.
Pangeran Arkeolus tetap menggendong Rius dengan hati-hati, memastikan gadis itu tidak terjatuh. Aqua sesekali menoleh ke arah saudara kembarnya dengan tatapan cemas, sementara Arthur berjalan di depan, mengarahkan mereka menuju tempat persembunyian yang telah ia temukan sebelumnya.
Setelah perjalanan yang terasa begitu panjang, akhirnya mereka tiba di sebuah tebing curam yang tersembunyi di balik semak belukar. Arthur dengan cekatan mendorong beberapa ranting yang menutupi celah batu besar, memperlihatkan sebuah lorong sempit yang tampak gelap dan berdebu.
"Di sini," katanya.
Aqua memandang celah itu dengan ragu. "Kau yakin ini tempat yang aman?"
Arthur mengangguk. "Aku menemukannya saat dalam perjalanan mencari jejakmu. Tempat ini dulunya adalah reruntuhan kuil kuno yang sudah lama terlupakan. Tidak ada yang tahu tentang keberadaannya lagi, dan ini cukup tersembunyi untuk menghindari pasukan King Albartaz."
Pangeran Arkeolus tidak banyak bicara. Dengan cepat, ia melangkah masuk lebih dulu sambil tetap menggendong Rius. Yang lain mengikuti dari belakang, menyusuri lorong yang dingin dan lembap.
Begitu mereka tiba di dalam, mereka menemukan sebuah ruangan luas yang dipenuhi pilar-pilar batu tua dan dinding yang ditumbuhi lumut. Meskipun tempat itu tampak terbengkalai, ada cukup ruang untuk mereka beristirahat dengan aman.
Arthur menyalakan lentera kecil yang ia bawa, menerangi bagian tengah ruangan. "Kita bisa tinggal di sini sementara waktu. Aku akan mencari air dan kayu bakar untuk menghangatkan tempat ini."
Namun sebelum Arthur sempat beranjak, tiba-tiba terdengar suara geraman pelan dari salah satu sudut ruangan. Semua refleks menoleh, tubuh mereka menegang. Dari dalam bayangan, sesosok kucing hitam dengan mata keemasan melangkah keluar dengan anggun.
Arthur dengan sigap menarik belatinya, langsung memasang kuda-kuda. "Mundur, Aqua! Itu bisa jadi makhluk iblis yang mengikutimu!"
Aqua tersentak, namun sebelum ia bisa mengatakan sesuatu, Pangeran Arkeolus melangkah ke depan dan mengangkat satu tangan, menghentikan Arthur.
"Tenang, dia bukan musuh," katanya dengan suara tegas. "Dia adalah orang kepercayaanku."
Arthur menatap Pangeran Arkeolus dengan penuh kebingungan. "Apa maksudmu? Ini hanya seekor kucing."
Namun sebelum pertanyaannya terjawab, tubuh kucing hitam itu tiba-tiba bersinar, berubah menjadi seorang pria bertubuh tegap dengan rambut hitam pekat dan mata tajam yang masih mempertahankan warna emasnya.
Arthur terperanjat. "Apa—?! Siapa dia?!"
Aqua segera melangkah mendekat. "Tenang, Arthur. Zion bukan makhluk jahat. Justru dia yang membantu kami dalam pelarian membawa Rius keluar dari Istana Kegelapan Agathea."
Arthur masih menatap Zion dengan curiga, namun melihat bagaimana Aqua dan Pangeran Arkeolus begitu percaya kepadanya, ia akhirnya menurunkan belatinya dengan enggan.
Zion menghela napas, lalu menyeringai kecil. "Aku sempat tertahan untuk melawan para prajurit iblis agar kalian bisa kabur. Tapi tentu saja, aku bukan orang yang mudah dikalahkan."
Aqua menatapnya dengan penuh rasa terima kasih. "Zion… kau tidak terluka, kan?"
Zion hanya tersenyum miring. "Aku pernah mengalami hal yang lebih buruk."
KAMU SEDANG MEMBACA
AQUARIUS [END]
FantasiaAquarius adalah mermaid kembar yang memiliki sifat saling bertolak belakang. Jika Aqua adalah ombak besar ditengah lautan, maka Rius adalah air tenang dalam kolam. Keduanya tidak pernah menyangka, bahwa ibu mereka sendiri telah terikat perjanjian de...
![AQUARIUS [END]](https://img.wattpad.com/cover/258407798-64-k512087.jpg)