Donatella Yum, biasa dipanggil Donat
Ini tentang Donat yang tumbuh di keluarga toxic. Sedari kecil, Donat selalu dipaksa menjadi nomor satu dalam segala hal, terutama bidang menyanyi. Donat harus mengesampingkan keinginannya semata-mata untuk membah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Pak, tambah es teh manisnya satu lagi, ya."
Pria paruh baya tersebut mengembuskan napas sebelum menghampiri Donatella. Berkacak pinggang, dia berucap, "Neng ini sebenarnya mau nambah es teh manis sampai berapa banyak? Neng udah pesan tiga gelas. Sekarang mau lagi?"
"Eh," ujar Donatella seraya menggaruk tengkuknya kikuk. Saking fokusnya mencoba menelepon Saddam berulang kali, ia hingga tidak sadar bahwa ia sudah menghabiskan tiga gelas es teh manis.
"Mohon maaf sebelumnya, bukannya bapak bermaksud kasar ke pelanggan. Tapi neng udah duduk di sini hampir lima jam. Saya juga udah selesai beres-beres. Dari tadi mau pulang, enggak bisa karena neng masih di sini."
Bapak pedagang lalapan tersebut berdeham. "Ya. Es teh manis tiga, nasi putih satu, ayam bakar satu, sate kulit goreng 5. Totalnya empat puluh enam ribu."
"Iya, Pak," balas Donatella seraya memasukkan tangan ke tasnya. Kedua alisnya lantas bertautan kala tangannya tidak berhasil menemukan dompet di sana.
Merasa terintimidasi akan tatapan sang bapak, Donatella lekas mengeluarkan semua isi tasnya. Donatella pun melongo menyadari ia tidak memasukkan dompet ke tas. Bagaimana ini? Sepertinya, ia meninggalkan dompet di meja belajar.
Donatella menggigit bibir sebelum berujar pelan, "Pak, kalau bayar pakai QRIS bisa? Dompet saya ketinggalan di rumah."
Meski curiga terhadap pelanggannya, bapak pedagang lalapan berlalu untuk mengambil kertas yang berisikan kode QRIS. Dengan muka kesal, dia menyodorkan kertas tersebut ke Donatella. "Nih, Neng. Saya enggak terima alasan apa pun lagi, ya."
Donatella mengangguk lalu mengambil ponsel. Degup jantungnya berdegup kian cepat kala benda pipih di tangannya tidak bisa menyala. Please. Jangan habis baterai. Gue bisa mati ini.
Jari telunjuk Donatella berulang kali menekan layar berusaha menghidupkan ponsel, tapi tak membuahkan hasil.
"Neng ini gimana, sih? Kalau enggak mampu bayar, ya, jangan belanja dong. Gayanya elit kayak anak orang kaya, tapi bayar lalapan aja enggak bisa," sentak sang bapak mulai emosi membuat Donatella gelagapan.
"Maaf, Pak. Bu-bukan gitu. Saya bisa, kok, bayar. Tapi apa boleh saya pinjam charger?"
"Charger-charger, neng kira hp saya sama hp neng sama, hah?!"
"..."
"Saya enggak mau tahu. Neng harus bayar sekarang juga. Atau enggak, kita ke kantor polisi aja. Neng ini merugikan usaha saya!"
"Ada apa ini, Pak Hardi?" Suara lembut itu tak tahu-menahu muncul di tengah perseteruan keduanya.