Alzeiron menyunggingkan senyum smirk yang penuh arti. Di depan sana, berdiri Bima, laki-laki yang telah lama jadi rivalnya. Mengingat sejarah panjang di antara mereka, dada Alzeiron mendadak terasa sesak. Napasnya tertahan, tak sepenuhnya karena marah... tapi karena luka lama yang masih belum kering.
Mereka duduk di kursi panjang area balap motor. Perlombaan belum dimulai, jadi mereka masih santai, memantau lawan dan mengurus formulir keikutsertaan.
"Dia bakal kalah lagi." Alzeiron yakin karena selama ini Bima belum pernah mengalahkan nya.
Samudra menggelengkan kepalanya. Tangan nya mengambil kripik yang sedari tadi ada di depan nya lalu memakan kripik singkong itu. "Pasti! Tapi, Al, enggak baik loh simpan dendam."
Derion menepuk kepala Samudra hingga keripik yang di makannya jatuh ke tanah.
"Lo diam aja deh Sam! Enggak usah sok suci. Kita semua tau dia yang nyimpan dendam, bukan kita."
"Lo kenapa sih sensi banget?" teriak Samudra dengan kesal.
"Lo yang bikin gue sensi! Lagian orang kayak si Bima itu memang cocok dimusuhi. Tengok aja tu muka songongnya, minta di pukul tau nggak?Apalagi mulutnya yang enggak bisa dijaga," kata Derion sambil menunjuk kearah Bima yang tengah menatap mereka dengan tatapan angkuh seolah dia lah yang paling berkuasa disini.
"Muka dia tampang preman kampung jir..."gumam Samudra pelan, tapi cukup untuk membuat yang lain tertawa kecil. Memang, gaya Bima mencolok. Tindik di telinga, gelang rantai, kalung salib mencolok, pakaian serba hitam. Tampilan yang terlalu percaya diri.
"Al, lo di telfon ni," kata Rama yang sudah bosan mendengar getaran ponsel Alzeiron yang berada di depannya. Entah berapa kali sudah berbunyi, yang pasti itu membuat Rama bosan.
"Siapa?"
"Enggak tahu, nomor nya enggak di kenal."
"Matin aja!" titah Alzeiron yang sibuk menghisap rokoknya.
"Kayaknya penting, dia udah nelfon berkali-kali," jelas Rama sambil terus memperhatikan ponsel Alzeiron yang masih berdering.
Alzeiron menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Tangan kirinya terulur untuk mengambil ponsel yang sedang berdering itu. Lalu laki-laki itu menggeser tombol hijau ke kanan untuk mengangkat telfon.
"Hallo, Alzeiron ku tersayang." sapaan Celsia terdengar dengan nada gembira memasuki pendengaran Alzeiron.
"Kemana aja sih? Aku nelfon udah enam kali loh."
"Gue sibuk!" kata Alzeiron lalu kembali Menghisap rokoknya. Jika ia tahu ini adalah nomor Celsia, ia akan memilih mematikan ponsel nya saja.
"Kamu sibuk? Maaf ya udah ganggu. Aku cuma mau nanyak, kamu besok mau aku buatin bekal apa?" tanya Celsia.