Jagan lupa vote and komen biar penulisnya tambah semangat💪
Jika ada kesalahan dalam penulisan tolong di tandai ya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alzeiron melangkah menyusuri koridor yang lengang, hanya ditemani suara gemerisik dari kantong jajanan di tangannya. Ia berhenti sejenak di depan pintu apartemennya yang tampak sedikit terbuka. Keningnya berkerut, rasa panik perlahan merambat di dada. Tanpa pikir panjang, ia mendorong pintu dan masuk dengan langkah cepat.
Yang menyambutnya bukan keheningan biasa, melainkan sosok tak terduga—ayahnya, duduk santai di sofa, kaki disilangkan, sorot matanya tajam dan angkuh. Pria paruh baya itu tampak mencolok dengan jas mahal yang memeluk tubuh tegapnya—jas yang harganya mungkin cukup untuk membeli apartemen baru.
Dengan malas Alzeiron menaruh kresek di meja lalu berjalan mendekati pria itu.
"Bagaimana caranya anda masuk kesini?" tanya Alzeiron dengan wajah datar nya. Lelaki paruh baya itu jelas tak tahu kode apartemen nya.
Jadi bagaimana bisa masuk?
"Dengan uang."
Alzeiron menghela nafas kasar. Dia lupa bahwa laki-laki itu sangatlah kaya dan mempunyai koneksi yang sangat banyak. Jangankan untuk masuk ke apartemen nya, jika ia ingin menghancurkan apartemen nya malam ini pun dia bisa.
"Apa tujuan anda kesini?" tanya Alzeiron tak ingin basa-basi.
"Apakah saya tidak boleh datang ke tempat tinggal anak sendiri?" tanya laki-laki paruh baya itu.
"Wohoho! Ternyata saya masih dianggap anak oleh anda," kata Alzeiron dengan ekspresi kaget yang di buat-buat, "tapi sayangnya saya tak lagi menganggap anda sebagai ayah saya, " lanjut Alzeiron dengan datarnya.
"Mau kau anggap atau tidak, darah saya tetap mengalir didalam tubuh mu!"
Alzeiron berekspresi jijik mendegar ucapan Devran. "Saya merasa jijik karena darah seorang pembunuh dan tukang selingkuh mengalir di dalam darah ku."
Wajah Devran memerah, rahang nya mengetat. "Jaga ucapan mu Alzeiron!"
Alzerion memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celana lalu menatap tajam ayah nya. "Jika tak ada kepentingan keluar dari sini!"
Devran menghela nafas sabar. "Kembali ke perusahaan secepatnya Alzeiron!" tekan Devran.
Berapa tahun ini, Devran menyerahkan perusahan nya pada Alzeiron untuk dikelola. Hasilnya cukup memuaskan. Namun berapa bulan terkahir, Alzeiron sudah tak lagi mengelola perusahaan dan mengabaikannya.
"Sudah berapa kali saya katakan, Jangan mengatur saya!"
"Jangan membantah selagi saya berbicara baik-baik. Kau ingat bukan apa perkataan terkahir ibu mu yang menyusahkan itu," kata Devran.