ALZEICIA: 31

362 21 12
                                        

Hai, jumpa lagi sama ALZEICIA

Bima memasuki area kompleks rumahnya dengan amarah yang belum sepenuhnya reda

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bima memasuki area kompleks rumahnya dengan amarah yang belum sepenuhnya reda. Pandangannya menyipit saat melihat seorang gadis duduk di pinggir jalan, memeluk lutut, wajahnya tertunduk.

Ia mengenal sosok itu.

Bima menghentikan motornya di seberang jalan, lalu turun dan mulai melangkah mendekat menuju gadis yang membuat langkahnya terhenti

"Celsia?"

Gadis itu mendongak dengan mata berair dan hidung yang memerah. Ia menangis, lagi?

"Lo ngapain disini?" tanya Bima saat gadis itu sedang menyeka kasar air matanya.

Suasana komplek begitu sepi dan Celsia terlihat begitu menyedihkan. Duduk sendiri dengan mata berderai air mata. Sungguh malang.

"Ngamen," jawab ketus Celsia membuat Bima terkekeh.

Laki-laki itu duduk di sampingnya. "Kenapa nangsi lagi, hmm?"

"Gue enggak nangis!" Celsia mengelak walaupun masih sesegukan. Malu sekali karena ketahun lagi dengan laki-laki yang sama.

"Terus lo lagi kayang? Lo kira gue buta apa?" ucap Bima malas.

"Alzeiron lagi?" tebak laki-laki itu.

"Hmm."

"Kali ini kenapa lagi dia?" tanya Bima sambil melihat Celsia.

Sepertinya masalah laki-laki itu tak kelar-kelar.

"Kayak biasa, gue enggak dianggap," jelas Celsia terkekeh ringan.

Gadis itu menghela nafas lelah lalu memandang langit-langit. Ia butuh tempat cerita, mungkin tak masalah jika berbagi sedikit dengan laki-laki di sampingnya.

"Padahal gue fikir hubungan kita ada kemajuan. Dia juga udah lebih terbuka, nyatanya sama aja, " kata Celsia lalu menghela nafas lelah.

"Cinta itu sakit ya? Semakin besar rasa cinta itu semakin besar juga rasa sakitnya,"

Suara nya bergetar, tak terasa air mata nya jatuh lagi. Entah mengapa air matanya sangat mudah tumpah jika bercerita tentang Alzeiron.

"Alzeiron memang bukan cinta pertama gue, tapi gue mencintai dia dengan teramat sangat. Gue bahagia ada disisi nya, bahagia bisa mencintai nya, tapi rasa sakit dari mencintainya, gue rasa gue mulai enggak sanggup. "

"Alzeiron itu baik, baik banget," ucap gadis itu pelan, senyumnya tipis namun mata tak bisa menyembunyikan luka. "Gue bangga karena pernah mencintai dia... tapi mencintai dia juga sakit banget. Rasanya selalu basah karena cuma gue yang mencintai."

Mencintai Alzeiron memang hal yang paling indah sekaligus menyakitkan baginya.

Hidupnya lebih berwarna saat Alzeiron ada, namun sepertinya warna darah lebih kental dari warna yang lain.

ALZEICIA(REVISI) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang