In a room full of people
My heart will always find you
My eyes won't ever leave you
The you... that shines in amour
—
Rumah bertembok putih berarsitektur neo-klasik yang sudah ada sejak awal abad 18 kala Indonesia masih disebut Hindia-Belanda itu memiliki pilar-pilar tinggi kokoh menyentuh langit-langit beratap melengkung membentuk perisai empire style. Di bagian italian garden yang mahsyur lampu dan lampion menerangi titik-titik gelap antara pohon-pohon cypress tinggi terpahat dan rindangnya liang liu dikelilingi harum tangerine dan lemon. Pohon angsana menguning di puncak. Beringin tidak pernah absen dipangkas rapi, beberapa dahannya yang kuat merendah hampir menyentuh tanah.
Peony, orchid, yang melambangkan kemakmuran, terangkai warna-warni, satu di antara bunga yang tumbuh di sana. Mengapung teratai bersama lotus pada kolam atas keanggunan. Wewangian tersulam. Pavilion-pavilion ada dekat rumah kaca tumbuhan.
Ketika pintu utama rumah selayaknya istana dibuka oleh penjaga berseragam hitam dari luar, semua mata kian dimanjakan. Sebab tidak sekedar pemandangan jalan, yang terhampar hijau jika terang, dari mobil yang melaju usai diperbolehkan melewati gerbang untuk sedikit menanjaki bukit yang mengelilingi bangunan—semua akan berkata; idaman, sebagai tempat bermain golf. Ada danau buatan tenang sebagai pelengkap melepas penat. Air terjun kecil. Semua-semuanya membuat terpukau.
Dari foyer, riuh redam lekas menyambut. Alunan G Minor para pemain cello dibawakan dalam orkestra. Percakapan, dentingan gelas samar, langkah-langkah kaki diayunkan penuh perhitungan. Di bawah lampu gantung kristal yang menyinari ruangan yang kental paduan budaya tionghoa dan eropa. Padding dinding terhias lukisan, sebagian besar hasil seniman legenda negeri tirai bambu. Guci-guci antik yang terpajang didapatkan antara dari leluhur atau pemberian. Hasil berburu tangan.
Sekarang, Erica baru menyadari benar efek yang ditimbulkan dari kejadian di Paris. Sengaja atau tidak, tetapi rasanya baru saat ini Erica dihadapkan banyak pasang mata. Bukan satu atau dua orang yang Erica anggap cukup dekat. Atau bisikan yang Erica tak kenal dan tak hiraukan di Marquette.
Di acara makan malam yang tidak jarang dihelat oleh Oma-nya, Evangeline Halim, atas perayaan yang menurutnya patut diberkati. Sesungguhnya adalah acara makan malam mengundang kerabat dekat. Namun ada perbedaan antara makan malam kerabat dekat dengan keluarga inti. Dan saat ini, terlalu banyak yang bisa dikategorikan sebagai kerabat dekat untuk menerima undangan jamuan.
Erica mengenal beberapa pasang kepala sebab sudah melihatnya sejak kecil. Wajah-wajah tidak familiar kemungkinan adalah bawaan dari tamu utama. Bisa menantu atau cucu. Keluarga, teman, atau pekerja.
Ada sentuhan halus di lengan atasnya yang terbuka.
Erica menoleh dalam gerak tenang. Menemukan senyum suaminya yang belum disurutkan sejak—mungkin, tadi pagi, di rumah kala mereka hendak memulai hari—menghipnotis. Kepala pria itu nampak dimajukan perlahan. Sapuan napasnya menerpa sebelum mulai bicara. Suara berat pria itu direndahkan. Erica baru menyadari dirinya menggenggam tangan suaminya teramat erat, kala pria itu meremas lembut jemarinya. "Semua orang melihat ke arah kamu saat ini karena kamu sangat memukau, Aeri." tuturnya, hanya mereka yang dengar. Di kurun waktu itu Erica terserap oleh tatapan teduhnya. Remasan di jarinya yang untuk... memberi kekuatan? Erica hanya diam. "Aku tidak terpesona sendiri." bisikan Ren seumpama rahasia.
Di belakang mereka, Ayana dan Genta, turut serta.
Ayana melihat keduanya yang berdiri bersisian; atasannya memakai white lace dress karya tangan tahun 50an Hubert de Givenchy, yang Ayana ketahui merupakan gaun peninggalan Po Po—Ibu dari Mama atasannya. Saat mereka baru melewati pintu utama, Ayana bagai bisa membayangkan jika posisinya bukan mengikuti di belakang, melainkan sebagai pihak yang melihat kedatangan mereka; atasannya akan terlihat seperti sosok Audrey Hepburn yang tengah disoroti lampu, diiringi riuh tepuk tangan hadirin yang menatap terpukau ke arahnya saat menerima persembahan Oscar. Rambutnya disanggul rendah, disemati hairpin. Pinggangnya yang kecil terlilit ikat pinggang tipis. Gaun tanpa lengan, bercorak bunga lembut jatuh sampai betis itu mengembang manis. Cocok dengan pembawaan atasannya yang penuh kelembutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nouveau Départ ✓
RomanceShe was a saint camellia before a sinful rose. She was a calm water before a burning fire. Ren Takahara bisa memiliki seluruh isi dunia di genggaman tangan, tetapi tidak dengan seorang wanita yang bersinggungan takdir secara tidak sengaja bersamanya...
