The Section: Present

8K 779 634
                                        

Where are you?
My whole life I've been searching for you

Jakarta, 26 Februari 2024

"Ko Cayden isn't in Singapore right now, Pa,"

Ren baru saja melewati pintu utama rumah orang tua istrinya setelah dibukakan seorang ART—yang cukup membuatnya menunggu—Ren yakin atas perintah wanita yang suaranya Ren tangkap sekelebat setibanya ia tidak jauh dari ruang keluarga—cici istrinya, Clarence Natadisastra.

Mengetahui kakak perempuan istrinya yang tengah di rumah, bahkan dari informasi Genta, Erica sempat menemui cicinya tadi pagi sebelum tahu-tahu datang membawa bekal makan siang ke kantor Ren dengan luar biasa—mengherankan—memukau—lalu disusul secara kebetulan oleh anak perempuan kerabat keluarga Ren. Tidak ada adegan mendramatisir selain sedikit ramai—setidaknya itu anggapan Ren atas kerjasama yang ia lakukan bersama Erica tanpa direncanakan terlebih dulu untuk membuat tokoh tak diundang mundur. Pertama di Yang Feng, kedua tadi.

Tahu yang menanti. Tidak sedikitpun langkah Ren memelan, apalagi ragu. Dirinya tetap melaju pasti. Masih dalam setelan kerja; kemeja putih tanpa dasi, black tailored suit, loafers.

Selangsung dirinya balik dari kantor. Apalagi kalau bukan untuk menjemput istri dan anaknya.

"Oh, is he still in Argentina for his polo club?"

Terdengar balasan dari papa mertuanya. Ren belum menemukan suara Erica dan Kai di sana.

Sesaat masih berjalan di lorong berlangit-langit tinggi dari foyer ke ruang utama, diterangi pendar menguning yang khas. Harum mandarin oriental dan guci-guci setinggi dengkul ukiran rumit di tempatkan di kanan kiri jalan, bersama koleksi lukisan yang keluarga ini lestarikan.

"No, he's babysitting Kath in Monaco to catch on to her dreamy Ferrari team." Terekam nada malas.

"Are they going to watch F1?"

"Hu'um. Kath, Kane, Ko Cayden." Sahutan antusias papa mertuanya, dibalas Clarence seadanya, sebelum dilanjutkan."I don't know if Al would tag along with them after his business in Brisbane. He has been extremely busy with his father's inheritance these past few years."

"Cayden should do the same for our ground, leh?" Papa mertuanya menanggapi."Papa should go to Monaco too." Tidak terdengar balasan Clarence dalam beberapa detik. Papa mertuanya melanjutkan—bercanda. "What, Cla? Papa wants to see Vettel... " Terjeda sesaat. "Ah, ya him."

"Pa? He is already retired."

"Oh? Papa knows how good Fangio is at races."

"And he's dead."

"Okay..." Papa mertuanya menimpali dengan kekehan melucu, khas dirinya sekali. "So, who's the god of races now? Papa heard on one occasion, Is it Hamilton or Verstappen?" Papa mertuanya kali ini menyebutkan. "Leclerc—"

Ren membelok ke ruang keluarga.

"—Here's the true God of races..."

Nouveau Départ ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang