Chapter 32

4.8K 479 461
                                        

And suddenly, you're there,
looking like an apparition.

Then, in the blink of silence,
my life has been turned into a terror.

Act I.I: Singapura, 15 September 2019

"Koko panggilkan dokter ke rumah ya? Wajah kamu semakin pucat."

Erica menyentuh lengan Cayden yang terbalut suit coklat kayu pesanan dari Gieves & Hawkes dan menggeleng lemah. Membuat kakak sepupunya yang merangkul pinggang Erica agar tidak terhuyung, menghela napas khawatir.

"Pusing?" tanya Cayden perhatian, sambil menyentuhkan lengan besarnya ke pipi Erica. Merasakan sedikit lebih hangat dari suhu normal. Tangannya berpindah ke kedua bawah leher, di antara cheongsam yang Erica pakai, dan kening. Tatapan Cayden serius. "Kok bisa tiba-tiba sakit, Ca?" Pertanyaan pria itu dijawab sendiri empunya. "Hm, kamu dari kecil memang sering sakit." Ekspresi Cayden kali ini meledek pada adik sepupunya yang paling kalem di keluarga.

"Ko..." erang Erica memprotes.

Wajah Erica ditekuk. Cayden tersenyum jahil.

"Koko tidak salah, 'kan?" Mengusap punggung Erica sambil berjalan ke area tunggu.

Memutuskan tidak mengikuti jamuan utama karena kondisi Erica. Pantas adik sepupunya sedari tadi lebih banyak diam—walau biasanya juga tidak banyak bicara. "Semuanya selalu khawatir kalau Eca sudah sakit." beritahu Cayden, yang paling suka meledek adik-adik sepupunya. Pria itu juga, kakak sepupu terloyal. "Makanya, makan yang benar, Ca. Dan jangan main terus sama Jevan."

"Koko..." Erica tidak sadar mengeluarkan rengekan manja pelan. Wajah tiba-tiba memucatnya semakin cemberut, bibirnya mencebik. Cayden terkekeh geli, dengan jahil memindahkan tangan yang ada di pinggang Erica jadi menarik kepala adik sepupunya, ditekan bersandar di pundaknya yang sontak membuat Erica memberontak kecil. "Ko...!"

Erica meminta dilepaskan dari kepitan, tapi Cayden sesaat menahan dengan tawa berat yang terdengar riuh. "Malu kalau ada yang lihat, Koko!" Baru akhirnya membebaskan Erica kala dorongannya melemah, Cayden kembali merangkul pinggangnya. Senyumnya, terpulas bahagia sekali di bibir penuhnya.

Bahagia mengisengi adik sepupunya.

Melirik tajam kakak sepupunya, Erica merapikan rambut.

"To-siā—terima kasih, Uncle Guo." ucap Cayden, pada sopir keluarga yang membukakan pintu penumpang mercedes s-class yang dikendarai, sesaat mereka tiba di area drop off yang diatur keamanan istana.

Uncle Guo mengangguk kecil dan tersenyum tipis, bertanya. "What happened to Missy?"

"Just not feeling well, Uncle." Melirik adik sepupunya, Cayden mengambil peran menjawab, sedang Erica hanya melempar tatapan masih jengkelnya.

"Oh..." Uncle Guo mengangguk-angguk paham.

Cayden yang tengah merapikan suit sebelum masuk ke mobil, tersenyum terakhir kali, kala sopir keluarga yang sudah bersamanya sejak kecil—bahkan sebelum Cayden lahir itu, langsung buru-buru ke balik kemudi.

"Sorry ya, Ko," seloroh Erica saat sudah di mobil. "Koko jadi ikut pulang duluan sama Eca. Nggak ikut jamuan makan di istana. Padahal Koko pasti ada yang ingin dilakukan... Eca udah bilang nggak apa-apa kalau Eca pulang duluan atau nemenin Koko di acara... Eca masih bisa berdiri loh."

Nouveau Départ ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang