Chapter 38

5.9K 511 166
                                        

I've never felt loved
The purest form of love humankind can ever have

Now, I'm on my expeditions to search for the meaning of love
The meaning of life
The meaning of myself within this life

From the start to the end of the world

It's 9.600 miles from you
And I'm thinking of the center of my world

Salju berangsur-angsur mencair menuju akhir bulan Maret, diganti mekarnya bunga azalea, dogwood, magnolia, dan bunga-bunga lain yang mengelilinginya saat ini secara penuh warna.

Tarikan napas Ren dalam sambil memejamkan mata, menyukai aroma alam yang menggelitik indera penciumannya begitu halus. Duduk di batang besar pohon oak, dikelilingi maple, di tepian anak sungai yang membentang dan bermuara dari Mulberry River yang membentuk cabang-cabang air terjun. Dari intersection ke key falls yang beraliran cukup sedang, berada di jantung Ozark National Forest, Arkansas.

Ren mengambil sesuatu dari dalam ransel hiking-nya. Bukan ponsel atau iPad yang senantiasa akan ia cek untuk update apapun yang menjadi tanggung jawabnya.

Seperti setelan suit dan kemeja khususnya yang telah ia tanggalkan bersama rambut yang senantiasa ditata. Ren telah mematikan ponsel sejak tiba dan bertemu rombongan tur-nya selama ia menjelajahi jantung Arkansas.

Lebih dahulu memberitahu istrinya melalui pesan yang sangat jarang mereka lakukan. Ren mengirimkan gambar dirinya—untuk ini Kai yang meminta, dan Ren yang sebenarnya tidak suka bagaimana ia terlihat, foto sangat bukan dirinya—bahwa ia telah sampai pada tujuan pertamanya.

Tahu bahwa balasan yang pertama masuk dari ponsel istrinya, adalah dari anak mereka; Papa keren, cepat pulang ya bawa oleh-oleh.

Ren tersenyum haru. Pesan lain menyusul; Semoga kamu tidak tersesat terlalu jauh.

Khas istrinya. Tatapan longing itu selalu ada di sana.

Bahkan hanya untuk sekadar pesan.

Pun, pemandangan ilusi yang tersaji di hadapannya ketika Ren menarik jurnalnya.

Masih bukan gaun putih murni, tapi gaun merah menyala yang akan sesuai dengan kejadian berapi-api di Paris—di ujung pernikahan mereka saat ini yang akan kandas—Erica di bayangannya yang bagaikan mawar merah berduri.

Indah, tapi mencengkeram.

Gaun yang terlalu salah tempat digunakan untuk bermain air pada batuan-batuan sungai yang dangkal. Penampakan ujung gaun yang basah terlalu nyata. Selain, tatapannya. Rambut berkilauannya di bawah silau. Pun kulitnya yang bergelimang. Tatapan semu ekspresi dari paras menawan yang terlalu Ren patri di kepalanya.

Kepala Ren merunduk. Tanpa ketergesaan dan kecemasan untuk menghiraukan pemandangan tersebut. Ren pada dasarnya selalu menyukai hal yang seolah-olah penemannya. Membayangkan Erica selalu bersamanya adalah hal yang ia patri sejak bertemu wanita itu ,dan tahu mereka akan sulit bersama. Tapi, Ren untuk kali ini membuka jurnalnya. Bagai mengacuhkan apapun yang tersaji. Mencontoh istrinya, Ren menggoreskan gambar; lanskap alam yang tersaji, Erica sebagai poros; walau tidak sesempurna jalinan tangan lentik istrinya, Ren juga menuangkan kata-kata.

Nouveau Départ ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang