Chapter 36

7.4K 581 437
                                        

What is love?

"Kamu beneran mau cerai dari suami kamu, Ca?"

Mary Jane flats bertali strap hitam dengan aksen mengkilap yang Erica kenakan, menapak di bumi kala pertanyaan dilempar Jevan yang ikut datang bersamanya secara terburu-buru ke Heavenshine atas panggilan orang ibu mertuanya. Erica mengusap halus gelang giok putih di lingkaran tangan kanan. Lirikannya turun, melirik cincin yang akhirnya tetap ia pakai. Erica mengalihkan atensi cepat, tak kentara, tak mau terlihat gundah, dari jari manis tangan kanan ke pergelangan tangan kirinya yang dilingkari Cartier tank louis seolah mengecek waktu saat ini.

Hari hampir gelap.

Akhir-akhir ini, Erica sering memakai atribut apapun yang tersemat giok. Termasuk hairpin ukiram bunga krisan yang di tengahnya terdapat batu giok hijau kecil bundar. Menyangga rambut setengah diikatnya seperti tadi pagi. Harapannya, mencegah dari segala energi jahat—Erica tidak mau mengatakan gamblang, tapi hal itu jelas dari yang terjadi belakangan ini bahwa takdir buruk mengikutinya.

Jadi, hanya pakaian saja yang berubah.

Apa Erica memandangi lama wardrobe-nya tadi pagi, sampai akhirnya mengganti pakaian karena perkataan suaminya? Erica lebih baik berkata dirinya yang akan bertemu klien tidak mungkin berpenampilan bak hendak berpesta liar.

Manik Jevan yang menatap Erica dalam posisi sama-sama berdiri berhadap-hadapan di depan ruang kesehatan yang di dalamnya ada anaknya—Kai—yang menjadi alasan Erica yang hendak makan malam bersama kliennya sehabis meeting dan tak sengaja bertemu Jevan di restoran langganan keluarga mereka harus terburu-buru kembali ke yayasan, berpendar. Senyum Jevan yang terbit di bibirnya setelah ekspresi pria itu yang kebanyakan sendu akhir-akhir ini bagai menghidupkan jiwanya yang entah sadar atau memiliki maksud apa— "Kamu masih inget tawaran aku waktu kita masih kuliah nggak Ca?"

Sontak, kening Erica menyatu.

Tapi sesungguhnya Erica tidak ingin terlalu menanggapi rasa heran akan pertanyaan itu.

Firasatnya tidak enak...

Kepalanya sudah terlalu banyak hal yang harus dipikirkan; suaminya, rumah tangganya, keluarga besarnya, dan keluarga besar suaminya, sekarang anaknya—seharusnya tak pernah tertinggal ingatan dan pertimbangan akan anaknya—lalu anak di kandungannya. Kai nampaknya sangat terpengaruh oleh kelakuan kedua orang tuanya.

Apa... janin di kandungan Erica juga?

Tangan Erica begitu saja menyentuh, mengelus ringan perutnya yang masih kecil dalam gerak melindungi. Tidak memusingkan lirikan penasaran Jevan.

Pesan dari orang ibu mertuanya jelas bukan hal normal yang bisa membuat Erica tetap santai.

Lalu menemukan pandangan menusuk Aoi Ishikawa yang terduduk kalem di bangku samping ranjang anaknya yang terlelap kala Erica masuk ke dalam ruangan dan ternyata sudah berdiri suaminya dengan orang-orang pria itu yang nampaknya juga terburu—Erica tahu jantungnya yang ikut berjalan cepat diiringi pengingat dari Ayana bahwa ia sedang mengandung sehingga harus hati-hati, sangat dipacu. Erica merasa bersalah, sudah pasti.

Pada anaknya yang terkena imbas.

Erica keluar ruangan sebentar saat suaminya akan bicara dengan okaasan pria itu. Erica memberi mereka ruang. Pun Kai yang terlihat sangat kelelahan dari cara tidur anaknya yang khas; pipi berisinya tertekan di satu sisi bantal dari tidurnya yang miring ke samping kanan sambil memeluk boneka gajah yang lagi suka dibawanya kemana-mana menggantikan boneka-boneka sebelumnya, termasuk panda dan anak singa, bibir kecil merahnya terbuka sedikit bersama matanya, masih larut dalam lelap.

Nouveau Départ ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang