Chapter 29

6.5K 688 663
                                        

A not-so-postcard from Kyoto

Kyoto, 3 Maret 2024

Sebuah transisi yang bertolak belakang saat beberapa menit yang lalu Erica ada di posisi di mana tubuhnya terbaring telentang di atas ranjang yang bukan lagi futon langsung dari tatami, dengan kimono merah muda sakuranya teracak tanpa terlepas. Bagian pinggang masih berkait. Kain yang menutupi dada sedikit tersibak, mengintipkan kulit di baliknya. Kaki Erica diluruskan setelah menekuk tanpa sadar, menampakkan kulit putihnya yang dibelai lambat-lambat dengan gerakan pemujaan.

Kancing kemeja putih Ren juga tidak lagi sempurna tersusun. Ikat pinggangnya masih di tempat semestinya, hanya tidak dikaitkan. Seperti risleting yang habis diturunkan dan pengait yang dilepas. "Kamu akan melakukannya dengan siapa jika bukan aku?" Suara Ren tenang dan terdengar mendamaikan. Tidak dengan maksud pertanyaan dinginnya. Percakapan normal mereka kembali dimulai. Sudah lama sejak terakhir kali Ren menikmati Opus X bahkan setelah bersenggama.

Pening di kepalanya, tapi Ren tidak mungkin melakukannya selama bersama Erica. Selain karena wanita itu akan mengerutkan kening oleh nyengat tembakau sedari pertama kali Ren mendapatinya di pertemuan awal mereka, Erica juga sedang mengandung anak kedua mereka. Bersama Erica, banyak hal yang berubah. Bahkan sekedar mereka tidak bisa menyatu karena Ren khawatir menyakiti istri dan anaknya di trimester awal yang teramat rentan dari informasi dokter.

"Bukan urusanmu untuk tahu." balas Erica tidak kalah tenang. Tatapannya menajam dari sayu, dadanya masih naik turun secara kuat-kuat meraup oksigen. Ren dan dirinya hanya memakai mulut dan tangan, tapi mereka sudah kurang lebih empat tahun bersama untuk paham cara saling memuaskan di waktu-waktu terdesak.

"Aeri..." Tangan Ren di lipatan paha dalam Erica yang secara naluriah sedikit merenggangkan kaki.

"Ini peringatan terakhir," Suara Ren berbisik bak helaan napas. "Jangan lagi melenceng dari kerja sama kita. Jangan lagi mengkhianati kesepakatan. Sedari awal... kamu sudah berkali-kali membuatku harus menahan keterkejutan. Belum puas menusukku dari belakang?" Ren mencengkeram lembut paha dalam Erica hingga dirinya menarik dan menahan napas samar.

Langit-langit tinggi. Kamar ini di didominasi ornamen kayu dan cahaya kekuningan. Jendela yang tertutup rapat menutupi putih mencair salju yang sudah tak marak berserakan, membuat suasana yang nyaman oleh penghangat, lebih terasa dingin. Hening yang terasa berbeda.

"Kamu yang memulainya." Erica membalas masih dengan nada tenang, ikut berbisik. Kali ini menoleh pada Ren. Mata tegas yang diatur lugu itu bersandingan dengan hunusan tajam Ren.

"Aku sudah minta maaf berapa kali?"

"Minta maaf?" Mata Erica berkedip pelan, manis dan cantik, tapi beracun. Ren mengusap paha dalamnya dekat singgasananya bukanlah hal apa-apa. "Aku sudah memafkanmu, Papa. Sudah."

"Erica!"

"Apa? Mau memarahiku lagi?" Erica menanggapi suara meninggi Ren yang masih terdengar cukup tertata dengan santai. Mata Ren berkilat, senyum di ujung bibirnya saat sadar dirinya tersulut, Erica tanggapi dengan senyum kecil yang nampak bagai bentuk kesopanan. Kesopanan yang bagaimana jika posisi mereka sekarang seperti ini? Penampilan keduanya. "Membuatku teringat pertengkaran-pertengkaran kita." Dada Erica sesungguhnya mengetat oleh ingatan. Erica tidak ingin mengatakan dirinya takut. Tapi siapa yang tidak takut saat diri terjatuh begitu dalam? Erica memandang wajah rupawan Ren. Mengangkat tangan lentiknya, menyentuh rahang suaminya.

Nouveau Départ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang