Two are better than one... if either of them falls down, one can help the other up
Ecclesiastes 4:9-10
—
Okaasan tidak mengatakan apapun sesaat mereka beralih dari tempat yang sepantasnya megah oleh penyatuan dua keluarga, tapi berakhir sebagai latar perkara usai Ren diadili di hadapan yang mereka tahu sebagian besar adalah tamu penting kenegaraan, selain lingkaran kecil orang kaya lama yang berikatan langsung dengan tuan rumah acara, Yanai. Wanita diliputi amarah dengan aura kepercayaan diri tinggi dalam gaun hitam kemerahan yang datang bersama pihak yang lebih nampak bingung dan cemas. Sebab semudah mereka masuk tanpa halangan, melewati pengamanan berkat Ren, yang membantu diam-diam, telah membuat penasaran semua pihak, sebagai pengalih pusat perhatian, termasuk Bramantya Natadisastra–orang tua wanita itu—yang hadir lebih dulu atas undangan Ren, yang sesungguhnya akan terasa tidak bertujuan. Jika bukan demi niat penebusan.
Tubuh Ren yang sigap berdiri seolah-olah diiringi denting halus Nocturne, bagai menyambut. Tidak bergeming, dan sikapnya tidak berkurang tenang berhadapan dengan perwakilan Natadisastra.
Ren menerima seluruh hardikan sebagai karma.
Bramantya Natadisatra bukan hanya tidak berkenan atas informasi yang didapat begitu tiba-tiba. Kegamangan pria itu yang seolah hilang arah membuatnya mengajak keluarganya untuk meninggalkan kejadian tanpa kata. Meredam makian, memutus tatapan menghujam anak wanita pertamanya. Pria paruh baya itu tak sedikitpun melihat ke arah Ren yang menatapnya tak terputus. Koto mengetuk pelan di kepala Ren yang menyatukan kedua tangan sebagai bentuk tata krama. Bersanding dengan ketenangan Ryo Takahara dan Aoi Ishikawa dalam paras keras tidak berkurang mereka seperti sehari-hari.
Tidak ada tanggapan untuk rasa bingung sang tuan rumah. Pun saat mendapati respon diam kedua orang tuanya, tak ada lagi yang melempar tanya. Otousan dan okaasan bangkit, berjalan pergi tanpa sedikitpun dagu mereka diturunkan.
Sesigap seolah seluruhnya sudah direncanakan dan diperhitungkan, toyota century menyambut di pelataran rumah semi tradisional keturunan samurai ketika langkah mereka yang dipandu pelayan pribadi Ryo Takahara dan Aoi Ishikawa keluar ruangan. Ren mengambil waktu bicara sebelum kedua orang tuanya meninggalkan tempat, bersama obasan dan ojisannya yang turut serta bersama pelayan masing-masing mereka di sana, bagai tidak baru saja terjadi kegemparan yang diprakarsai olehnya, sebab sikap keluarganya tidak sedikitpun diliputi kepanikan.
"Saya akan bertamu ke kediaman Natadisastra. Jika otousan dan okaasan berkenan turut serta."
Otousan dalam tuxedo hitam formalnya tidak menoleh. Hanya okaasan yang memakai kimono motif wisteria putih keunguan lembut, sama-sama buatan khusus tangan dari pengrajin pakaian kekaisaran, yang melakukan secara tipis.
Sulit mengartikan maksud gurat hening tersebut. Bahkan kekecewaan sekalipun. Seluruhnya hanya kedataran. Dan Ren tidak merasa asing oleh yang ia hadapi saat ini. Alunan napasnya tetap teratur.
Tidak ada balasan dan tanpa mengacuhkan, okaasan mengembalikan pandangan ke depan, sedang otousan tetap tidak menoleh atas ungkapannya. Ren tanpa terputus menatap mereka yang begitu saja akan masuk ke mobil.
"Ojiichan telah memberikan persetujuan."
Pemberitahuan Ren selanjutnya menghentikkan gerakan keluarganya. Sikap Ren tidak gentar dan kedua orang tuanya tetap tak berbalik badan. Dengusan tidak terlalu nyata dilakukan Ryo Takahara. Langkahnya hanya sesaat berhenti, sebelum dilanjutkan begitu tegas. Keluarganya tetap bersikap bahwa yang sebelum ini terjadi hanya debu yang mudah dihempas. Hanya desas-desus pelan yang sulit ditangkap pendengaran dengan benar. Ren sewajarnya tak ada perbedaan dari cara otousannya yang berdiri dengan punggung lurus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nouveau Départ ✓
RomanceShe was a saint camellia before a sinful rose. She was a calm water before a burning fire. Ren Takahara bisa memiliki seluruh isi dunia di genggaman tangan, tetapi tidak dengan seorang wanita yang bersinggungan takdir secara tidak sengaja bersamanya...
