Dearest, a woman who can stand tall and a man who can mourn
—
Act I-II.III: 2019-2024
Sudah daun ke tujuh puluh empat yang ikut jatuh, bergabung bersama kumpulan daun keemasan yang berserakan.
Jika Erica berhenti di hitungannya yang ke enam puluh enam, liù liù dà shùn mengungkapkan bahwa segala hal di hidupnya akan berjalan lancar. Tapi Erica memilih berhenti pada pepatah qī shí sì yang kontradiktif mengartikan bahwa takdir akan membawanya menuju kematian.
Seperti pemandangan yang tersaji untuknya akhir-akhir ini, seharusnya sangat menakjubkan.
Mengarah ke selatan, seolah yin yang ikut mengambil alih keputusan selain kaso yang menggantikan feng shui sebagai pedoman menentukan letak. Engawa—veranda kayu—tempat Erica duduk setelah shoji digeser dengan lembut, menghamparkan kebun Jepang yang tengah memasuki musim keemasan. Daun bertransformasi menjadi kuning kemerahan, bergradasi oranye, sedang bunga yang saatnya hidup, bermekaran, membuat mereka seolah menyala bersama-sama secara elok, misterius.
Sangat tenang di sana.
Kemanapun Erica menaruh matanya, bagai hamparan sebenar-benarnya adalah lukisan.
Tidak ada hal lain, selain heningnya penampakan danau membelakangi gunung dan ikan koi yang mendiami kolam di bawah jembatan kayu, yang mengarah ke pulau buatan. Didikelilingi pohon maple dan ginkgo yang akan hidup di musim gugur, sedang sakura di musim semi.
Pertanyaan terbesit, apa merah muda kelopak sakura bisa membuat suasana yang terhampar lebih hidup? Sebab kini... hampa terasa kuat.
Landscape lengkungan pegunungan yang mengelilingi bangunan tanpa terputus, memang bagaikan memeluk. Tapi dengan cara paling membuat seseorang sesak; bagai terpenjara.
Lonceng kuil yang dipukul, sekali lagi terdengar, mendengungkan gong panjang dari kejauhan.
Semua kesalahan memang akan mendatangkan akibat. Sangkar mengagumkan ini, yang lambat laun terasa familiar, saat waktu banyak berselang, tidak membuat Erica mengeluarkan protesan.
Tidak ada prosesi tingjing, dilanjutkan sangjit. Tidak ada cheongsam dan changshan merah bordiran keemasan phoenix. Hidangan 12 menu sebagai jamuan genap yang menghantarkan keberuntungan, pun prosesi penyajian teh dilakukan berbeda. Erica tahu, karena dirinya, keluarganya tidak bisa melakukan banyak tentangan, yang hendaknya dilayangkan, saat Ren akhirnya datang ke rumahnya. Sendiri.
Duduk bersimpuh, dengan punggungnya yang memakai suit putih tulang, bagai tidak pernah tidak tegak, di teras rumahnya. Seolah pria itu sering melakukannya hingga sangat cakap.
Oma tidak akan begitu tinggi hati, berbeda dengan opa, untuk adegan itu berlangsung lama. Sebab menit berselang, Ren diminta masuk ke ruang keluarga, di mana keluarga intinya telah menunggu.
Melanjutkan duduk bersimpuh pria itu di atas karpet. Di tengah mereka yang menyaksikan.
Erica memakai cheongsam warna lembut merah muda dari anjuran oma, dan hanya diam saat opa bercetus tajam. "Apa tujuanmu ke sini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Nouveau Départ ✓
RomansaShe was a saint camellia before a sinful rose. She was a calm water before a burning fire. Ren Takahara bisa memiliki seluruh isi dunia di genggaman tangan, tetapi tidak dengan seorang wanita yang bersinggungan takdir secara tidak sengaja bersamanya...
