Chapter 28

8.2K 762 658
                                        

It is what it is the community

Jakarta - Monaco - Kyoto

Kue lapis ditata di atas ornamen piring Meissen blue onion. Tiongkok oleh Ming menghasilkan guci yang terkenal akan paduan porselen putih dan biru. Mempengaruhi setiap tarikan garis halus antara ukiran bunga-bunga; peony, aster, dan lotus. Terlihat lugu dan sangat halus. Seperti dandelion tipis yang mudah tertiup, rapuh; tapi anggapan beberapa kepercayaan bahwa meniup helaiannya bisa mewujudkan harapan; membuat diam-diam sebenarnya memiliki kekuatan.

Erica mengusap goresan ukirannya sekilas saat mengambil satu potong kue lapis. Mengangkat pandangan, tapi bukan tertuju pada sosok yang sedang bicara padanya. Alunan chopin yang dimainkan terdengar menggugah, meski sesekali diketuk asal. Anak dan suaminya sedang di depan piano yang ditempatkan di ruang santai keluarga.

"Kamu nggak dengerin Cici."

Pandangan Erica masih terarah di titik yang sama. Memperluas atensinya, mendapati orang tuanya—papa menyaksikan tayangan ulang dari yang Erica tahu adalah balapan mobil. Jika tidak salah, sepupunya juga gemari; formula one? Mama di sebelahnya tengah membaca majalah. Tidak jauh di sofa malas nyaman putih tulang, terdapat suami cicinya yang masih fokus dengan kacamata baca dan iPad di genggaman tangan.

"Eca dengar." Erica menoleh pada cicinya. Sedari pagi sudah dinasihati habis-habisan yang lebih seperti interogasi; acara makan malam oma hari Senin kemarin, Marrakesh, pesan-pesan tak terbalas, saran dan nasihat darinya. Cicinya pasti sadar bahwa yang ia pergoki saat Erica dan Ren berduaan di salah satu lorong rumah yang mereka ketahui jarang dilewati bukan sekedar mengobrol. "Eca menerima nasihat dari cici."

"Tapi nggak dijalankan."

Erica tidak mengelak, dirinya menikmati gigitan kue lapis yang lumer di mulut. Manis yang pas.

"Rasanya nggak benar jika Eca lelang tanpa bersalah cincin temurun keluarga suami Eca."

"Kamu tahu bukan itu inti dari semua ini," balas Clarence sengit. "Tapi, kenapa kamu harus sangat memikirkannya? Mereka saja nggak memikirkan kamu." Clarence menyudutkan. Menahan di ujung lidah topik terkait studio seni adiknya.

Jarinya yang tersisa remahan, Erica usap dengan serbet sampai bersih. Pun bibirnya, dilakukan pelan-pelan. Mereka berdua duduk di bangku bersebelahan yang dibatasi meja bundar dekat sebuah bar kecil, cukup berjarak; ibu mertuanya mungkin akan mulai memikirkannya. Mungkin...

Erica tidak membalas argumen cicinya.

Sekali lagi dinasehati setelah helaan napas kasar dikeluarkan Ci Clarence, Erica juga kembali melempar pandangan pada suami dan anaknya yang saling tersenyum; Kai duduk di sebelah papanya, tubuh mungilnya terlihat kontras dengan Ren dan entah bagaimana, pemandangan itu menghangatkan hati Erica. Senyum tertarik tipis sendirinya. Kapan terakhir kali Erica menemani anak dan suaminya memainkan tuts-tuts piano, dari indah menjadi penuh tawa?

"Kaiii, Papa!" pekik Kai dari jauh. "Chopin! Papa likes Chopin. Bach... Rachmaninoff... Tchaikovsky!" dikte Kai terdengar kesusahan.

"Cici sudah bilang, perceraian bukan hal tabu," Ci Clarence belum selesai. Suaranya yang tegas cukup mengartikan bahwa ia tidak pernah ragu di ruang rapat."Ini sudah tahun keempat dan kalian masih bersama, cici rasa itu sangat nggak wajar."

Nouveau Départ ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang