We Are In Spring

7.8K 418 203
                                        

And suddenly, they are home.
As what is meant for them will find them,
even in silence.

Rasa nyaman membuat senyum tertarik halus, meski mata masih dalam pejaman. Seperti tangan yang kerasan mengelus kelembutan, menjadi menarik hati-hati, harum yang mendamaikan hatinya, untuk kian merapat padanya atas dekapan hangat. Erica menyematkan kecupan-kecupan pelan di surai halus anaknya. Kepala Kai bersandar di dadanya dan anaknya langsung menyamankan posisi lelap dengan gumaman-gumaman samar acak menggemaskan. Senyum Erica semakin terulas. Tangannya terlalu kerasan untuk dihentikkan. Menyisir rambut Kai. Mengelus penuh rasa sayang. Kecupan di puncak kepala anaknya disisipi bisikan doa di hati.

Saat mata akhirnya dibuka perlahan, menyesuaikan dengan temaram. Masih gelap dan sunyi, hanya samar-samar suara rintikan air dan serangga di kejauhan alam, saat fajar bahkan masih lama menyingsing. Perasaan hangat kian memenuhi dada saat pemandangan wajah damai suaminya yang lelap, menyambut di hadapannya.

Mereka tidur bertiga. Mengenakan piyama sutra lengan dan celana panjang yang serasi sebagai keluarga. Dengan Kai di tengah-tengah, bukan sebagai penengah apalagi pembatas, tapi penyambung kedua orang tuanya. Tangan Erica masih mengelus, menghantarkan kedamaian anaknya. Sesaat tangannya diangkat, berganti mengelus wajah suaminya. Mengusap rahang tegasnya dengan kehati-hatian. Lantas saat sambutan hangat ia dapatkan dari kedua kelopak mata indah yang terbuka di hadapannya secara perlahan, Erica telah memasang senyum paling hangat untuk suaminya. Seperti senyum suaminya yang selalu terekam meneduhkan, menampakkan lesung-lesung di pipinya, terlebih jika dibalut ketulusan seperti sekarang.

Jantung Erica yang berdesir pelan adalah respon yang normal. Saat pipinya mulai terasa pegal, sebab tanpa sadar, senyumnya begitu saja kian mengembang. Matanya memercik terpesona, serasi dengan percikan penuh makna suaminya yang sepantasnya masih berwajah bantal, tapi memikat. Ren mengecup lembut-lembut jemari tangan kanan Erica yang disisipi cincin yang pria itu sematkan semalam. "Good morning... now we have the glorious, ethereal Javanese Hime, in this sacred place... you are always, mesmerizing, Mon Amour." Melakukan sambil berbisik sayup-sayup dengan suara lembut dan berat. Belum berhenti menabuhkan kecupan di jemari dan punggung tangan Erica, hingga dirinya kegelian.

Geli yang disebabkan rambatan di pipi, mekar oleh rona kemerahan.

"Beautiful." kata Ren menutup sambutan bersama kerlingan—tidak pernah tertinggal, sampai Erica sangat hafal oleh keluwesan kata-kata tinggi, manisnya—saat menyanjung.

Paras pria itu terlalu bergelimang, meski sinar begitu minim saat hanya tersisa lembutnya lampu tidur. Suaminya menggeser tubuh lebih rapat ke arahnya dan anak mereka. Kerling manik pria itu terus mengunci matanya tanpa celah, hingga desiran tak berhenti, bersama tarikan napas yang kelat hanya dari sebuah tatapan dalam—Ren mencium lama puncak kepala Kai. Memutus pandangan mereka. Mata Ren nampak terpejam, terlihat penuh penghayatan. Erica menggerakan tangan yang masih di genggaman suaminya dengan membalik memberi usapan dengan jemari.

"Menurutmu, anak kita akan memilih kewarganegaraan apa setelah dirinya menginjak umur delapan belas tahun?" Ren memulai diskusi acak di hari terlalu dini, dengan sedikit mengangkat kepala, untuk menghantarkan senyuman untuknya, sebelum kembali mengecup rambut Kai yang harumnya teramat mereka berdua kenal.

Tautan jemari mereka masih saling memainkan. "Sulit menebak. Anak kita terlihat nyaman di manapun," jawab Erica santai, ikut mencium sekilas kepala Kai. Ren tertawa kecil, membenarkan. Bahkan saat mereka tinggal di Tokyo, Kyoto sekalipun anaknya bisa membaur dengan sekitar—bahkan lingkungan yang malah beradaptasi dengan kehangatannya. "Aku akan menyerahkan keputusan itu pada anak kita, dan pasti papa juga akan melakukan hal yang sama." Ren mengangguk tipis. "Tapi jika harus memberi pendapat sebagai orang tua, aku akan memberikan yang paling rasional."

Nouveau Départ ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang