She was a saint camellia before a sinful rose.
She was a calm water before a burning fire.
Ren Takahara bisa memiliki seluruh isi dunia di genggaman tangan, tetapi tidak dengan seorang wanita yang bersinggungan takdir secara tidak sengaja bersamanya...
Fate is an indescribably confusing miracle, and those who are not lovers could end up as strangers.
—
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rolls-Royce Corniche Convertible warna coklat gelap terparkir di hadapan Erica yang hampir memicingkan mata. Mobil lain yang akan membuat papa berbinar antusias atas koleksi-koleksi yang selalu menarik perhatiannya. Seri Corniche yang diproduksi sejak tahun 1971 dan menjadi kesukaan Sultan Brunei dan keluarga kerjaan Arab Saudi ini adalah salah satunya. Apalagi dari yang Erica lihat, mobil yang berdiam gagah di lobi villa pribadi yang ia tempati milik pria Jepang di dekatnya adalah hasil modifikasi yang dirancang khusus untuknya.
Cukup tahu, Erica tidak mengeluarkan komentar atas situasi lain ini di saat Ren menerima kunci dari pelayan yang senantiasa berada di sisinya. Erica hanya meredam heran kala mendapati Ren begitu luwes menarik lembut tas jinjing musim panas dan topi pantai lebarnya dari tangan Erica ke genggaman pria itu yang masih bicara dengan pelayan pria Jepang yang tak Erica pahami. Mata Erica tertuju pada lengan kekar Ren, tidak jadi berinisiatif mengambil kembali tas tangannya.
"Sudah siap?" Ren menoleh, menatap lembut Erica yang mengangguk tipis sebagai balasan.
Mendapati manik indah Erica yang menatap lekat dirinya dengan binar penasaran dan masih tersisipi sangsi, Ren hampir mengalunkan tawa renyah di balik senyumnya yang saat ini terlalu lepas dilakukan, tidak seperti biasanya, hingga rahang dan pipinya terasa pegal. Ren seharusnya mulai menata batasan yang dapat ia lakukan untuk tidak lebih jauh melibatkan perasaan yang tak pernah ia perhitungkan akan ia alami, tetapi tangannya hanya teramat gatal untuk tidak langsung mengelus sisi wajah manis Erica saat ini. Dari raut Erica yang tertegun, maniknya terlihat ditahan untuk tidak melebar. Ren lagi-lagi hampir melepas tawa atas senyum lebarnya.
Seharusnya bukan lagi pertama kali sejak kemarin, tapi Erica masih belum terbiasa atas afeksi yang ia terima begitu tiba-tiba ini. Bahkan atas kecupan singkat di pelipisnya yang dilakukan Ren dengan gerak yang Erica dapati diliputi gemas sebelum memeluk pinggangnya secara licin tetapi kokoh untuk memandu jalannya masuk ke mobil yang teramat mengundang mata.
Tanpa celah, Ren membukakan pintu untuk Erica duduk di sebelah kemudi. Menampakkan senyum hangat pria itu yang maskulin. Erica refleks memundurkan tubuh kala Ren kali ini mengusap puncak kepalanya. Erica sampai merasa pria itu mulai sadar perbedaan umur mereka dan menganggap Erica saat ini seperti anak kecil.
Tidak tahu, Erica hanya menebak. Sebab pembawaan Ren saat ini seperti kokonya.
"Have you been to the Côte d'Azur?" Ren bertanya santai pada Erica kala dirinya sudah duduk di balik kemudi. Meletakkan tas jinjing Erica di kursi belakang pun topi pantai lebarnya.
Menyalakan mesin. Ren menarik kacamata hitam dari potongan kerah kemeja coklat gelapnya.
Erica membalas singkat. "I've been to St. Tropez."