If there is no longer an 'us', then where does our child stand?
—
Jakarta, 12 Maret 2024
"Kaiiiii??????"
Langkah kaki kecil Kai yang terlindungi sepatu putih kian dipacu menghindari panggilan Izy yang terdengar mulai tidak sabar. Menggemblok ransel coklat gelap gaya Jepang di punggung dan menenteng puffles blue elephant, Kai memutari gedung dari depan kelasnya ke taman belakang yang sepi. Saat mayoritas siswa sudah pulang, hanya terdengar langkah tergesa-gesa. Dan gemerincing dari gantungan-gantungan di tasnya usai terakhir kali masih menangkap gerutuan Izy.
"Kai kemana sih, Mi????" Sebelum mereka pergi, setelah Auntie Hera membalas. "Kai sepertinya sudah pulang saat Izy ke toilet, Sayang."
Kai lebih dulu mendudukkan bonekanya. Baru berusaha duduk di bangku tinggi yang ada di sana dengan terengah dan sedikit kesusahan. Lalu membalik tubuh dan membenarkan duduk saat berhasil. Kaki Kai menjuntai ke bawah. Kepalanya merunduk dalam sambil menipiskan bibir, memeluk erat-erat boneka anak gajahnya yang sedang menemaninya. Pipi Kai memerah karena terik siang hari. Tangan berisinya sambil memegangi boneka anak gajah, mengusap lehernya yang mengeluarkan peluh—di antara kaus berkerah biru navy yang serasi dengan celana se-dengkul putih tulang yang ia pakai.
"Tandatangan, Ren."
Kai ingin kembali ke meja makan, melanjutkan sarapan bersama mama dan papa, sehabis dirinya dari kamar kecil. Tapi menemukan interaksi kedua orang tuanya—Kai walau masih di umurnya yang terlalu belia dan tidak paham dengan pembahasan orang tuanya, tapi bisa menyadari ketegangan yang terjadi. Senyum Kai pudar, ekspresinya menjadi lesu. Dirinya begitu saja membalik tubuh dan berlari ke kamar. Diikuti Archie yang melihatnya di persimpangan jalan. Kai merebahkan tubuh di atas ranjang ber-sprei birunya sambil menarik boneka keluarga gajah—anak, papa, dan mama. Archie ikut naik ke ranjangnya sambil menyandarkan kepala, lesu. Mungkin ikut merasakan kesedihan temannya.
Apa adik Kai sedih sepertinya?
Memikirkannya membuat Kai semakin sedih karena khawatir.
Kai lalu teringat perkataan mama. Lantas Kai bangkit. Archie di sebelahnya ikut bangun. Kai duduk bersila di atas ranjang. Menyatukan kedua tangan di depan dada sambil memejamkan mata; berdoa. "Semoga papa dan mama tidak berantem... semoga adik Kai tidak ketakutan..."
Raut Kai serius saat memanjatkannya.
"Kamu memanggil aku apa?"
Makanan; xiao long bao dan aneka dimsum ringan, salmon panggang, telur setengah matang dan telur dadar manis, roti panggang dengan selai srikaya, buah potong Jepang dan alpukat dengan granola, serta stroberi, bersama pilihan kopi susu inggris dan teh hijau gyokuro selain air putih, susu dan jus segar, ditata cantik di antara vas berisi bunga peony, anggrek, dan krisan tidak terlalu tinggi ala Ginori sebagai hiasan di atas meja marmer terlapisi kain linen. Ruang makan di pagi hari itu seharusnya cukup terang benderang, oleh sinar matahari yang masuk dari luar. Melewati dinding-dinding kaca, lalu membelok pada tiang berpanel kayu kokoh, dan dibukanya pintu geser seluas dinding ruangan, yang tepat di samping kebun. Menghembuskan udara pagi yang sejuk.
Bukankah indah dan mendamaikan?
Ren dengan kacamata frame beningnya, sudah mengenakan setelan rapi; celana kain putih dan kemeja licin warna butter yellow yang sudah disampirkan white cream suit bagaikan menunjukkan kepribadian hangat dan cerah pria itu—perlu dipertanyakan keasliannya. Dasinya dikenakan dengan simpel dan yang memilihkan serta memakaikan masih istrinya. Pergelangan tangannya tersemat Patek favoritnya, dan jari manis tangan kanan masih terdapat cincin pernikahannya yang tidak juga dilepas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nouveau Départ ✓
RomanceShe was a saint camellia before a sinful rose. She was a calm water before a burning fire. Ren Takahara bisa memiliki seluruh isi dunia di genggaman tangan, tetapi tidak dengan seorang wanita yang bersinggungan takdir secara tidak sengaja bersamanya...
