Chapter 26

9.3K 754 605
                                        

No, it's not a breakfast in Paris
But, a breakfast in the south part...
far from Paris

Summer 2019

French Riviera, 15 Agustus 2019

Meski tidak begitu jelas, Erica menangkap debur halus gulungan ombak disusul sirine kapal kala alam bawah sadarnya mulai terkumpul. Rasa nyaman disebabkan sejuk, lembut, rayuan samar-samar harum anggur dan kayu berpadu dengan bunga-bunga yang Erica perlu tanyakan apa saja; mungkin salah satunya camellia? Erica ingat menerimanya kemarin dari Ren. Semua terlalu tiba-tiba hingga Erica tak sempat menanyakan bagaimana pria itu bisa mendapatkannya?

Mungkin, pria itu memiliki kebunnya sendiri, di antara kebun-kebun lain yang sekilas Erica lihat begitu rimbun dan tertata mengelilingi villa ini.

Erica membuka mata perlahan untuk mendapati cahaya di kamar yang ia tempati, redup-redup, hanya berasal dari lampu-lampu kecil di pojok ruangan. Di luar masih gelap dengan seberkas biru opal terkuas di langit kala lampu di kebun yang mengintip di balik balkon membelakangi lautan mediterania nampak masih dinyalakan.

Di antara ukir-ukir rumit panel kayu sutra kombinasi damask yang mengisi ruang paduan putih, krem emas, dan hijau lembut ini, Erica perkirakan waktu saat ini menunjukkan jelang matahari akan terbit, dan ia tidak perlu menoleh ke sisi kiri untuk tahu bahwa bagian ranjang terlapisi linen selembut awan itu sudah tak terisi.

Hanya tersisa wangi yang khas.

Perasaan hampa dan kosong merambat tanpa sebab yang jelas, seperti yang biasa Erica rasakan. Di saat sebelumnya ia sempat merasakan buncah perasaan asing; mengembang, membingungkan.

Mata Erica telah terbuka sepenuhnya dan ia mengambil waktu untuk terdiam sejenak di posisi itu. Mereka singkat kejadian-kejadian sebelum ia berakhir di ranjang ini. Berakhir di dekapan erat seorang pria asing sampai menghabiskan sisa hari. Kini terasa sunyi. Halus debur ombak kian jelas diiringi sirine yang sama dengan yang sebelumnya Erica dapati kala matanya terpejam.

Erica menarik tubuhnya yang sempat kebas dan keram di beberapa titik sebelum ia sempat secara enggan menolak apapun yang Ren ingin lakukan untuk mungkin menebus rasa tidak enaknya atas apa yang—seharusnya bukan hanya yang pria itu perbuat—tapi mereka, untuk bangkit. Erica bersandar di kepala ranjang beludru sulaman tuffed. Tidak menarik serta selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah dilapisi gaun tidur bertali tipis nyaman putih keemasan yang entah bagaimana bisa pas di tubuhnya. Semalam Erica mengenakannya di antara sadar—tak sadar—apa dibantu oleh Ren? Kini saat kesadaran penuh mengumpul, Erica tahu gaun tidur ini belum pernah digunakan seseorang sebelumnya.

Suasana kamar yang temaram kian mendukung hening yang antara menenangkan dan mengawang Erica pertanyakan. Netranya sesaat berkelana dalam diam, dari langit-langit tinggi yang terhias ukiran klasik, ke dinding-dinding yang terpajang lukisan serupa dan kontemporer. Erica melihat Matisse. Untuk kemudian menemukan secarik nota seukuran postcard berwarna krem dengan bordiran halus bunga diletakkan di atas meja mahoni kecil berkaki empat samping ranjang sisi Erica tidur dengan setangkai mawar merah yang begitu mekar di atasnya. Erica yakini dari Ren. Dan ia baru sadari selain bertangkai-tangkai camellia, ada seberkas harum mawar. Mempertanyakan maksudnya; antara camellia putih dan mawar merah yang ia terima. Meski singkat, Erica mulai mengenal bahwa pria yang ia temui itu filosofis dan setiap hal dari sikap dan perbuatannya memiliki arti.

Nouveau Départ ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang