Sometimes you seem like a dandelion
Whose petals bloom softly out of the sight
And sometimes you're like an orchid
Reflecting myself through your exotic eyes
But for most of the time...
You are my wife.
You are who you are,
And I'm here,
Admiring the tempestuous things.
—
Langkah Ren ditahan Erica yang menyentuh siku long coat coklat gelapnya. Lalu saat menoleh, Ren tidak lupa menahan alisnya dari terangkat sebelah bahkan kala Erica menyentuh bagian dada coat-nya dengan usapan lembut di masing-masing sisi dalam gerak menghempas debu. Kepala Ren merunduk, Erica lebih dulu menarik halus dasinya. Menatap fokus ke sana dengan gerak jarinya yang lihai merapikan simpul dan berpindah sebelum Ren mengeluarkan komentar.
Ren sesungguhnya akan menutup rapat mulutnya untuk sekarang. Alisnya sejajar. Ekspresinya tidak banyak menunjukkan kebingungan dan heran, pemahamannya cepat mengambil alih, sehingga tubuhnya tidak tegang. Tatapan Ren masih tertuju pada Erica. Lekat-lekat, tidak sedikitpun tangan Erica gemetar apalagi ragu. Tidak juga dengan gugup. Puncak kepala wanita itu di antara pundak dan lehernya. Harum yang tidak perlu Ren pertanyakan dan hilir mudik di indera penciumannya yang dipersilahkan. Berhimpitan dengan udara musim dingin. Erica sekali lagi menarik dan menepuk halus lengan dan bagian dada coat-nya, kerah dan lipatan kemeja putihnya yang cukup hangat dari dingin.
"Ada banyak orang yang membantuku siap-siap, apa kamu tidak?" Pertanyaan Erica retoris. Netra Ren masih di titik yang sama. Entah Genta dan Ayana ikut berhenti saat menyadari Erica dan dirinya tertahan di posisi ini di belakang.
Celotehan lapar Kai yang mengabsen makanan mengalun tanpa terputus, kian jauh berjalan dengan Obaachan dan Tuan Putri Yuriko bersama para pelayan dan pekerja usai pemberitahuan Shin Takahara sudah dapat ditemui. Bukan menjawab cepat-cepat, tarikan dan hembusan napas teratur, pandangan Ren diangkat ke hamparan luasnya danau yang di tepiannya membeku dan hutan oleh pohon-pohon pinus dan cedar yang terselimuti salju di dahan. Sangat kelabu di langit, putih di sekeliling, dan hening yang hampir terasa mistis. Antara suara tenang menghayutkan dan menghipnotis penghuni gunung. "Tentu, ada." Nada suaranya damai.
Erica mengangkat kepala, dipertemukan rahang tegas Ren. Tepat usai Ren mendapati mejiro—burung kecil yang memiliki paduan putih, kuning, hijau sedang melakukan migrasi musim dingin untuk hinggap dan berdiri gagah di atas bunga camellia yang tumbuh di tengah danau. Ren menelitinya sesaat, lalu pandangannya diturunkan kembali dalam ketuk yang pas. Membuat mata mereka bersirobok. Erica menyelesaikan gerak tangannya di tubuh Ren. Bergeser tanpa niat memutus tatapan mereka. Ren tak memindahkan netra. Erica kembali dari gerak-geriknya yang tenang dan luwes dengan sepotong kue bulan buatannya, diambil dari meja, di tangan kanan. Ren tahu mereka tengah saling menyelam di manik masing-masing pihak. Perasaan sakral oleh lonceng kuil yang sesekali berdera membuat suasana ini kian membingungkan. Tangan Erica diangkat ke depan mulut Ren yang melirik ke sana, tipis.
"Tidak banyak menyantap makan malam, lebih banyak membaca email terkait pekerjaan saat sarapan, lalu menyisakan banyak makanan saat makan siang. Tidak sama sekali menyentuh manisan." seloroh Erica. Disusul siulan yang entah darimana. Mungkin dari rusa liar di dalam hutan lebat yang dalam. Tapi, apa rusa bersiul?
Tanpa balasan, Ren menerima sodoran kue bulan dari Erica sebelum mengecup ringan pipi istrinya.
Tidak terkejut, tidak juga tertegun saat menerima perbuatan Ren yang tiba-tiba. Pria itu tidak tersenyum saat menggigit potongan kue bulannya lembut-lembut dengan mata mereka bertaut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nouveau Départ ✓
RomanceShe was a saint camellia before a sinful rose. She was a calm water before a burning fire. Ren Takahara bisa memiliki seluruh isi dunia di genggaman tangan, tetapi tidak dengan seorang wanita yang bersinggungan takdir secara tidak sengaja bersamanya...
