The Section: Past

4.9K 449 229
                                        

To think that we're linked... were we enemies in the past lives? Did I commit unforgivable sin? Maybe I betrayed you to the point you were too hurt by my actions. Yet silently, I too feel doomed in my heart.

To live again... fate has made our paths intersect once more.

This time, enchantingly, you're a woman who tempts me.

Then the universe laughs... knowing I must bear my karma.

But how can this karma in this life keep me from holding you, when you're right in front of me?

Can you see me as I see you?

If pain is in my eyes right now, that is longing.

That is grieving.

That is remorse.

Singapura, 13 September 2019

Tak ada arakan awan. Cahaya terserap di dedaunan. Tarikan halus bibir yang senantiasa hadir, lekas terhempas, kala adegan demi adegan yang tengah dipertontonkan, mengharuskan para hadirin fokus. Setidaknya dari anggapan Ren yang terbebas dari ajakan bicara ramah pebisnis asal Singapura, yang habis memberitahu bahwa Buddha memberkatinya dengan lagi-lagi memasukkan ia dalam kolom orang paling berpengaruh dan terkaya di Asia bulan ini. Kali ini posisinya naik satu tingkat mengalahkan lawannya—Ong Bo Wei—yang semoga Ren tidak salah tangkap nama berkat aksen yang unik.

"Aiyah, jing a—bagus!"

Senyum diplomatis lekas tersemat, kala dari belakang pria berpenampilan rapi itu berseru dengan tepuk tangan riuh. Pertunjukkan belum selesai. Ren menghargai antusiasnya dan menyetujui bahwa penampilan tarian bunga yang melambangkan keberuntungan dan persahabatan khas Peranakan memang menakjubkan. Hokkien yang diungkapkan sedikit Ren paham. "Benar-benar terlihat seperti bunga, leh?" bisik di belakang.

Menyaksikan seksama, selain musik pengiring, riuh perlahan-lahan memelan dan redup. Seperti koto yang memetik ketenangan dan gagaku yang menyambut kedatangan. Seruling hichiriki digantikan keeleganan dizi sebagai budaya.

Iris di balik kacamata yang membingkai, merekam selendang sutera putih melambai halus di udara. Seumpama bunga bermekaran. Seperti camellia putih yang menerbangkan kelopak-kelopak indahnya secara lemah-lembut. Lantas kala sekelebat penutup berjatuhan, di balik rangkai membuat penasaran, sesosok anggun lahir sebagai poros perhatian.

Terlalu misterius, ungkapan Yūgen tercetus.

Pandangan Ren memaku lurus.

Mengunci tanpa senyum. Pembawaan dalam tailored one-and-a-half breasted suit silver dengan pocket square karya dikhususkan dari toko langganan keluarga di Savile Row, melapisi kemeja putih potongan klasik jahitan Charvet, yang dipermanis dasi motif halus pemberian Yukio Shimizu, tidak berkurang sedikit pun damai. Menduduki huanghuali berukiran bunga halus dengan bantalan brokat sebagai gaya furnitur Peranakan. Ren sedikit menyentuhkan kedua ujung siku dari lipatan tangan di depan tubuh, ke lengan melengkung bangku. Tidak benar-benar bersandar, punggung lurus. Kaki beralas loafers ditata dalam cara paling baik dirinya diajarkan.

Nouveau Départ ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang