Do you know why I like life-threatening expeditions?
—
Act II.I: Jakarta, 2019
To hide.
It makes me question, every time I successfully navigate a difficult road: why am I still granted the chance to live? After yet another brush with dangerous—what reason have I to persist? There must be a purpose. So, why am I meant to live? God has surely written fate; for me, is it to preside over my family's hierarchy?
Kesadaran Ren ditarik sangat cepat untuk kembali menemukan pemandangan Erica yang luluh lantah oleh hujaman lebat air yang berjatuhan dari langit tanpa pelindung. Tatapan Ren berkilat tajam, memaku. Jantungnya berdebar luar biasa khawatir tanpa perlu dijelaskan. Kaki Ren begitu saja terdorong maju, sampai sesaat melupakan fakta bahwa ternyata di tempat kekacauan bukan hanya dirinya dan Erica. Ada pihak lain yang semestinya memiliki benang keterkaitan dengan mereka berdua.
Kaki Ren yang maju satu langkah terhenti. Tidak ada yang menyadari intensi sesungguhnya di balik ketenangan yang ia bangun secara senyap. Tatapannya hanya sesaat meninggalkan Erica bahkan kala memanggil nama calon tunangannya. Ren setidaknya ingin menghela napas lega kala kali ini tubuh kuyup, renta Erica, telah dibantu untuk dilindungi. Meski bukan oleh dirinya yang memegangi gagang payung hitam erat-erat. Ren mendoktrin dirinya sekali lagi untuk tidak egois. Kondisi Erica lebih penting.
Setidaknya Ren masih menghormati tugas dan perannya sebagai calon tunangan wanita yang ada di tempat perkara juga saat ini, Briana Diamour Yanai. Bersama teman pria itu sejak sekolah—Bian Tjokrowinata? Ren tahu kapan harus menyesuaikan setiap perannya. Tadi pagi ia sempatkan berkunjung ke rumah Briana setelah semalam terus membantu menghubunginya yang Ren diberitahu dari okaasan wanita itu, tidak bisa dihubungi. Dan baru kembali ke rumah tadi pagi.
Jadi... mereka saling mengenal.
Ren tidak tahu takdir apa yang lebih kacau dari segala ketidakmungkinan pertemuan di antara mereka yang akhirnya saling terhubung.
"You don't really know her. It was supposed to be just a summer fling, wasn't it? It's better to end all this chaos now before it affects not only you but your family. They have eyes everywhere, and you know how fucked up it would be when it's all over."
"..."
"You've lived this far... to be ended by a woman?"
Tangan Ren mengepal, dan tatapannya yang senantiasa bersahaja, kali ini terlipat-lipat tajam. Merekam ingatan dari Genta saat asistennya menghubungi Ren tadi pagi, yang sedang di rumah Briana, menjauh di antara bilik-bilik panjang daun pintu geser kayu kokoh—shoji.
Sekarang, menyaksikan kosong di mata Erica.
Bagaimana jadinya jika wanita itu ikut serta?
Menjadi pemeran...
Di kecacatan yang Ren rasa sejauh hidupnya.
Apakah Ren... tega?
...
Erica tidak memakan waktu lama berhenti, di posisinya yang memandangi entah apa di balik buram wajahnya, dengan lamunan bagai tak bernyawa. Meneruskan langkah tertatihnya yang tak mempedulikan sekitar. Ren sungguh ingin berterima kasih sebab pria yang bersama Briana terus mengikuti Erica di belakang, memastikan tubuh Erica tetap masuk ke dalam naungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nouveau Départ ✓
RomanceShe was a saint camellia before a sinful rose. She was a calm water before a burning fire. Ren Takahara bisa memiliki seluruh isi dunia di genggaman tangan, tetapi tidak dengan seorang wanita yang bersinggungan takdir secara tidak sengaja bersamanya...
