9. Permasalahan baru

2 0 0
                                        

Kenanga hanya bisa termangu di dalam kamar setelah berbicara dengan Emak dan Abah, di dalam ruangan 3 × 3 meter itu ia duduk memeluk lutut beralaskan tikar seraya memandang keluar jendela

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kenanga hanya bisa termangu di dalam kamar setelah berbicara dengan Emak dan Abah, di dalam ruangan 3 × 3 meter itu ia duduk memeluk lutut beralaskan tikar seraya memandang keluar jendela. Kedua matanya tak bisa terpejam walaupun ia mengantuk dan sudah larut malam, ia terus memikirkan kata-kata Emak, yang bersikeras untuk melanjutkan perjodohan dengan juragan Agus.

Bahkan sekarang Kenanga merasa takut untuk keluar rumah, entah apa yang akan terjadi padanya mulai dari esok dan seterusnya. Mengingat bagaimana respon warga Desa Sukaluyu tatkala juragan Agus mengumumkan niatan untuk melamar nya, semua orang bergosip dan kini Kenanga tengah menjadi buah bibir.

🐓🐓🐓


Suara kokokan ayam jantan membangunkan Kenanga dari tidur singkatnya, ia membuka mata masih di posisi yang sama, duduk bersandar pada dinding triplek. Sejenak ia melihat ke arah jam kecil yang terletak di meja kamar, dengan terpaksa ia tetap melakukan aktivitas seperti biasanya.

Selesai dengan semua tugas rumah Kenanga langsung menemui Bapak di kamar belakang, membawakan teh hangat dan nasi goreng sederhana yang hanya dibumbui oleh bawang dan garam. Tak ada lagi senyuman di wajah dara 22 tahun tersebut, hingga sikapnya memantik perhatian Bapak.

"Ada.. apa.. nak?" tanya Bapak masih terbata.

Kenanga tersenyum simpul seraya menggelengkan kepala, lalu menyuapi Bapak. "Tidak ada apa-apa Pak.."

"Jangan, bohong.." Ucap Bapak setelah menelan suapan pertama.

Melihat kekhawatiran di wajah Bapak, airmata Kenanga akhirnya tumpah ruah jua, ia menunduk, meremas ujung baju. "Kenanga rindu ibu.."

Meksi airmatanya tak terbendung lagi, Kenanga tak mampu menceritakan segala isi hatinya pada Bapak karena ia sangat takut jika Bapak bertambah sakit karena beban pikiran.

Bapak menarik tubuh kurus Kenanga dalam dekapannya, membuat putri tunggalnya menangis semakin terisak. Dalam hati Bapak pun mempertanyakan dimana Dinda, wanita berparas ayu yang selama ini sudah tak berstatus sebagai istrinya. Namun Bapak tak bisa berbuat banyak selain pasrah, penantian itu belum pasti, akankah berbuah manis atau tidak mengingat kondisi nya yang semakin lemah tanpa penanganan medis.

Melihat matahari mulai tinggi, Bapak meminta Kenanga membantunya pindah ke halaman belakang untuk berjemur, dokter memang pernah menyarankan Bapak untuk tetap terkena sinar matahari pagi untuk kesehatan tulang nya.

Kenanga membantu Bapak dengan senang hati, memapah ke halaman belakang yang ditanami pohon singkong serta pohon pisang.

"Kenanga! Kesini, bantuin Emak!!!"

Terdengar suara Emak dari arah depan, lebih nyaring dari biasanya.

"Iya sebentar Mak!!" Sahut Kenanga, lalu bersimpuh di depan Bapak. "Pak, tunggu disini ya, Emak manggil.."

Bapak hanya mengangguk sebagai balasan, Kenanga langsung menghampiri Emak, ternyata ada di teras depan tengah mengupas singkong pemberian tetangga sebelah yang baru saja panen.

Dua Arah (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang