Kenanga tak pernah menyangka akan berhadapan dengan situasi sulit saat beranjak dewasa, jiwanya diserang dari berbagai sisi namun ia hanya memiliki dua arah yang terasa serba salah. Jalan manakah yang akan Kenanga pilih? jalan manakah yang akan memb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tante Sekar?"
"Sindi?"
"Tante lagi apa di rumah sakit?"
Bu Sekar segera membawa Sindi ke arah ruang tunggu sepi lalu duduk bersebelahan, keduanya sudah tampak akrab meskipun jarang bertemu dan berbincang. Sindi menatap antusias ketika Bu Sekar bercerita kalau ia baru saja melakukan cuci darah, satu bulan belakangan ini ternyata Bu Sekar menderita penyakit ginjal bocor sehingga harus melakukan cuci darah secara rutin.
Mendengar penuturan Bu Sekar membuat Sindi memiliki kesempatan dan peluang, ia pun memikirkan rencana lain.
"Kamu sendiri ngapain di rumah sakit?" tanya Bu Sekar setelah menyeka airmata.
"Aku abis jengukin temen yang dirawat disini Tante, oh ya ada yang mau aku tanyain tapi ini bersifat privasi, apa boleh?" izin Sindi, sekaligus menjawab pertanyaan Bu Sekar.
"Silahkan, tanya apa?"
"Umm, aku denger waktu acara babarit kalau Tante menaruh hati sama juragan Agus, apa betul?"
Pertanyaan Sindi membuat Bu Sekar tersipu malu, bibirnya tersenyum kecil, ia benar-benar mengalami puber kedua. "Iya Sindi, tapi juragan Agus sampai saat ini tetap bersikeras mau melamar Kenanga, padahal apa bagusnya bocah itu?"
"Tante sabar ya, oh ya Tan.. Aku bisa bantu supaya juragan Agus membatalkan rencana melamar Kenanga, bagaimana kalau kita kerjasama?" usul Sindi, Bu Sekar langsung tertarik dan mengiyakan.
"Kerjasama seperti apa?" tanya nya antusias.
Sindi mendekat ke telinga Bu Sekar lalu membisikan rencana nya dengan hati-hati. Selesai berdiskusi keduanya saling berjabat tangan lalu merangkul satu sama lain.
"Oke, sekarang Sindi pulang dulu ya Tan.. Good luck.." Sindi beranjak dari kursi, membetulkan dress nya yang sedikit kusut.
"Doakan Tante semoga berhasil, gak apa-apa deh keluar modal di awal asal bisa menikah dengan Agus, juragan Sukaluyu.." Seloroh Bu Sekar dengan percaya diri.
Sindi meninggalkan rumah sakit dengan perasaan riang gembira, ia tak menyangka semudah itu mengajak Bu Sekar bekerja sama. "Kenapa aku gak kepikiran dari dulu ya, kan ada Tante Sekar.. Untung aku inget waktu itu Ayah pernah cerita kalo Tante Sekar naksir berat sama Juragan Agus, dengan begitu aku gak perlu usaha buat jodohin Kenanga sama tua bangka itu, kan niat ku dari awal cuma mau ngerebut Nauval dari Kenanga.. Seneng banget deh hari ini, niat awal mau ngikutin Nauval eh kebetulan ketemu Tante Sekar, Sindi.. Sindi.. Kamu emang ditakdirkan jadi orang beruntung hi hi hi..."
Tap.. Tap.. Tap...!!
Suara derap langkah kaki terdengar nyaring di koridor rumah sakit yang begitu sepi senyap, hanya ada kehadiran keluarga Aswatama. Pemilik suara langkah kaki tersebut menyapa keluarga Aswatama dengan ramah dan sopan, mengucapkan kalimat penenang sebagai topeng.