Chapter 3: A Bitter Truth
---
Aku yang masih berada di dalam kamar mandi melihat sesuatu yang aneh terjadi. Kotak tisu yang tertempel di dinding tiba-tiba mengalami glitch—seperti gambar rusak pada layar monitor. Glitch itu berlangsung hanya beberapa detik, sebelum muncul kilauan cahaya terang dari kotak tersebut.
Cahaya itu begitu menyilaukan hingga aku refleks menutup mataku. Ketika kilauan itu mereda, aku membuka mataku kembali dan... kotak tisu itu terlihat seperti semula. Tidak ada tanda-tanda apapun yang menunjukkan perubahan, seperti tidak ada yang terjadi.
Apa tadi itu? pikirku bingung.
Aku mencoba memahami situasi, tapi otakku hanya dipenuhi tanda tanya. Namun, di tengah kebingungan itu, sebuah pemikiran melintas di benakku.
Apa yang barusan terjadi… mungkin ada hubungannya dengan perubahan ruang-waktu?
Aku merenung sejenak, mencoba mengaitkan hal ini dengan pengetahuan yang kumiliki.
“Sebuah glitch dan kilauan…” gumamku. “Rasanya aku pernah melihat hal semacam ini di film-film fiksi ilmiah.”
Aku mencoba mengingat. Kalau di film, glitch itu sering terjadi akibat ketidakseimbangan struktur atom pada suatu benda karena pergeseran dimensi ruang-waktu.
“Hah?! Apa itu berarti… semua ini ada kaitannya dengan perjalanan waktu yang kualami?” bisikku kaget.
Aku merasa seolah-olah mulai menemukan petunjuk. Dengan napas yang mulai teratur, aku memutuskan untuk keluar dari kamar mandi itu. Aku perlu mencari udara segar untuk berpikir lebih jernih.
Setelah keluar dari kamar mandi, aku berjalan santai menuruni tangga gedung utama, mencoba menenangkan pikiranku.
Sembari berjalan, aku berbicara pelan kepada diriku sendiri.
“Jadi, kemungkinan besar ‘mesin waktu’ itu bekerja dengan cara mentransferkan inti atom benda ke jalur waktu yang berbeda. Lalu, elektron valensi yang berfungsi mengikat atom-atom tersebut akan menyatu dengan atom-atom di masa lalu, menciptakan efek glitch karena percampuran dua lini masa…”
Aku berhenti sejenak, mencoba mengurai penjelasan yang baru saja kupikirkan.
“Mungkin… percampuran molekul ini juga yang membuat jalur waktu seolah menghapus keberadaan benda yang ditransfer. Karena atom-atomnya bercampur dengan benda di garis waktu lain, data eksistensinya dihapus dari ingatan semua orang.”
Aku menatap tanganku sendiri dengan bingung. “Jadi, aku ini anomali? Karena data keberadaanku di jalur waktu ini sudah terhapus total?”
Aku menghela napas panjang. Berarti, aku tidak bisa kembali ke masa sekarang. Bahkan kalau aku kembali, aku tetap akan dianggap sebagai anomali. Tidak ada yang akan mengenaliku lagi.
“Hufft…” aku menghembuskan napas lega sekaligus pasrah. Setidaknya, aku merasa sudah memecahkan metode mesin waktu ini.
Tapi sekarang, aku juga menyadari satu hal. Aku tidak punya pilihan selain menerima kenyataan bahwa aku harus menetap di dunia ini—di dunia yang bahkan tidak mengakui keberadaanku.
---
Di Jalur Waktu 2025
Para ilmuwan di toilet sekolah tampaknya sudah selesai dengan tugas mereka. Mereka mulai membereskan alat-alat eksperimen.
Seorang asisten mendekati profesor sambil membawa catatan. “Prof, apa semuanya sudah beres?”
Profesor mengangguk sambil menatap alat yang kini sudah dimatikan. “Ya, semua sudah beres. Pastikan data disimpan dengan aman. Kita akan melanjutkan lagi besok.”

KAMU SEDANG MEMBACA
Chrono-Flux
AdventureSemua orang pasti mau bisa melakukan perjalanan waktu. Begitu juga dengan Arata Satou, seorang siswa kelas 10 yang bersekolah di salah satu sekolah paling ternama di Asia Tenggara. Cerita bermula dengan Arata yang awalnya hanya ingin pergi ke toile...