Volume 2: Chapter 6

3 2 1
                                    

Chapter 6: A Royal Misstep

---

Jakarta International Highschool, 25 Desember 2025.

Setelah izin dengan wali kelasnya, Kaede berjalan ke arah gerbang sekolah–—portal yang tercipta karena kerusakan perangkat Raka. Alasan ia berubah pikiran untuk tidak ikut liburan ke Bali ternyata karena ia mendengar suara Arata, samar-samar memanggil namanya saat ia hendak naik ke bus.

Kaede pun menatap portal bercahaya ungu itu dengan hati penuh kecemasan. "Arata... Aku tadi dengar suara kamu dari arah sini. Apa kau masuk ke sini juga?" gumamnya, sebelum melangkah masuk tanpa ragu. Sensasi melintasi portal terasa seperti diselimuti aliran listrik dingin, membuat tubuhnya menggigil sejenak.

Ketika kakinya menapak kembali, portal di belakangnya langsung tertutup, dan ia mendapati dirinya berada di tempat yang benar-benar berbeda. Angin dingin menyapu wajahnya, dan aroma asap pabrik yang tajam menusuk hidungnya. Kaede berdiri di tengah jalan berbatu, dikelilingi bangunan-bangunan bata merah yang mengeluarkan kepulan asap hitam dari cerobong-cerobong tinggi.

"A-apa ini...?" bisiknya, kebingungan.

Inggris, Tahun 1765.

Di kejauhan, deru mesin uap terdengar samar, bersanding dengan suara pedagang yang menawarkan dagangannya.

Kaede memperhatikan orang-orang di sekitarnya; mereka mengenakan pakaian yang tampak kuno––rok panjang, jaket mantel tebal, dan topi datar.

"Ini... ini pasti bukan di Jakarta. Dan ini juga bukan di masa sekarang!"

Kaede akhirnya melangkah maju, mencoba mencari petunjuk tentang di mana ia berada. Sepatu kets modernnya tampak mencolok di antara sepatu bot kulit dan sandal kuno, menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Tatapan mereka tampak penasaran, sebagian bingung melihat seragam sekolah Kaede yang tampak asing. Beberapa anak kecil mengikutinya, menunjuk sepatu dan pakaian anehnya sambil berbisik-bisik pelan.

"Hei hei, kalian, anak-anak, jangan ganggu dia! Bisa saja dia seorang bangsawan yang sedang menyamar," ujar seorang wanita tua dengan aksen British kental, sambil mengibaskan tangannya pada anak-anak itu.

Beberapa menit kemudian...

Setelah berjalan cukup jauh, Kaede menemukan sebuah taman kecil yang  terletak di tengah kota yang dipenuhi bangunan-bangunan kuno yang menjulang. Ia lalu duduk di tepi sebuah bangku kayu di taman tersebut. Angin dingin menusuk kulitnya, membuatnya memeluk tubuhnya sendiri untuk menghangatkan diri.

Kaede memandang sekeliling dan berkata, "Portal tadi... Itu apa sih? Kemana sebenarnya Arata? Gimana cara aku balik ke sekolah..." tanyanya pada dirinya sendiri, memijat pelipisnya yang mulai terasa sakit.

"Teman-teman sekarang lagi pada ngapain ya...? Huhuhu, tadi mah mending masuk ke dalam bus aja," keluhnya sambil memandangi langit yang berawan.

Tiba-tiba, di kejauhan seorang pria paruh baya dengan pakaian mewah dan membawa tongkat turun dari kereta kudanya, kemudian mulai menghampiri Kaede dengan tergesa-gesa.

"Astaga, paduka... Akhirnya, Yang Mulia kembali!" serunya dengan ekspresi penuh kelegaan.

Kaede menatapnya bingung. "M-maaf? Apa maksud Anda?"

Pria itu bersujud di hadapannya, membuat Kaede semakin kebingungan.

"Semua orang telah mencari Anda, Putri Marianne! Ya ampun, kami berpikir Anda telah hilang selamanya. Anda dari mana saja sebenarnya? Dan pakaian itu... Dari mana anda mendapatkannya?!" tanya pria itu dengan antusias.

Chrono-FluxTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang