Prolog
---
GEDUNG SEKOLAH DI TAHUN 2022 RUNTUH! DAN PAK ALBERT—ATAU LEBIH TEPATNYA TIRUANNYA—MEMUDAR MENJADI DEBU. DUNIA ITU MENJADI KACAU, HANCUR! LALU, lalu... Lalu apa yang terjadi selanjutnya?
Ah, tidak, tidak. Bukan begitu cara menyampaikan cerita ini. Maaf, aku malah terlalu bersemangat. Mari kita mulai dengan cara yang lebih santai.
Hai, aku Arata Satou. Mungkin kalian sudah pernah mendengar namaku sebelumnya. Beberapa minggu yang lalu, hidupku berubah 180 derajat. Petualangan yang entah aneh, seru, atau... menegangkan? Aku sendiri belum bisa mendeskripsikannya dengan tepat..
Satu hal yang aku pelajari dari semua itu adalah tentang betapa berharganya waktu. Karena sejatinya waktu tidak bisa diputar balik atau diulang. Apa pun yang terjadi, kita hanya bisa melangkah maju.
Tapi sebelum kita masuk ke inti cerita, aku ingin mengajak kalian untuk sedikit mengenal diriku—lebih dalam, lebih personal. Karena, hei, apa gunanya jadi tokoh utama jika kalian tidak tahu siapa aku, kan?
Aku lahir pada tanggal 15 Juni 2009 di sebuah kota kecil yang sepi bernama Ashwood, di wilayah Jawa Barat, beberapa kilometer di tenggara Jakarta. Ayahku orang Jepang, sedangkan ibuku asli Indonesia. Sayangnya, sejak aku balita, ayah harus kembali ke Jepang untuk bekerja, jadi aku tumbuh bersama ibu di rumah kami yang sederhana.
Sebagai anak tunggal, aku sering merasa terbebani dengan ekspektasi ibu. Beliau selalu mendorongku untuk menjadi yang terbaik, bahkan sejak aku masuk SD. Ketika anak-anak lain sibuk bermain, aku justru sibuk belajar dan mengerjakan soal latihan. Tak jarang aku di marahi dan menangis karena merasa gagal memenuhi harapannya.
Tapi, ya, hasilnya nggak mengecewakan. Aku selalu jadi juara kelas dari kelas 1 SD hingga lulus. Bangga? Tentu. Tapi di balik itu semua, aku merasa kehilangan banyak hal. Masa kecilku terasa kaku, seperti roda gigi yang harus terus berputar tanpa henti. Di sekolah, aku lebih dikenal sebagai "Arata si pintar."
Skor IQ-ku saat tes di kelas 3 adalah 120, dan itu justru membuatku semakin dijauhi. Banyak teman yang hanya mendekat kalau butuh bantuan belajar, lalu menjauh lagi setelahnya. Jadi, masa SD-ku... yah, tidak terlalu istimewa.
Di luar sekolah, aku punya satu pelarian: seni bela diri. Selama beberapa tahun, aku berlatih pencak silat dan tarung derajat. Awalnya, aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru, tapi ternyata aku cukup berbakat dalam hal ini. Karena dalam satu bulan latihan saja, aku sudah bisa menandingi senior-seniorku saat sparring. Dan di usia 10 tahun, aku bahkan memenangkan medali emas dalam kejuaraan pencak silat nasional.
Namun, ada satu orang yang tidak pernah bisa aku kalahkan, pria itu bernama Raka Aditama. Meski hanya setahun lebih tua dariku, tapi kemampuannya terasa seperti jurang yang tak bisa kulewati. Suatu kali aku mencoba menantangnya, dan hasilnya... yah, aku babak belur. Aku masih ingat rasa sakit di tubuhku saat itu, dan rasa kekalahan itu seolah-olah menegaskan jurang antara kami. Semenjak saat itu, aku tidak pernah lagi punya keberanian untuk melawannya.
Ketika kelas 6 SD, aku memutuskan untuk berhenti dari perguruan bela diri dan fokus belajar demi masuk ke sekolah menengah impianku. Pilihan itu membawaku meninggalkan Ashwood dan membuka babak baru di Jakarta International Highschool. Aku lulus SD dengan nilai akhir 98,7—prestasi yang cukup membanggakan, meski terasa sedikit hambar tanpa teman berbagi kebahagiaan.
Dan begitulah, sekarang aku di sini, siap memulai cerita baru. Sebelum kita bertemu dengan Casstar, Kaede dan yang lain, aku harap kalian bisa sedikit mengenal sisi pribadiku. Siap? Baiklah, ayo masuk ke cerita utama!

KAMU SEDANG MEMBACA
Chrono-Flux
AdventureSemua orang pasti mau bisa melakukan perjalanan waktu. Begitu juga dengan Arata Satou, seorang siswa kelas 10 yang bersekolah di salah satu sekolah paling ternama di Asia Tenggara. Cerita bermula dengan Arata yang awalnya hanya ingin pergi ke toile...