Chapter 6.5: variant
---
Gerbang kerajaan Albion berdiri megah, dihiasi ukiran naga yang mencerminkan kekuasaan dan ketakutan. Raka, dengan wajah tegas, berjalan perlahan mendekati gerbang besar itu sambil menggendong tubuh seorang gadis cantik yang tidak sadarkan diri––Putri Marianne. Langkah kakinya menggema di sepanjang jalan berbatu, menarik perhatian dua penjaga yang berdiri di depan gerbang.
Menyadari ada orang asing yang berjalan menghampiri istana, penjaga-penjaga itu segera bersiap dengan memakai helm baja mereka dan menggenggam kuat sebuah tombak di tangan kanan.
“Kau! Hentikan langkahmu!” seru salah satu penjaga sambil mengarahkan tombaknya ke dada Raka.
Namun, penjaga lainnya tiba-tiba ragu. Ia menyipitkan mata, menatap Marianne. “Itu… Itu Putri Marianne!" katanya dengan nada bingung.
“Mustahil!” penjaga pertama berseru. “Putri Marianne ada di dalam istana. Siapa gadis ini yang kau bawa?!”
“Dia adalah putri yang asli,” kata Raka dingin. “Dia terjebak di dimensi lain selama ini. Sedangkan yang di dalam—itu palsu, saya perlu menjemput dia. Buka gerbang ini, biarkan saya masuk.”
“Bohong!” bentak penjaga pertama. “Kau pasti penyusup! Cepat taruh dia dan menyerahlah!”
Raka menghela napas panjang, menatap mereka dengan tatapan penuh tekad. “Saya tidak punya waktu untuk berdebat dengan kalian.”
Dalam hitungan detik, Raka bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Ia menghantam tombak penjaga pertama dengan sikunya hingga patah, lalu melumpuhkan penjaga itu dengan tendangan keras ke kepala sebelum dia bisa bereaksi. Penjaga kedua mencoba menyerang, tetapi Raka memukul telak rahangnya, membuatnya tersungkur. Semua itu dilakukan hanya dengan satu tangan, sementara Putri Marianne tetap aman di lengan kirinya sepanjang pertarungan singkat itu.
Suara benturan dan jeritan penjaga tadi menarik perhatian banyak orang. Para penjaga lainnya serentak keluar dari istana, membawa pedang dan tombak yang terhunus, siap untuk menghadapi penyusup. Keributan ini membuat suasana di depan gerbang semakin kacau.
Di sisi lain, Kaede—putri palsu yang selama ini tinggal di istana—melihat keributan di luar dari jendela kamarnya. Dia bergegas turun dengan ekspresi cemas. "A-apa yang terjadi di sini?!" teriaknya.
Menyadari rombongan penjaga yang satu per satu mulai berdatangan, Raka segera membawa Marianne ke bawah pohon rindang di halaman dan menidurkannya dengan hati-hati.
“Hei, bangunlah,” gumam Raka pelan, menepuk lembut pipi kanan Marianne.
Tak lama kemudian, Marianne mengerjap-ngerjapkan matanya. Pandangannya kabur sebelum akhirnya mengenali wajah Raka dan lingkungan sekitarnya.
“Kita... di istana?” suaranya bergetar.
Raka mengangguk lembut. “Kau sudah kembali. Tapi, aku harus menghadapi mereka dulu.”
Sebelum Raka bisa berbalik, Marianne meraih tangannya. “Tidak! Ka-kau tidak boleh melawan mereka.”
Namun sudah terlambat. Puluhan penjaga sudah mengepung Raka, tombak dan pedang mereka terarah kepadanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Chrono-Flux
AdventureSemua orang pasti mau bisa melakukan perjalanan waktu. Begitu juga dengan Arata Satou, seorang siswa kelas 10 yang bersekolah di salah satu sekolah paling ternama di Asia Tenggara. Cerita bermula dengan Arata yang awalnya hanya ingin pergi ke toile...