Volume 1: Chapter 5

6 2 0
                                    

Chapter 5: Project "Voyage"

---

Meskipun hari itu adalah akhir pekan, sekelompok ilmuwan tetap datang ke sekolah dengan langkah tergesa-gesa. Mereka berjalan melewati lorong yang lengang, menuju sebuah toilet yang tampaknya biasa saja bagi orang awam. Namun, bagi mereka, tempat itu adalah lokasi dari eksperimen paling ambisius yang pernah mereka jalankan—mesin waktu.

Begitu tiba di dalam, sang profesor langsung bergegas memeriksa peralatan. Matanya menyapu setiap sudut ruangan, mencari tanda-tanda bahwa semuanya masih dalam kondisi baik. Namun, hanya dalam hitungan detik, ekspresi wajahnya berubah drastis. Alisnya mengernyit, matanya melebar, dan napasnya seolah tertahan saat ia melihat sesuatu yang tidak semestinya.

"Kenapa ini cuma ada tiga?!" serunya tajam, nyaris berteriak.

Ia menatap alat pemindai atom dan pemancar laser di depannya dengan penuh keterkejutan. Seharusnya ada empat pemancar laser di sana, tapi salah satunya menghilang. "Hei, kalian! Ada yang lihat laser yang satunya?!"

Ruangan itu mendadak dipenuhi keheningan. Para ilmuwan saling berpandangan dengan wajah tegang, tapi tak ada satu pun yang berani menjawab. Suasana semakin mencekam hingga akhirnya, seorang pria di bagian belakang melangkah maju.

Di tangannya, ia menggenggam sebuah perangkat berbentuk silinder panjang dengan beberapa tombol di sisinya. Semua orang di ruangan itu langsung mengenali benda itu-pemancar laser yang hilang.

"Ini kah yang kau cari, Tuan Profesor?" tanyanya dengan nada santai, seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Suasana semakin tegang. Semua mata tertuju pada pria itu, yang kini berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi tenang. Bahkan sang profesor, yang biasanya dapat mengendalikan emosinya, kini tampak benar-benar marah.

"KENAPA ADA DI KAMU?!" suaranya meledak, penuh amarah. "Mau apa kau dengan benda itu?!"

Pria itu hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Lho, ini kan buatan saya sendiri, jadi saya bawa nggak apa-apa dong?" Ia tersenyum kecil sebelum melanjutkan, "Kemarin alat ini mengalami sedikit kerusakan, jadi saya membawanya pulang untuk diperbaiki. Aku hanya memastikan semuanya berfungsi dengan baik. Apa itu masalah?"

Sang profesor menatapnya tak percaya. Wajahnya merah padam, bukan hanya karena marah, tapi juga karena rasa frustrasi.

"Beraninya kau memperlakukan alat ini seperti barang mainan!" bentaknya sambil melangkah maju, tangannya terulur untuk merebut kembali pemancar laser itu.

Namun, pria itu hanya tersenyum. Sebuah senyum dingin yang membuat suasana semakin mengerikan.

Dalam sekejap, tanpa peringatan, ia mengangkat pemancar laser dan menekan tombolnya.

Zap!

Cahaya hijau terang melesat dari ujung perangkat, langsung mengenai tubuh sang profesor.

Mata semua orang melebar dalam keterkejutan saat mereka melihatnya—tubuh profesor mulai berpendar, seperti memudar dari dunia ini. Dalam hitungan detik, sosoknya menghilang sepenuhnya, lenyap tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Tidak ada suara. Tidak ada yang bergerak. Semua ilmuwan yang ada di ruangan itu hanya bisa berdiri membeku, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.

Pria itu menurunkan pemancar lasernya perlahan, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Senyumnya semakin lebar, penuh arti.

"Oke, sip," katanya dengan nada santai, seolah baru saja menyelesaikan tugas kecil yang tak berarti. "Tuan-tuan, ada yang mau coba juga?"

Chrono-FluxTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang