Volume 2: Chapter 5

5 3 1
                                    

Chapter 5: Dimensional Vacation

---

Lima menit setelah bus siswa kelas 10 berangkat dari sekolah. Suasana di dalam bus terlihat santai, para murid Top 10 dari masing-masing kelas duduk di kursi mereka, saling bercanda dan tertawa.

"Yo, nggak nyangka banget kamu peringkat sepuluh di kelasmu, Enriqo!" ujar Arya, salah satu teman Enriqo dari kelas 10-C, sambil tersenyum lebar.

"Ya, ya, aku sendiri juga bingung kenapa bisa masuk Top 10. Padahal kerjaanku di sekolah cuma main basket," balas Saltuv Enriqo dengan santai.

"Haha, bisa aja kau, sialan. Eh, tapi tau nggak, di kelasku itu Casstar—si ranking satu—nilainya jauh melampaui kami semua. Padahal pas kelas sembilan dia berandal banget, loh. Aku heran, kok sekarang dia jadi ambis, ya?" Arya menggeleng sambil memasang ekspresi bingung.

"Entahlah, mungkin dia memang mau berubah jadi lebih baik aja," sahut Enriqo sambil mengangkat bahu.

"Hmm.. Ada benarnya juga. Oh iya, ngomong-ngomong, siapa yang ranking satu di kelas 10-A?" tanya Arya sekali lagi.

"Oh iya, ya. Kemana nih orangnya, dari tadi nggak keliatan..." balas Enriqo sambil mengangkat kepalanya untuk mencari-cari Arata di dalam bus.

"Oi, Andreas! Kamu nggak sadar kah? Arata hilang lagi!" seru Enriqo tiba-tiba kepada Andreas yang duduk tak jauh darinya.

"Hah! Kau serius?! Kenapa aku baru sadar... Duh si Arata nggak ngasih kabar apa-apa ke aku." balas Andreas dengan lumayan terkejut.

Kericuhan kecil di bus itu membuat Bu Dwi, yang duduk di barisan depan, berdiri dan menenangkan para siswa. Dengan suara tegas namun lembut, beliau berkata, "Dengar, anak-anak kelas 10-A, Arata dan Kaede tiba-tiba sakit jadi tidak bisa ikut berlibur. Mereka sudah izin kepada saya sebelum keberangkatan tadi."

Meskipun pada kenyataannya yang izin kepada beliau hanyalah Kaede, dan wali kelas itu sendiri tidak mengetahui kemana perginya Arata.
Bu Dwi melanjutkan, "Jadi, sekarang kalian tenang saja dan nikmati perjalanan ini, ya."

Perlahan, suasana kembali tenang, meski beberapa siswa masih terlihat saling berbisik tentang suatu hal. Di sisi lain, Bu Dwi terdiam menatap ke luar jendela, ekspresi wajahnya menunjukkan rasa kekhawatiran akan keberadaan Arata.

Weird Earth, 150 juta tahun yang lalu.

Setelah berhasil keluar melalui portal, Arata dan Casstar mendarat keras di tanah berpasir. Di sekeliling mereka, pohon-pohon raksasa dengan daun berwarna biru menjulang tinggi, sementara di kejauhan terlihat makhluk-makhluk besar menyerupai dinosaurus yang bergerak perlahan.

"I-ini... luar biasa," gumam Casstar dengan mata terbelalak. "Tapi bahaya juga kalo mereka mendekat."

"Setuju," balas Arata sambil membersihkan pasir dari seragam sekolahnya. Ia mengamati perangkat holografis di tangannya, masih menyala samar. "Kita harus segera pergi sebelum makhluk-makhluk itu menyadari kehadiran kita."

Casstar mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran. "Satou, kau yakin perangkat itu masih bisa digunakan? Maksudku, kita kan nggak mengerti cara ngatur portalnya, liat aja, dunia macam apa ini."

Namun ucapan Casstar tadi tampak tidak digubris oleh Arata, ia malah sibuk menekan beberapa tombol asing di perangkat canggih itu. Sebuah portal kecil terbuka di hadapan mereka, tetapi mengeluarkan bunyi berderak dan kilatan cahaya yang tidak wajar.

"Eee... duh kayaknya ada yang salah," katanya, sambil berusaha menstabilkan portal dengan mencoba memahami tombol-tombol yang ada di jam tersebut.

Sebelum mereka sempat melakukan sesuatu, salah satu dinosaurus mengeluarkan raungan keras yang mengguncang tanah di bawah mereka. Makhluk itu berlari mendekat, menyebabkan gempa kecil di setiap langkahnya.

Chrono-FluxTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang