Volume 2: Chapter 3

4 3 0
                                    

Chapter 3: It's Time for Vacation!

---

Tahun 2022. Di lantai dua sekolah yang pernah menjadi saksi eksperimen perjalanan waktu ilegal, suasana kini menyerupai sisa-sisa mimpi buruk yang perlahan dilupakan. Debu tebal menyelimuti lantai, menciptakan kesan seolah waktu telah berhenti. Bangku-bangku kayu tergeletak acak, beberapa dengan kaki patahnya terlihat jelas oleh sinaran cahaya matahari yang memancar melalui jendela pecah.

Di tengah ruangan, tubuh replika Pak Albert—mantan kepala sekolah yang sudah berhasil di kalahkan oleh Arata—terbaring tak bergerak. Kulit molekulnya memudar dan terurai menjadi partikel halus, meninggalkan jejak samar di udara. Waktu terasa membeku.

Tiba-tiba, sebuah portal bercahaya ungu terbuka di sudut ruangan. Dari portal itu, seorang pria bertopeng melangkah keluar. Setelan merahnya kontras dengan mantel hitam panjang yang berkibar pelan. Ia langsung mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan perangkat menyerupai jam tangan besar dengan layar holografis yang bersinar. Teknologi canggih itu mengeluarkan sinar biru muda yang memindai ruangan sekitar dengan bunyi bip-bip monoton. Setelah pemindaian selesai, tulisan holografis melayang muncul di atas jam tangannya bertuliskan
[CURRENT STATUS: Danger]

Pria itu mendekatkan wajahnya ke layar hologram, cahaya ungu memantulkan bayangan tajam di topengnya. Ia mengetuk layar, membuka daftar panjang nama-nama anomali. Setiap nama di daftar itu memiliki status Deceased—telah tiada. Namun, satu nama membuatnya berhenti.
[Arata Satou - Status: Alive]

"Hm... menarik," gumam pria itu dengan suara berat yang teredam topeng.

Ekspresinya tak terlihat di balik topeng, tapi gerakannya cepat. Dengan sigap, ia kembali mengetuk layar, mengirim sinyal rahasia kepada seorang agen dari alam semesta itu untuk segera melacak dan menangkap Arata.

---

Senin, 22 Desember 2025. Jakarta International High School.

Hari itu menjadi momen yang ditunggu sekaligus menegangkan bagi siswa-siswi dari kelas 7 sampai kelas 12, yaitu hari pengumuman hasil ujian akhir semester dan peringkat kelas. Sebuah janji liburan gratis ke Bali untuk sepuluh besar membuat suasana menjadi campuran harap-harap cemas dan ambisi terselubung.

Di kelas 10-A, suasana mendadak sunyi saat Bu Dwi Mahardika, wali kelas mereka, berdiri di depan papan tulis. Matanya menyapu murid-murid yang duduk dengan berbagai ekspresi. Ia menempelkan selembar kertas poster besar ke papan tulis, sebelum berbicara dengan suara lantang.

"Selamat untuk kalian yang berhasil masuk sepuluh besar. Berikut daftarnya," ujarnya sambil menunjuk ke poster.

Suasana langsung berubah. Bisik-bisik tegang mulai terdengar, diselingi desahan kecewa bagi yang tak terpilih. Di barisan tengah, Arata Satou duduk tenang. Namanya tertera di posisi teratas dengan total poin 952 dan nilai rata-rata 95,2. Tepuk tangan pecah, diselingi pujian dan candaan dari teman-temannya, tapi Arata hanya menanggapi dengan senyum tipis.

"Wow, Arata! Peringkat satu, ya. Kok ekspresinya biasa aja, sih? Ini harus dirayain, dong!" kata Enriqo, menyikutnya dengan senyum jahil.

Kaede, yang berada di peringkat kedua dengan selisih hanya dua poin, mendekati Arata. "Selamat, Arata. Tapi lain kali, jangan puas dulu. Aku cuma tertinggal dua poin dari kamu, dan aku pasti akan mengejarmu!" katanya sambil tersenyum setengah kesal.

"Aku tidak pernah puas, Kaede. Itu sebabnya aku menang," jawab Arata singkat, suaranya santai dan datar, membuat gadis itu mendengus sebal.

Sementara itu, di kelas 10-C, Casstar mendominasi kelas dengan memperoleh total poin 953,5, jauh di atas siswa peringkat dua di kelasnya yang memiliki total poin 925.

Chrono-FluxTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang