Volume 2: Chapter 2

4 3 0
                                    

Chapter 2: Rising Pressure,
Go get ‘em, tiger!

---

Minggu ujian akhirnya tiba, membawa serta hawa gugup yang menyelimuti seluruh siswa di sekolah. Dalam suasana ini, semua orang berlomba-lomba membuktikan kemampuan mereka. Begitu juga Arata, yang semula tampak santai, kini mulai merasa beban perlombaan akademik ini semakin nyata.

Tetapi bagi Casstar, minggu ujian ini adalah panggung pertarungan sesungguhnya. Dia bukan hanya bertarung melawan soal-soal, tapi juga melawan dirinya sendiri. Dia harus membuktikan bahwa otaknya masih tajam, fokusnya tetap kuat, dan dirinya yang sekarang sudah sebanding dengan Arata.

---

Senin, 15 Desember 2025

Senin pagi, udara dingin menyelimuti lorong-lorong asrama. Arata membuka jendela kamarnya, membiarkan embun pagi menyentuh wajahnya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, memegang buku catatan yang sudah mulai usang, dan mulai membacanya sebelum berangkat sekolah. Tapi pikirannya malah bertandang pada persaingan berat untuk masuk 10 besar demi mendapatkan liburan gratis ke Bali yang terus dibicarakan oleh semua murid.

[07:00 WIB]

Arata tiba di ruang ujian lebih awal dari biasanya, dan langsung menempati tempat duduknya di pojok belakang. Di meja depannya, Kaede terlihat sedang mempelajari materi terakhir Bahasa Inggris sambil sesekali mencatat poin penting, dan Andreas tampak mondar-mandir di dekat pintu, menggumamkan sesuatu seolah sedang menghafal.

Arata, jangan sampai lupa rumus-rumus tenses, ya. Tapi aku juga nggak mau kalah sama kamu di pelajaran ini!” celetuk Kaede, memecah keheningan kelas.

Arata hanya tersenyum tipis, tetapi kemudian berkata, “Nggak perlu khawatir. Kamu kan selalu unggul di materi reading, sementara aku sering salah tangkap di bagian itu.”

“Hmm, kita lihat saja nanti,” balas Kaede dengan mata menyipit, mencoba memprovokasi semangat kompetitifnya.

“Tapi jangan lupa, kalau aku menang, traktir aku kopi di kantin, ya.”

“Siap. Tapi kalau aku yang menang, makan di kantin nanti kamu yang bayar, ya.” jawab Arata dengan santai.

“Oke, siapa takut, deal!” balas Kaede sambil mengedipkan satu matanya.

Setelah itu mereka berdua pun kembali senyap. Arata duduk dan menatap keluar jendela. Di luar, burung-burung berkicau dengan riang, seolah mengejek tekanan yang sedang dirasakannya.

[08:00 WIB]

Bel berbunyi, tanda pertempuran dimulai. Semua siswa segera duduk rapi, dan lembar soal pun dibagikan. Waktu yang diberikan untuk ujian satu mata pelajaran adalah dua jam penuh. Arata mulai membaca pertanyaan-pertanyaan dengan cermat. Dia merasa percaya diri di awal, soal-soal tentang tenses dan grammar ia lewati dengan mudah. Tapi ketika sampai di bagian terakhir, yaitu reading comprehension, pikirannya mulai buntu. Namun jam terus berdetak, waktu terus berjalan, dan ia akhirnya menebak beberapa jawaban dari soal tersebut.

Di sisi lain, Kaede menggigit ujung pulpennya—tampak berpikir keras sebelum akhirnya mulai mengisi jawabannya. Ruangan itu hening. Satu-satunya suara yang terdengar adalah derit kursi dan gesekan pulpen di atas kertas.

Tetapi saat waktu ujian hampir habis dan Arata sudah mulai bersantai, tiba-tiba dia menyadari kalau ada satu soal esai yang belum ia kerjakan. Jantungnya berdegup kencang saat itu. Tanpa berpikir panjang, ia menulis jawaban yang sekiranya masuk akal, meski tidak yakin dengan hasilnya.

Di sisi Casstar, ia duduk di barisan depan, posisi strategis yang ia pilih untuk menghindari distraksi. Sebelum ujian dimulai, ia membuka buku catatan kecilnya, membaca poin-poin utama yang ia rangkum semalam. Dalam hatinya, ia merasa siap. Namun, sebuah perasaan aneh menyeruak dalam dadanya, mengingatkan dirinya akan masa lalu. Saat semua orang meremehkannya, saat Arata selalu berada di posisi puncak. “Kali ini, aku tidak akan kalah. Ini adalah aku yang baru,” pikirnya.

Chrono-FluxTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang