Volume 1: Chapter 4

12 3 0
                                    

Chapter 4: Space of Clarity

---

Casstar meninggalkanku dengan langkah cepat, menuruni tangga menuju kamar mandi. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di balik belokan lorong. Aku menghela napas panjang. Tubuhku terasa begitu berat. Rasa kantuk dan lapar bercampur jadi satu, seperti menjalani puasa tanpa henti selama 24 jam.

Aku melangkah menuju pintu kamar Casstar yang sedikit terbuka, sekadar ingin tahu waktu saat ini. Ketika aku menengok ke dalam, jam dinding di kamar itu menunjukkan pukul 23.05. Larut sekali. Sesaat, aku tergoda untuk masuk dan mencari lebih banyak informasi tentang Casstar di masa ini-teman-temannya, kebiasaannya, dan mungkin petunjuk lain yang bisa membantuku memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Namun, aku langsung tersadar. Itu tindakan yang tidak sopan. Bagaimana pun, kamar itu adalah wilayah pribadinya. Aku menghela napas panjang, menutup pintu dengan pelan, dan kembali berdiri di lorong yang sepi.

Tidak ada pilihan lain. Rasa lelah yang sudah mencapai batas membuatku menyerah. Aku memutuskan untuk tidur di lorong ini saja, tanpa bantal, kasur, atau selimut. Dingin lantai merayap ke tubuhku, tapi aku terlalu lelah untuk peduli. Perlahan, mataku terpejam, dan aku tertidur, meski dalam kondisi seadanya.

---

Sekitar pukul lima pagi, aku mendengar suara seseorang membangunkanku. Suaranya terdengar tegas, tapi ada nada cemas di dalamnya.

"Kak, bangun, kak! Jangan tidur di jalan!"

Aku membuka mata perlahan. Pandanganku buram, tapi bayangan seseorang yang membungkuk di hadapanku mulai terlihat jelas. Dia adalah seorang gadis yang tampak familier-Kaede, gadis yang kemarin menegurku di depan daftar absen kelas 7-B.

Wajahnya tampak bingung sekaligus kesal. Ia terus menggoyang-goyangkan bahuku, mencoba membangunkanku sepenuhnya. "Kakak nggak apa-apa? Kenapa tidur di lorong?! Kalau ada guru yang lihat, bisa kena hukuman!"

Aku segera berusaha duduk tegak, mencoba menenangkan situasi. "Eh, nggak apa-apa. Aku cuma kelelahan habis main badminton. Belum sampai kamar, udah tepar di sini, hehe," jawabku dengan nada setenang mungkin.

Kaede langsung memelototiku, jelas-jelas tidak percaya. "Hmm... habis main badminton, ya? Mana raketnya? Kenapa pakai seragam sekolah?! Kakak sebenarnya kenapa sih?! Dari kemarin kelakuannya aneh banget."

Aku tercekat. Alibiku terlalu lemah. Tidak ada lagi alasan yang bisa kupakai. Akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti berbohong dan menceritakan semuanya kepada Kaede. Dengan napas yang sedikit tertahan, aku mulai berbicara.

"Dengar, aku tahu ini mungkin terdengar gila. Tapi aku adalah Arata Satou, dan aku... aku berasal dari masa depan, tiga tahun dari sekarang."

Kaede terdiam. Ekspresinya berubah dari kesal menjadi penuh kebingungan.

"Entah bagaimana, aku terlempar ke tahun ini-ke masa di mana aku masih duduk di kelas 7-B. Aku ingat betul, di tahun ini aku sekelas dengan kamu dan Casstar. Tapi sekarang... aku terjebak di sini, dan aku nggak tahu bagaimana cara kembali ke masaku."

Kaede menyipitkan mata, mencoba mencerna ceritaku. "Jadi... kalau kakak dari masa depan, berarti di masa ini juga ada kakak versi tiga tahun lalu, kan?"

Aku mengangguk pelan. "Seharusnya, ya. Tapi tubuhku di masa ini sudah menyatu dengan aku yang dari masa depan. Intinya, cuma ada satu aku sekarang."

Kaede terlihat semakin bingung. "Jadi, kamu mau bilang kamu adalah murid kelas 7-B di tahun ini, tapi sebenarnya kamu berasal dari tahun 2025?"

Chrono-FluxTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang