Seluruh ruangan itu hitam, lelaki itu bingung dengan keadaan saat ini, tubuhnya melayang entah bagaimana caranya, ia hanya mengingat bahwa tadi dirinya sedang memisahkan pangeran yang sedang beradu argumen dengan cara yang tidak biasa.
tiba-tiba sebuah kerlip cahaya muncul, tidak hanya satu, kerlip itu semakin banyak dan membuat aliran yang mengitari jiwanya.
"Apa ini?" Ia berusaha menyentuh kerlip cahaya itu, namun tak bisa.
Kerlip cahaya itu bergerak cepat meninggalkan dirinya, seakan-akan ingin memberitahu sesuatu.
"Tunggu! Jangan tinggalkan aku!" Ia mengikuti kemana cahaya kecil itu pergi dan tiba-tiba kerlip itu menghilang, meninggalkan dirinya yang kebingungan.
Di tempat kerlip cahaya itu menghilang, ia merasakan seperti ada dinding transparan akan tetapi memantulkan rupa dari jiwanya.
Wajah Tanah yang sebenarnya.
Dirinya menyentuh dinding transparan itu dan seketika bayangan yang memantulkan wujud aslinya berubah menjadi wajah Gempa yang terlihat sedih dari ekspresinya.
Tanah hanya menatap Gempa saat lelaki itu mengucapkan sesuatu tanpa bersuara. Ia hanya bisa menebak-nebak apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh entitas Gempa yang sebenarnya.
Disaat dirinya sedang berpikir keras, dinding transparan itu mulai retak dan memperlihatkan tiga orang yang sedang berlari di lorong-rumah sakit? ketiganya terlihat panik walaupun di sekitar tubuh mereka terdapat goresan dan lecet.
Tunggu, bukankah itu-
Petir?
Dinding transparan di belakangnya tiba-tiba muncul dan retak seperti halnya dinding di depannya, membuat lelaki itu panik karena banyaknya retakan yang muncul di sekitarnya.
"Apa yang terjadi?" Raut panik masih terukir di wajahnya, pandangannya beredar mencari tempat yang sekiranya belum muncul retakan aneh, akan tetapi nihil.
"Tanah!"
"Gempa! Sadarlah!"
"Kak Tanah! Kumohon jangan pergi!"
"Gemgem!"
Pupil matanya mengecil mendengar semua panggilan itu. Sungguh ia tak mengerti situasi apa yang terjadi sebenarnya. Ia ketakutan.
"Bahkan dalam kegelapan, cahaya akan bersinar. Takdir selalu berada di genggamanmu, ubah takdir yang terukir dan nyalakan kembali cahaya yang telah pudar."
Lelaki itu tersentak ketika suara itu memenuhi telinganya, terus berulang hingga ia menutup telinga dan memejamkan matanya erat. "Apa- sebenarnya apa maksud semua ini?"
Retakan-retakan yang muncul kian membesar, dan kemudian seperti menyedot jiwanya, ia berusaha keras untuk tetap berdiri di tempatnya akan tetapi angin yang menariknya ke dalam retakan itu semakin kuat dan akhirnya retakan itu melahap jiwanya.
———
Netra cokelat keemasannya terbuka perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk di retinanya, ia meringis pelan merasakan sakit yang mendera.
"Gempa sudah sadar!" Suara itu berasal dari Halilintar yang berdiri di samping kanan ranjangnya, sedangkan Taufan langsung memeluknya.
Gempa seperti mengalami deja vu.
"Gem, syukurlah! Kau tahu betapa cemasnya aku dan adik-adik kita!" Taufan berkaca-kaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Camaraderie
Fantasy. 𓄹۪𝆬🕯️˖ৎָ̲۟୭̲ ۪ apa kau berpikir bahwa masuk ke dunia asing itu dapat benar-benar terjadi? tadinya itu isi pikiran seorang pria muda yang kini terjebak dalam tubuh seorang pangeran yang memiliki enam saudara. -boboiboy elemental royal fantasy fa...
