Kurang lebih sudah hampir satu bulan berlalu, kedua pangeran yang dalam masa pelatihan pun sudah mulai banyak berkembang pesat. Tidak sia-sia Hang Kasa mengajarkan banyak hal pada mereka.
Kedua pangeran itu kini sedang berbaring di tempat persembunyian mereka, yaitu di atas pohon yang bernama oakuat. Jangan salah, meskipun terlihat tua, pohon besar nan lebar ini sangat tahan terhadap hujan badai ataupun angin ribut yang ada di kerajaan Athallaz.
Mereka sedang menikmati cahaya matahari terbenam dari ketinggian seribu kaki dari permukaan tanah.
"Hei, Ice."
"Hm?"
"Kau tak merasa tertekan kah dengan latihan ini?"
"Tidak."
Singkat, padat, dan jelas.
Blaze berdecih, "Kenapa hanya kau yang di perbolehkan untuk meninggalkan arena latihan terlebih dahulu sedangkan aku tidak."
Ice memejamkan matanya, "Aku sudah menguasai teknik yang diajarkan sedangkan kau belum."
Blaze mencibir, "Sulit bagiku untuk mengendalikan spiritku, tahu."
"Tapi aku tidak."
Oke, Blaze merasa kesal dengan jawaban Ice yang terkesan menyebalkan itu.
"Oh, ayolah! Kau-"
Ucapan Blaze terpotong oleh seruan yang memanggil namanya, ketika mereka mengintip ke bawah sana, ternyata terdapat Gempa yang terlihat khawatir. Tentu saja, mereka hanya anak-anak berusia tujuh tahun tetapi sudah memiliki adrenalin yang tinggi dengan berada ketinggian di atas seribu kaki! Gempa bahkan merinding seluruh badan.
"Kalian sedang apa di atas sana? Ayo turun, ayahanda memanggil kalian di ruangannya!"
Blaze pun membalasnya dengan sedikit berteriak juga, "Nanti saja kak!"
"Turun sekarang sebelum ayahanda murka!"
Blaze dan Ice sontak langsung bangkit dan menggunakan kekuatan mereka untuk turun dari pohon lebat itu, mereka lebih memilih untuk menyudahi kegiatan bersantai mereka sebelum sang ayahanda murka, jujur saja mereka takut dihukum seperti waktu itu.
Keheningan melanda ketika mereka bertiga berjalan di koridor menuju ruangan kerja sang ayah, Ice yang terlalu malas untuk mengobrol dan Gempa yang tidak bisa mencari topik yang bagus. Blaze tentu saja tidak tahan, ia juga memutuskan untuk bertanya pada Gempa tentang apa yang mengganjal di pikirannya sedari tadi.
"Kak Gem"
Gempa menoleh, "Ya, Blaze?"
"Bagaimana kau bisa mengetahui kami berada di atas pohon oakuat? Aku pikir selama ini itu tempat persembunyian yang paling aman?" Tanya Blaze sembari terus berjalan.
" Benar juga, rupanya tempat persembunyian kita mudah ditemukan, Blaze." Ice ikut menimpali,
Gempa sontak memperlambat langkah kakinya.
Tidak mungkin Gempa memberi tahu bahwa hal tersebut tertulis dengan jelas dalam novel, bukan? Bisa-bisa dirinya di cap sudah tidak waras oleh saudara-saudaranya.
Melihat kakaknya yang tiba-tiba bergerak semakin melambat membuat Blaze bingung, apakah pertanyaannya tadi menyinggung kakaknya? Pikirnya.
"Kak?"
Gempa tersadar kemudian tertawa canggung, "Ah, tentu saja aku tahu. Kalian berdua kan adikku, mudah sekali menebak dimana kalian akan bersembunyi." Nampak jawaban Gempa mulai tidak masuk dengan topik.
Ice menaikkan sebelah alisnya bingung, "Apakah kakak memberitahukan lokasi rahasia kami pada yang lainnya?"
"Tentu saja tidak, sejauh ini kemungkinan hanya aku yang tahu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Camaraderie
Fantasi. 𓄹۪𝆬🕯️˖ৎָ̲۟୭̲ ۪ apa kau berpikir bahwa masuk ke dunia asing itu dapat benar-benar terjadi? tadinya itu isi pikiran seorang pria muda yang kini terjebak dalam tubuh seorang pangeran yang memiliki enam saudara. -boboiboy elemental royal fantasy fa...
