Hari silih berganti, Ash masih berkutat dengan misteri soal reinkarnasi ini sembari dirinya menjalani kehidupan normal.
Semakin jauh Ash menyelidikinya, semakin banyak misteri yang bertambah dan bukannya jawaban yang didapatkan.
Namun Ash berusaha tidak memikirkannya dan menjalani kehidupannya seperti semestinya.
Hingga tanpa Ash sadari besok sudah mencapai hari ulang tahun Brittany yang dinantikan oleh semuanya.
"Ash, besok loh" seru Bri dengan wajah berseri-seri
"Iya, akhirnya besok" balas Ash dengan senyuman di wajahnya
"Bri mau hadiah apa?" tanya Ash dengan senyuman yang tak luput dari wajahnya.
Brittany diam sesaat sambil berpikir. "Bri mau Ash!" jawab Brittany dengan polosnya.
Ash tertawa kecil saat Brittany meminta hal yang terdengar seperti bukan permintaan itu.
"Yang lainnya dong, kan aku memang milik Bri" balas Ash dengan nada yang lembut.
Brittany memiringkan kepalanya, memikirkan hal apa yang akan dimintanya pada Ash. Sementara itu Ash ikut memikirkan hal apa yang bisa diberikannya pada Brittany sebagai hadiah ulang tahun yang tak terlupakan.
Lalu tiba-tiba Ash teringat akan suatu hal.
"Bri mau ikut aku?" tawar Ash sambil bertanya
"Kemana?" tanya Bri penasaran
"Aku yakin kau akan menyukainya" balas Ash dengan ekspresi yang misterius.
Ash mengangkat Brittany lalu meletakkannya diatas pundaknya, Brittany pun memegang kepala Ash sebagai pegangannya.
"Paman, aku pergi bersama Bri ya" seru Ash dari luar rumah kepada ayah Bri yang berada di dalam sedang menghias rumah untuk menyambut pesta ulang tahun Brittany
"Ya, jangan terlalu lama" jawab ayah Brittany dari dalam rumah.
Setelah mendapatkan izin Ash pun berangkat dengan Brittany menuju tempat yang ingin dituju oleh Ash dalam rencananya.
Pada awalnya Ash membawa Brittany menuju kios makanan yang tak jauh dari pasar dan berada dalam pusat keramaian suku tempat Ash tinggal. Disana Ash membelikan apapun yang diinginkan oleh Brittany, mulai dari makanan hingga aksesoris apapun Ash membelikannya dari uang jajan miliknya yang ditabung.
Tak sampai disitu, Ash mengajak Brittany pergi membeli pakaian yang bisa dikenakannya untuk besok agar bisa tampil cantik. Baju ini dipilih sendiri oleh Ash dengan aksesoris pilihan Brittany.
Saat lapar mereka berkunjung ke restoran dengan menu makanan paling enak, tentu saja semua biaya ditanggung oleh Ash, tanpa ragu sedikitpun dia mengeluarkan uangnya sebanyak apapun demi membuat Brittany senang.
Mereka bersenang-senang dan menghabiskan waktu seharian bersama-sama, Ash membuat Brittany senang selama seharian penuh tanpa memikirkan waktu yang terus berjalan atau mengenai hal-hal yang mengganggunya akhir-akhir ini.
Walau mereka sudah bersenang-senang seharian, bukan itu tujuan utama Ash membawa Brittany berjalan-jalan.
"Makasih Ash, Bri seneng banget" ujar Brittany dengan senyuman lebar di wajahnya
"Bri udh capek?" tanya Ash
"Agak sih" jawab Brittany
"Masih ada satu tempat yang mau kutunjukkan, mau?" tawar Ash.
Kedua mata Brittany langsung berbinar-binar mendengarnya, senyuman di wajahnya pun semakin melebar.
"Mau! Bri mau ikut Ash!" seru Brittany tak sabar.
Ash tersenyum kecil saat melihat tingkah laku Brittany yang terkesan menggemaskan itu, saat ini Ash dipenuhi oleh rasa senang hanya dari reaksi Brittany semata.
"Kalau begitu Bri harus tutup mata dulu ya"
Ash menurunkan Brittany dari atas pundaknya lalu mengambil sepotong kain dari dalam sakunya. Dilipatnya kain itu lalu diikatkan pada kepala Brittany untuk menutup kedua matanya rapat-rapat.
"Jangan mengintip ya, ini kejutan" ujar Ash dengan nada bicara yang misterius.
Jantung Brittany berdegup dengan kencang karena dirinya tidak sabar akan kejutan yang ingin diberikan Ash padanya.
Ash kembali menaikkan Brittany keatas pundaknya dan memegang erat tubuh mungil Brittany agar tidak terjatuh.
Setelahnya Ash pun berlari secepat mungkin untuk mengejar waktu dan suasana yang pas.
Matahari sudah hampir terbenam, dan Ash tidak diizinkan keluar setelah matahari terbenam jadi Ash mengejar waktu agar segera tiba di tempat tujuan dan bisa pulang secepatnya sebelum ia mendapatkan masalah.
Melewati hutan dan menyebrangi sungai, sedikit mendaki bukit yang berada di luar teritori desa, agak jauh namun Ash bisa memotong jalan karena ia yang menemukan lokasi ini sendiri saat menjelajah dulu. Ash sengaja tidak memberitahu Brittany karena ingin memberikannya sebagai kejutan.
Berkat jalan pintas dan kecepatan Ash, mereka tiba di lokasi yang dimaksud Ash tepat pada waktunya saat matahari terbenam setengah.
"Oke kau boleh membuka matamu" ujar Ash.
Brittany yang tidak sabar itu langsung membuka penutup matanya.
Langit sore yang berwarna kemerahan dengan pemandangan matahari yang sudah terbenam setengah. Desa tempat mereka tinggal tepat berada di bawah matahari itu yang membuatnya terlihat seolah matahari itu ditelan oleh desa.
Cahaya berwarna oranye terpancarkan dari matahari dan memberikan tambahan warna bagaikan bumbu penyedap untuk langit sore ini.
Angin berhembus dengan lembut dan menerpa rambut pirang panjang milik Brittany.
Brittany terdiam seribu bahasa saat melihat pemandangan indah yang terpampang di depan matanya saat ini. Kedua matanya terpana melihat keindahan langit sore, bagaikan lukisan yang dicetak dalam sebuah kanvas dalam bentuk tiga dimensi.
Ash yang melihat pemandangan yang sama itu ikut tersenyum kagum, dalam hatinya ia juga merasa senang saat melihat Brittany terkagum-kagum dengan keindahan ini.
"Kau suka?" tanya Ash memecah keheningan.
Brittany menurunkan kepalanya tepat ke hadapan wajah Ash hingga wajah mereka bertemu satu sama lain dengan jarak hanya 5 senti.
Terlihat dengan jelas kebahagiaan yang tercetak di wajahnya, senyuman berseri itu begitu lebar hingga menampilkan deretan giginya yang rapih.
"Bri menyukainya sangat!" seru Brittany dengan lantang.
Ash tersenyum lega mendengarnya. "Baguslah kalau kau menyukainya"
Brittany menyingkirkan wajahnya dari hadapan wajah Ash dan kembali menikmati pemandangan ini seolah Brittany tak ingin kehilangan satu detik pun di momen yang berharga ini.
Saat Ash memandangi pemandangan indah ini, ia jadi teringat akan sesuatu yang membuat perasaannya memburuk seketika. Senyuman lebarnya langsung turun, wajah bahagia miliknya pun berubah menjadi wajah sendu seperti akan menangis.
Entah firasat apa yang menghampiri Ash, namun ia merasa kalau ajalnya sudah dekat bahkan firasatnya mengatakan alasan kematiannya.
Alasan kematian itu tercetak jelas dalam benaknya, kalimat sederhana yang terdengar berulang dalam otaknya pada saat ini.
Kalimat dalam benaknya itu mengucapkan...
"Pengorbanan untuk seseorang"
.
.

KAMU SEDANG MEMBACA
Immortal
Misteri / ThrillerEntah sudah berapa kali aku bereinkarnasi, aku sudah tidak bisa menghitungnya lagi. Berapa kali lagi aku harus reinkarnasi? Setiap kali aku reinkarnasi, rasanya aku hampir gila. Rasa sakit karena kematian sebelumnya masihlah terasa dan membekas di k...