"Dengan ini, eksekusi Yang Mulia Ratu Helena Ferald Georgia atas kasus pengkhianatan kepada kerajaannya sendiri, dimulai!"
"Sebentar lagi waktu eksekusi, aku harus mengingatnya dan menanganinya"
"Tidak, ini belum berakhir"
.
.
.
."Kebebasan dan Keabadian"
Sontak Ash langsung terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah.
Kedua matanya terbelalak kaget, keringat basah mengalir dan membasahi baju serta tempat tidur Ash dengan begitu deras.
Ash mengerutkan alisnya dan mencoba mengatur nafasnya yang berantakan bagai baru saja terbangun dari mimpi buruk.
Dirinya terdiam beberapa saat lalu mencoba mencerna apa yang baru saja menjadi mimpi buruknya tadi.
"Apa maksudnya keabadian itu?" batin Ash bertanya.
Mimpi buruk ini tidak pernah datang pada Ash sebelumnya, bahkan Ash sendiri belum pernah bermimpi sebelumnya. Dirinya bertanya-tanya soal apa arti dari mimpi itu, karena rasanya begitu nyata.
Namun karena Ash masih terbilang anak-anak dengan usianya yang baru saja menginjak 13 tahun, ia tidak terlalu memusingkannya dan kembali tidur dengan nyenyak tanpa mempedulikan mimpinya barusan.
Tanpa Ash sadari kalau pertanda sudah mulai datang.
.
.
.
Pagi datang dengan cepat, Ash dibangunkan oleh ibunya untuk sarapan dan melakukan rutinitas pagi seperti biasanya. Ash tidak menceritakan soal mimpi itu pada ibunya dan memilih untuk tetap diam.
Setelah selesai sarapan, Ash ikut keluar bersamaan dengan ayahnya yang hendak bekerja, dia akan pergi bermain bersama Bri seperti biasa.
Sebelum ayah Ash berangkat bekerja, istrinya yang adalah ibu Ash itu tak lupa memberikan ciuman hangat untuk mengantar keberangkatan suaminya.
"Aku pulang nanti, mau apa?" tanya ayah Ash
"Bawakan saja sayuran" Jawa ibu Ash dengan senyuman hangat.
Ayah Ash berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Ash dan bertanya, "Ash mau punya adik gak?"
Belum sempat Ash menjawab tiba-tiba saja ibu Ash mengangkat ayah Ash dari posisinya dan langsung menendangnya untuk bergegas berangkat.
Ash sedikit kebingungan dengan tingkah laku kedua orangtuanya yang terkesan sedikit aneh itu, namun pemikiran Ash itu langsung ditepis begitu Bri datang ke rumah Ash bersama dengan seorang wanita paruh baya yang adalah ibu dari Bri.
Ash langsung tersenyum lebar melihat temannya itu sudah datang. Ia langsung menoleh kearah ibunya dengan mata yang berbinar-binar, seolah mengetahui maksud dari putranya itu ia tersenyum.
"Jangan pulang terlalu malam" ingat ibu Ash.
Ash yang menganggap itu sebagai persetujuan dari ibunya pun langsung bergegas menghampiri Bri.
"Ke tempat biasa!" seru Ash dengan semangat.
Bri langsung menyetujui usulan Ash, mereka berdua pun langsung berlari kearah danau tempat mereka biasa bermain yang jaraknya tidak begitu jauh, hanya memakan waktu 15 menit untuk berjalan kaki dari rumah Ash yang notabenenya memang berada di pinggir desa.
Dengan penuh kegembiraan di wajah mereka berdua, Ash dan Bri bersenandung kecil selama perjalanan sambil memperhatikan pepohonan di sekitar mereka.
"Ash, tanaman apa ini?" tanya Bri sambil menunjuk kearah sebuah tanaman yang tumbuh pada batang pohon.
Ash menghampiri Bri dan memperhatikan tanaman yang ditunjuk oleh Bri.
"Ini namanya jamur, mereka tumbuh liar. Ada jamur yang bisa dimakan, dan ada yang tidak" jelas Ash dengan penuh kesabaran
"Apa jamur ini bisa dimakan?" tanya Bri penasaran dan sedikit bersemangat saat mendengar ada jamur yang bisa dimakan
"Ayah bilang lebih baik tidak usah sembarang menyentuh jamur kalau pengetahuan kita masih kurang" jelas Ash.
Seketika rasa bersemangat tadi menurun dengan drastis saat mendengar ada jamur yang tidak bisa dimakan. Wajah cemberut tercetak jelas di wajah Bri.
Ash yang menyadari kalau Bri dalam suasana hati yang kurang bagus itu langsung mencari cara agar bisa mengembalikan suasana hatinya seperti sedia kala. Dengan segala pengetahuan di kepalanya, ia mencoba mencari cara sampai akhirnya terpikirkan sesuatu oleh Ash.
"Ada buah yang banyak tumbuh di sekitar sini dan itu bisa dimakan, mending kita ambil itu saja sambil nyantai nanti" usul Ash pada Bri.
Mendengar usulan Ash itu langsung membuat Bri kembali merasa bersemangat, Bri ini memang sangat mudah terpengaruh oleh perkataan orang lain jadi hiburan sekecil apapun akan berdampak besar baginya.
"Kau pergi dulu saja kesana, aku akan mencarinya di sekitar sini" ujar Ash.
Bri menerima ucapan Ash dan berjalan menuju danau. Karena mereka sudah sering kesini selama beberapa tahun terakhir, Ash sama sekali tidak khawatir kalau-kalau Bri akan tersasar, lagipula kalau tersasar pun Ash akan segera tau karena Ash lebih mengenal daerah sekitar sini lebih dari siapapun, ditambah dengan pengetahuan umum yang diajarkan ayahnya, Ash jadi bisa dengan mudah menemukan seseorang.
Ash pun melewati jalan yang berbeda dari Bri dan mulai mencari buah yang dimaksud. Buah itu tumbuh di semak-semak jadi tidak sulit untuk menemukannya dan mengambilnya.
Ayah Ash sering berganti-ganti profesi, jadi pengalaman dan pengetahuannya lumayan banyak yang diturunkan pada Ash dan membuatnya menjadi anak cerdas seperti ini. Dengan memanfaatkan lingkungan sekitarnya, Ash dengan cepat mampu mengumpulkan banyak buah untuk dimakannya bersama dengan Bri.
Saat dirasa buah yang dikumpulkan sudah cukup, Ash langsung mengambil rute menuju danau dengan buah yang ia masukkan kedalam bajunya sebagai wadah sementara dirinya bergelantungan seperti monyet untuk bergerak lebih cepat di rimbunan pepohonan pada hutan ini.
Karena gerakannya yang sering dilatih, dirinya dengan cepat bisa menuju danau itu tanpa hambatan. Disana sudah ada Bri yang sedang bersantai sambil mencelupkan kakinya kedalam air danau.
"Aku sudah membawakan buahnya" ujar Ash dengan nafasnya yang sedikit terengah-engah karena habis bergelantungan tadi.
Wajah Bri langsung berseri-seri melihat banyaknya buah yang dibawa oleh Ash, senyuman yang begitu lebar langsung terpasang di wajah Bri.
Di pinggir danau itu, mereka berdua mencelupkan kaki mereka kedalam air danau dan menyantap buah yang diambil oleh Ash sambil melihat-lihat pemandangan sekitar.
Perlahan-lahan Ash hanyut kedalam suasana yang begitu nyaman ini.
Dengan dingin dari air danau, hangatnya matahari dan segarnya angin yang bertiup membuat Ash merasa sedikit mengantuk.
Ash merebahkan dirinya diatas rerumputan dan mulai memejamkan kedua matanya. Dirinya membiarkan kakinya yang masih terendam pada air danau agar tetap dingin seperti ini.
Rasa kantuk mulai menyerang Ash, perlahan Ash mulai hanyut dalam suasana ini dan tertidur dengan kondisi Bri yang masih memakan buah yang dibawa Ash tadi.
Perlahan namun pasti, pada akhirnya Ash mulai tertidur dengan pulas.
Bri yang melihat Ash tertidur pulas itu jadi ikut merasakan kantuk yang sama karena melihat wajah damai dari Ash.
Ia mengangkat kedua kakinya dari dalam danau lalu pergi merebahkan dirinya di sebelah Ash dan memeluk Ash dari samping. Dipejamkannya lah kedua matanya dan perlahan mulai tenggelam dalam rasa kantuk.
Pada akhirnya mereka berdua tertidur pulas di pinggir danau itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Immortal
Mystery / ThrillerEntah sudah berapa kali aku bereinkarnasi, aku sudah tidak bisa menghitungnya lagi. Berapa kali lagi aku harus reinkarnasi? Setiap kali aku reinkarnasi, rasanya aku hampir gila. Rasa sakit karena kematian sebelumnya masihlah terasa dan membekas di k...