4. zahratunnisa

97 59 11
                                        

.

.

.


...

"permisi ka zahra" seorang wanita mendatangi seseorang bernama zahra yang tengah duduk bersama beberapa wanita yang tampak lebih muda dari zahra. 

"iyya ada apa?". tanya zahra menyambut suara santun wanita yang mendatanginya.

"itu ka, tadi ustadzah ulya minta tolong panggilkan ka zahra" ucap wanita yang memakai rok serta atasan selaras dengan warna kerudung segi empatnya, ia mencoba memberitahu tujuannya menghampiri zahra.

"hmm?, iya iya. arini, syifa sama nindy kakak duluan ya, ada panggilan" pamit zahra dengan santun di-iyakan oleh ketiga wanita yang tampak baru saja curhat kepada zahra.

zahra mulai beranjak dari tempatnya, sebuah musholla yang cukup luas, beberapa wanita tengah berkumpul sesuai hajat mereka, ada diantara mereka tengah melancarkan hafalan, ada juga yang sedang membaca kitab-kitab kuning dipandu oleh seorang kakak kelas, dan ada pula beberapa yang sedang mengobrol santai seperti beberapa adik yang baru saja curhat kepada zahra.

sebuah senyuman mengakhiri pertemuan zahra dengan wanita-wanita tadi.

"fatma, dimana ustadzah ulya sekarang?". tanya zahra yang hendak bergegas menuju tempat sang kakak.

"tadi di kantor ka" ucap wanita bernama fatma menunjukkan keberadaan ulya, guru di sini sekaligus kakak dari zahra.

setelah pamitan kecil zahra berlalu dari musholla, melewati halaman yang cukup luas berjalan menuju kantor.

zahra ia adalah wanita lahir dalam naungan sebuah pesantren yang diasuh langsung oleh sang ayah, suasana pesantren di sore hari yang begitu sejuk nampak dinikmati oleh para santriwati di beberapa bangku taman atau sekedar duduk-duduk di depan kapan menikmati beberapa cemilan yang dikirimkan orang tua tiap bulannya.

"kak zahra" beberapa sapaan terdengar telinga zahra dan zahra menyapa balik dengan senyum manisnya membuat para santri yang mendapat perhatian zahra begitu senang.

wanita hangat itu begitu dicintai oleh para murid ayah dan kakaknya itu. lahir sebagai santri adalah pilihan yang tak pernah zahra minta namun menjadi sosok yang bisa memberikan contoh baik adalah pilihan yang zahra jalani. 

tidak menutup kemungkinan saat seseorang lahir dengan status tinggi menjadi sangat arogan dan dingin sehingga membuat orang yang berada di bawah tingkat statusnya mer asa canggung dan direndahkan. 

tapi tindakan itu tidak zahra lakukan, ia berhasil menjadi mentari hangat ditengah tegasnya sang kakak dan kharisma sang ayah di mata para santri. sehingga para santri khusunya santriwati sering mendekati zahra sekedar menyampaikan usulan ataupun curhat-curhat dari problematika pribadi para santri.

dengan hangat zahra menampung keluh kesah para santri, entah kenapa namun, ia merasa bahwa ia harus melakukan itu. dan ia menikmatinya dengan baik.

terlihat di sebuah bangunan tingkat tiga lantai dengan paduan warna hijau dan putih serta beberapa warna hijau gelap mendukung nuansa bangunan itu terlihat cantik. zahra berjalan dengan tenang menuju salah satu ruangan di lantai satu.

tok, tok, tok!!!.

zahra mengetuk pintu kaca yang disampul sebuah stiker yang samar guna memabatasi kondisi dalam kantor sehingga santri tidak bisa asal melihat ke dalam kantor. pemakaian stiker itu memberikan kesan privasi bagi pengguna kantor yang cukup nyaman.

AM I YOUR ALI || TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang