14. Dua Keasingan

45 29 12
                                        

(Zahratunisa)

udara fajar memasuki ruangan kamar tidur dengan lembut, memberikan sentuhan lembut ke wajah Zahra yang terbaring di tempat tidur. Dia merasa nyaman di bawah selimut yang lembut, tetapi di dalam hatinya masih terasa kecanggungan yang menggelisahkan.

Zahra melirik ke samping, di mana Alvarez masih tertidur dengan tenang. Dia merasakan getaran aneh di dalam dirinya setiap kali melihat suaminya itu. Meskipun mereka telah menikah selama beberapa hari, tetapi rasanya mereka masih seperti dua orang asing yang berbagi rumah yang sama.

Dalam keheningan fajar, Zahra terduduk di tempat tidurnya, merenungkan tentang hubungannya dengan Alvarez. Meskipun mereka telah berbagi segala sesuatu, namun ada sebuah rahasia yang menyelimuti hubungan mereka, menyebabkan kecanggungan yang sulit diatasi.

Zahra menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari keberanian di dalam dirinya untuk membuka diri kepada suaminya. Tetapi setiap kali dia mencoba, dia merasa tertahan oleh ketakutan dan keraguan yang menghantui pikirannya.

Sementara itu, di sisi lain kamar, Alvarez pun mulai bangun dari tidurnya. Dia merasakan getaran yang sama dengan Zahra, sebuah perasaan kebingungan dan ketidakpastian yang sulit dijelaskan.

Alvarez memandang Zahra dengan penuh cinta, tetapi ada juga rasa takut yang menghantui pikirannya. Dia ingin sekali membuka diri kepada istrinya, tetapi ada sebuah rahasia yang terus menghalanginya, membuat mereka berdua merasa terjebak dalam dilema yang sulit.

Dalam keheningan yang menyelimuti kamar, Zahra dan Alvarez, dua orang yang saling mencintai, terus merenungkan tentang hubungan mereka yang rumit. Meskipun mereka berdua berharap untuk dapat membuka hati satu sama lain, namun rahasia yang tersembunyi di dalam diri mereka masing-masing masih menjadi batu sandungan yang sulit diatasi. Dan di balik setiap tatapan yang mereka lemparkan, tersembunyi perasaan canggung dan kebingungan yang sulit dijelaskan, menjadi bukti dari keraguan yang melanda hati mereka.

"Mas, maaf aku mengganggu tidurmu, tetapi aku sholat subuh berjamaah bareng Mas."

Alvarez, yang masih setengah terjaga: "Hmm, sudah subuh ya? Maaf, Mas agak susah bangunnya."

"gapapa mas. mari kita sholat bersama-sama. Rasanya lebih berkah sholat subuh berjamaah, bukan?" Ucap Zahra dengan lembut mencoba membuat pendekatan-pendekatan dengan Alvarez yang begitu pasif.

sudah beberapa hari menikah tapi Alvarez sangat jarang mengajak Zahra untuk mengobrol atau sekedar bercanda ringan, Sesuatu hal seakan menghantui Alvarez dan bahkan Alvarez belum menyentuh Zahra sama sekali sejak menikah. perasaan sedih tentu menancap di hati Zahra namun, Zahra terus mencoba tetap tegar mengusahakan segala hal yang terbaik demi pernikahannya dan ibadah seumur hidupnya.

Alvarez, setelah menggosok-gosok matanya: "iya de, kamu bener. Mas setuju. Mas siap-siap dulu."

Zahra tersenyum tipis, mencoba untuk mengikuti alur sebaik mungkin agar kedekatannya dengan Alvarez semakin baik, setidaknya ada obrolan-obrolan kecil di antara mereka yang walaupun tidak ada peningkatan yang cukup signifikan.

"Terima kasih, Mas. Aku senang bisa sholat bersama-sama denganmu." lirih Zahra, ini tidak kali pertamanya Zahra berterima kasih pada hal-hal kecil yang di-iyakan oleh Alvarez, Zahra benar-benar bahagia dengan hal-hal kecil yang bahkan menurut Alvarez hal itu sudah sewajarnya terjadi.

Alvarez: "Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Aku juga senang bisa melakukannya bersama kamu, Zahra."

Zahra dan Alvarez bersiap-siap untuk sholat subuh berjamaah, merasa bahagia bisa saling mendukung satu sama lain dalam ibadah mereka.

Zahra merasakan getaran yang hangat saat mereka berdua bersiap untuk sholat subuh bersama. Namun, di dalam hatinya, ada rasa perih yang tak terungkap. Dia merasa terluka oleh ketidakpastian yang menyelimuti hubungannya dengan Alvarez, terkadang meragukan apakah dia benar-benar dapat membuat suaminya mencintainya sepenuh hati.

AM I YOUR ALI || TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang