11. Zahratunisa

47 31 0
                                        

Setelah pemakaman selesai, suasana duka masih terasa begitu kental. Keluarga dan kerabat yang hadir tampak tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Langkah-langkah mereka berat saat meninggalkan makam, seolah enggan berpisah dengan orang yang mereka cintai.

 Wajah-wajah mereka mencerminkan kehilangan yang tak terhingga, dengan mata sembab dan pipi yang basah oleh air mata. Di bawah langit yang mendung, desiran angin seakan ikut merasakan kesedihan mereka, membawa bisikan kenangan tentang almarhum yang terus terngiang di benak setiap orang.

Setibanya di rumah, suasana berkabung masih menyelimuti. Setiap pelukan dan ucapan belasungkawa yang diberikan terasa begitu berarti, menguatkan satu sama lain dalam momen kehilangan yang berat ini. Hari itu menjadi pengingat betapa berharganya setiap momen bersama orang tercinta, dan betapa dalamnya rasa kehilangan ketika mereka tiada.

Zahra masih membantu Ummi menyuguhkan tamu yang berdatangan, pemakaman dan acara belasungkawa digelar di pesantren karena bunda sudah menjadi  keluarga bagi keluarga Zahra.

Keluarga yang berdatangan juga ikut membacakan doa sepeninggalan beliau. Suasana haru begitu kental hari itu.

Hati Zahra masih bertanya-tanya kehadiran Alvarez, paman dan bibi iya datang jauh dari Malang mengucapkan belasungkawa hari itu.

Sebelumnya Alvarez izin pamit untuk pulang sementara, Abi dan Umi tidak mencegah Alvarez dan memberikan waktu luang demi ketenangan Alvarez. Paman dan bibi Alvarez pun menyadari hal itu sehingga tidak memaksa untuk kedatangan Alvarez.

"Ndu, yang sabar ya ndu" Ucap wanita dengan kerutan di sisi kelopak matanya menunjukkan ia sudah cukup berumur. Wanita itu menghampiri Zahra yang mencoba memberikan suguhan pada para tamu keluarga.

"Iyya budeh" Zahra hanya bisa mengiyakannya dan mengangguk kecil serta senyum tipis yang tersirat dibalik cadarnya.

Obrolan-obrolan kecil mengalun, wanita itu menceritakan cerita-cerita masa lalu tentang bunda pada Zahra. Zahra dengan santun mendengarkan tiap cerita itu.

Sampai sore pun tiba namun Alvarez belum kunjung datang.

Pada obrolan sebelumnya, Alvarez dan Zahra sudah memastikan perihal permintaan terakhir bunda. Obrolan singkat namun terdengar detail. Abi dan Ummi juga meyakinkan perihal kedua insan itu. Abi menyarankan pelaksanaan akad malam setelah pemakaman.

Terlalu cepat bagi seseorang yang baru saja kehilangan untuk melakukan akad, namun karena alasan itulah mengapa Abi mengusulkan agar akad Zahra dan Alvarez dipercepat. Abi ingin Zahra dan Alvarez saling menguatkan dalam ikatan yang halal.

Terkadang Allah menyatukan dua hamba di titik terlemah mereka agar mampu saling menguatkan.

Abi, Ummi dan Ka ulya tidak memaksa betul kehadiran Alvarez, terlebih Alvarez tidak bisa dihubungi sama sekali petang itu.

Paman sesekali dalam obrolan bersama Abi menanyakan kondisi Alvarez dan Abi dengan tenang mencoba memberi pengertian pada paman Alvarez bahwa Alvarez butuh waktu untuk berdamai.

Sebuah kamar dengan kasur besar di tengahnya menenggelamkan Zahra dalam raut pikirannya yang tak berarah, hati yang tak beratur dan kondisi tubuh yang tak diperhatikan.

Zahra menenggelamkan wajahnya dalam bantal dan membiarkan air mata itu mengalir dengan sendirinya. Ia benar-benar tidak tahu harus apa. Hatinya benar-benar diambang ketidaknyamanan.

Tok tok! Suara ketukan terdengar dari pintu kamar Zahra.

"Boleh kaka masuk de?" Terdengar suara yang begitu familiar. Kak ulya meminta izin untuk masuk.

"Maaf ka, Zahra butuh waktu sebentar" Jawab Zahra menolak sang kakak.

"Baiklah, silahkan istirahat dek" Jawab kak Ulya memberikan waktu pada adiknya.

Kehilangan dan menerima orang baru walau itu kembaran dari seseorang yang ia sayang bukan hal yang mudah.

Nampak sama namun itu berbeda.

Maghrib tiba, namun tidak membawa Alvarez. kak ulya meminta Zahra untuk sekedar bersiap-siap sebaik mungkin, setelah sholat maghrib sendirian kali itu di kamar Zahra menyiapkan persiapan terbaik dengan looks sesopan mungkin, abaya putih dengan beberapa hiasan ditemani jubah putih menjuntai memberikan looks like an angel pada Zahra. namun, genangan air mata nampak di kelopak mata, tak sengaja perasaan itu mengingat kembali sosok Alfarabi.

'mas' batin zahra merindukan Alfarabi.

Beberapa waktu berselang. Maghrib semakin larut menjadi malam. Tepat saat adzan isya berkumandang.

Tok tok! Ketuk pintu kembali terdengar.

"De, De, Alvarez datang" Terdengar di luar sana suara Kak ulya.

Degh!. Perasaan Zahra semakin tidak beraturan. Ia memperbaiki alur nafasnya sebaik mungkin.

"Baik ka, Zahra sudah siap" Ucap Zahra mulai membuka pintu.

Malam itu di masjid pesantren, suasana begitu khidmat namun dipenuhi dengan nuansa duka yang mendalam. Malam yang biasanya penuh dengan ketenangan kini tampak sendu, dihiasi tangisan tertahan dan doa-doa lirih.

Keluarga dekat dari kedua mempelai berkumpul dalam suasana haru, menyaksikan momen pernikahan yang seharusnya penuh kebahagiaan, namun kini dibayangi kesedihan yang mendalam. Alvarez berdiri dengan wajah tertunduk, matanya yang merah dan sembab jelas menunjukkan rasa kehilangan yang begitu besar atas kepergian ibunda tercinta yang baru saja dimakamkan pagi tadi.

Di sisi lain, Zahra tampak berusaha menatap Alvarez dengan lembut sesekali dengan pandangannya yang tertunduk, tatapan Zahra seakan menggenggam tangan Alvarez dengan erat sebagai tanda dukungan dan kekuatan. Suara Abi yang memimpin akad nikah terdengar tenang dan penuh rasa empati, menuntun setiap lafaz dengan hati-hati. Lafaz ijab kabul diucapkan dengan suara yang bergetar, menandakan perpaduan antara kebahagiaan dan kesedihan yang begitu dalam.

"Saya nikahkan, putri saya zahratunisa binti Arsyad dengan mas kawin..." Abi dengan tegas menjadi penghulu pernikahan putrinya, mengucapkan ijab kabul dengan baik.

Zahra dengan perasaan ragu yang terus menyerang berusaha sekuat mungkin untuk mengokohkan perasaanya pada Alvarez pria yang kini tengah menjabat tangan ayahnya. pria yang akan menjadi imamnya, pria yang namanya sudah bersanding dengan namanya di lauhul mahfudz, catatan yang sudah allah buat melalui skenarionya.

"saya terima nikahnya, putri abi, Zaharatunisa binti Arsyad dengan mas kawin... dibayar tunai" suara gemetar itu rasanya begitu berat, Alvarez seakan tengah melawan sesuatu dalam hatinya dan Zahra menyadari itu. Zahra merasa ada ketidaksiapan dalam hati Alvarez namun, kembali lagi Zahra dengan segala perasaannya mencoba membunuh keraguan itu.

Ketika kata-kata itu selesai diucapkan, doa-doa pun dilantunkan, mengiringi perjalanan hidup baru pasangan ini sambil mengenang sosok yang baru saja berpulang. Para anggota keluarga berpelukan erat, saling menguatkan dalam suasana yang begitu emosional, berharap keberkahan dan kekuatan mengiringi langkah baru Alvarez dan Zahra di tengah cobaan besar yang mereka hadapi.

Kak ulya mengatarkan Zahra mendekat pada Alvarez, dengan tenang Zahra kini duduk tepat disisi Alvarez, mengambil tangan yang sudah Alvarez julurkan dan mencium punggung sang suami dengan begitu hikmat, air mata mengalir deras di pipi Zahra, rasanya ia dengan segenap jiwanya akan patuh dengan sang imam.

Alvarez dengan lembut mengusap ubun-ubun Zahra dan membacakan do'a, do'a yang sudah disiapkan oleh sang kakak di hadapannya beberapa waktu lalu, air mata Alvarez ikut meleleh sebelumnya sampai tiba di pucuk hidungnya. dengan bismillah Alvarez meniupkan ubun-ubun Zahra berharap do'a do'a itu tersampaikan pada sang istri. dilanjut dengan kecupan kecil di ubun-ubun Zahra.

Bersambung...

...

halo penyintas ku.

wiii selamat membaca lohhhhh buat yang ikutin ceritaku

vote dan komen

jangan lupa jangan lupa

!!!

AM I YOUR ALI || TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang