Di perumahan yang diliputi oleh keheningan, terdapat sebuah rumah besar yang terasa hampa. Bangunan itu, dengan cat putihnya yang mulai mengelupas, tampak seperti sebuah monumen kesedihan. Di dalamnya, terdapat seorang remaja yang baru saja kehilangan sosok yang sangat dicintainya dalam sebuah kecelakaan tragis. Rumah itu, yang biasanya dipenuhi tawa dan keceriaan, sekarang terasa sunyi. Alvarez duduk sendirian di ruang keluarga, meratapi kepergian mereka yang dicintainya. Di antara keheningan, ia merenungkan masa depan yang tidak lagi terdengar begitu pasti, sementara rumah itu terus mengingatkannya akan kehilangan yang begitu besar.
pemakaman bunda baru saja selesai, Alvarez dengan koko putih dan celana hitam masih termenung di ruang tamu, perasaannya hancur aduk, ia kehilangan semuanya.
ting, ting!!! suara bel terdengar memecah lamunan Alvarez.
dalam hatinya begitu enggan untuk beranjak dari bangku namun, ia paksakan untuk menanggapi tamu yang datang, ia rapikan sekilas pakaiannya dan berjalan keluar rumah.
seorang pria dengan helm yang masih tersemat di kepala memegang sebuah kotak berlapis bubble wrap nampak sebuah paket dengan ukuran yang cukup besar.
" permisi mas, dengan rumah bu wilia?" ucap pria itu tanpak memastikan bahwa rumah yang ia datangi adalah rumah yang tepat sesuai alamat paket dan nama penerima.
'degh' Alvarez tergetar perasaanya kembali terenyuh, nama bunda yang baru saja ia kebumikan hari ini menerima sebuah paket.
"oh iyya mas" jawab Alvarez dengan senyum getir.
"ini mas paket gaunnya, tolong tanda tangan disini sama izin foto untuk tanda bukti ya mas" ucap kurir itu menyelesaikan tugasnya.
Alvarez tidak menjawab apa-apa hanya mengambil papan kecil untuk tanda tangan dan membiarkan kurir itu memotret dirinya. senyum getir itu terpotret dengan tatapan hampa.
"makasih ya mas" kurir itu berpamitan, Alvarez hanya mengangguk kecil membiarkan kurir itu pergi.
Alvarez menutup gerbang dan kembali masuk, perlahan tapi pasti ia kembali menuju sofa di ruang tamu, terduduk lemas dan memeluk erat paket dengan nama sang bunda.
'bundaaaaaaa Alvarez kangen bundaaaaaa, bundaaaa Alvarez harus apa bundaaa?' air mata itu mengalir deras sejadi-jadinya. Alvarez menutup matanya sembari menahan sesak nafasnya yang tak beraturan.
beberapa waktu Alvarez meratapi dirinya, menangisi kehilangan dan tenggelam dalam lamunan yang entah sampai kapan.
ting, ting!!! suara bel kembali terdengar di luar sana.
Alvarez terengah menghentikan tangisannya, mengusap air matanya dengan lengan koko mengetur nafas dan mencoba menahan air mata itu agar tidak tumpah seenaknya. kembali berjalan keluar rumah.
degh!.
seorang wanita dengan wajah penuh air mata tanpa aba-aba berhambur memeluk Alvarez dengan erat, pelukan yang bahkan nampak seperti seseorang yang takut kehilangan. wanita itu nampak memecahkan air matanya di dada Alvarez yang masih terkejut, mata alvarez membulat begitu terkejut.
seorang pria berdiri di depan gerbang, pria yang begitu akrab, pria yang mengenal semua cerita Alvarez namun beberapa hari ini kehilangan kabar Alvarez.
"sayangggg kamu kemana ajaaa, kamu kenapa ga bilang kamu ngalamin cerita sepahit ini, kamu kenapa ga ngabarinnn akuuuuuu, akuuu aku takut kehilangan kamuuuuu" suara lirih setengah berteriak itu sesekali terpotong dengan isak tangis namun ketulusan dan kehangatan itu teresap kedalam batin Alvarez yang kini terasa hampa.
Naura bersama Edo datang ke rumah Alvarez setelah beberapa hari kehilangan kabar tentangnya.
Alvarez masih terdiam, mulutnya terkunci tak bisa berkata apa-apa. semua ini adalah hal yang begitu rancu. perasaannya, batinnya, bahkan nafasnya saja tidak beraturan. air mata terasa hangat mengalir begitu saja di pipi. Alvarez dengan ekspresi kosongnya ditemani seutas aliran air mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
AM I YOUR ALI || TAMAT
RomancePRIA DENGAN MASA LALUNYA, WANITA DENGAN KETULUSANNYA. PERNIKAHAN YANG TAK PERNAH TERCATAT NAMUN SUATU HARI MEREKA HARUS BERLAYAR DALAM BAHTERA YANG SAMA. sebuah tali takdir menautkan dua insan yang menarik, zahra seorang wanita cantik yang hidup di...
