25. bab tak berjudul.

39 18 2
                                        

(Ali Alvarez)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(Ali Alvarez)

Alvarez merasa dunianya berputar cepat. Ketika Zahra mengungkapkan kebenaran yang terpendam begitu lama, semuanya terasa seperti ledakan di dalam kepalanya. Napasnya memburu, membuatnya merasa kehabisan udara. Matanya berkunang-kunang, seperti cahaya yang terlalu terang menusuk ke dalam gelapnya ingatannya.

Bayangan-bayangan terkutuk dari kecelakaan beberapa bulan lalu menyergapnya seperti badai. Darah yang mengalir, teriakan, dan kegelapan yang mencekam semuanya menyatu menjadi satu di benaknya. Ia mencoba keras untuk mengingat, untuk menyusun potongan-potongan ingatan yang hancur, tapi setiap usaha itu hanya menimbulkan rasa sakit yang lebih dalam.

Kepalanya terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum, sebuah rasa sakit yang tak terlukiskan. Alvarez mencoba berdiri, tapi kakinya terasa gemetar di bawahnya. Zahra, dengan sigap, mendekatinya, mencoba menopangnya. Tapi sebelum mereka bisa mencapai kamar, dunia di sekitarnya mulai memudar.

Alvarez merasa dirinya terjatuh ke dalam jurang gelap yang tak berujung. Semua suara menjadi samar, semua warna menjadi abu-abu. Dan kemudian, dalam keheningan yang mencekam, ia merosot ke dalam kehampaan yang tak berujung. Pingsan telah menyambutnya dengan pelukan dinginnya, membawanya ke dalam pelarian dari ketakutan yang menghantuinya.

Alvarez merasakan dirinya terjaga dari dunianya yang gelap oleh sebuah mimpi yang membingungkan. Di dalam mimpinya, ia melihat taman yang indah, dan di tengahnya duduklah sosok yang begitu dikenalnya, sang bunda. Dengan langkah gemetar, ia mendekati bundanya yang duduk tenang di atas bangku.

Alvarez merasa aneh karena di mimpi ini, ia merasa seakan memiliki kendali atas tubuhnya sendiri, berbeda dengan keterbatasan yang ia rasakan di dunia nyata. Ia duduk di rumput di depan sang bunda, wajahnya penuh dengan keraguan dan kebingungan.

Sang bunda menatapnya dengan senyum yang lembut, seperti mencoba memberikan kehangatan kepada putranya yang terluka. Alvarez hendak membuka bibir untuk bertanya, namun sebelum ia sempat mengeluarkan suara, sang bunda memotongnya dengan lembut.

"Ali Alvarez, tak usah terburu-buru," bisik sang bunda dengan suara lembut yang mengalun dalam mimpi tersebut. "Kamu akan..."

Namun, sebelum sang bunda bisa menyelesaikan kalimatnya, mimpi itu terputus, dan Alvarez terbangun dari pingsannya. Matanya terbuka, menemukan Zahra duduk di samping ranjangnya, dengan kepala tertunduk di atas kasur.

Alvarez merasa sebuah perasaan yang rumit memenuhi hatinya. Dia merasa bersalah, tidak hanya karena ketidakmampuannya mengingat, tetapi juga karena ada sesuatu yang dirasakan Zahra, sesuatu yang menggetarkan hatinya walaupun ingatannya masih buram.

Dalam kebingungannya, satu hal yang Alvarez yakin: Zahra adalah seorang yang sangat istimewa baginya, dan mungkin, di antara kabut ingatan yang memenuhi pikirannya, ada cahaya kecil yang memanggilnya untuk mengungkapkan kebenaran dan memulihkan hubungan mereka yang terputus.

AM I YOUR ALI || TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang