Di tengah pesantren yang sunyi, terdapat sebuah aula besar yang biasanya digunakan untuk berbagai acara keagamaan dan pengajaran. Namun, kali ini aula itu disulap menjadi ruang yang penuh dengan dekorasi sederhana namun indah. Di salah satu sisi ruangan, terdapat dua barisan kursi yang tersusun rapi, mewakili kedua keluarga yang akan bertemu. Dinding-dinding ruangan dihiasi dengan kain-kain warna-warni yang menambah kehangatan atmosfer. Di tengah ruangan, sebuah meja besar dipenuhi dengan hidangan sederhana namun lezat, menambah kesan keramahan dan keakraban di antara kedua keluarga tersebut. Cahaya lembut dari lentera-lentera yang tergantung di langit-langit ruangan menciptakan aura magis yang menyelimuti aula, seolah-olah waktu berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi pertemuan dua keluarga yang akan membentuk ikatan yang tak terpisahkan. Di sini, dalam kedamaian pesantren yang hening, dua jiwa akan bersatu dalam lamaran yang penuh cinta dan kerinduan, tanpa disaksikan oleh mata dunia luar, hanya oleh Sang Pencipta dan kedua keluarga yang merestuinya.
seminggu yang lalu.
hati masih gemetar saat nama sang pemilik hati dipanggil oleh suara berat yang mungkin sudah cukup berusia.
"zahra, apa kamu udah denger dari kakak kamu tentang apa yang mau abi obrolin ke kamu malem ini?" tanya seorang pria tua dengan pakaian santai, sarung terlilit rapi kaos putih dan peci putih memberikan kesan ia adalah seorang tokoh agama sekaligus ayah dari wanita yang kini dudu di hadapannya.
"iya abi, zahra udah denger dari kakak. abi mau jodohin zahra bukan?" tanya zahra dengan suara gemetar, ia bukan takut dengan sang ayah hanya perasaan gugup dan hati yang gemetar dengan pembahasan yang akan ia dengar.
"zahra, abi memang akan menjodohkan kamu dengan seseorang, tapi, ini bukan soal keinginan abi atau menepatinya janji abi. tapi, ini perihal harapan abi. abi berharap dengan anak dari salah satu sahabat yang abi kenal kamu mendapatkan imam yang mewarisi sifat sahabat abi, dia baik, dia sholeh, dia pandai, dan insyaallah dia adalah pria hebat yang pantas mengimami zahra" jawab sang ayah dengan nada lembut.
entah perasaan gemetar pada zahra lambat laun mereda, seperti ada kehangatan yang menyelimuti perasaan zahra saat mendengar ketulusan sang ayah. orang tua mana yang ingin anaknya dinikahi oleh sembarang orang. orang tua mana yang membiarkan buah hatinya hidup seumur hidup dengan pria yang salah.
hari ini.
zahra masih di dalam kamarnya, sebuah abaya dengan jubah panjang menjuntai ia kenakan, beberapa pernak pernik tampak membuat zahra begitu cantik, ia belum mengenakan cadarnya. menatap wajahnya dalam-dalam di hadapan cermin seakan tengah berbisik.
'ini beneran kan?, hari ini aku lamaran. hari ini aku ketemu dengan pria yang bahkan belum sempat ku kenal baik namanya atau bahkan ku dengar dengan lantang suaranya. Ali, nama dia Ali. apakah ini cerita yang indah Ali?' tanya zahra dalam hatinya. ia seperti menanyakan hal yang sama dengan Ali, apa yang dirasakan Ali bila melihat dirinya. apakah Zahra bisa menyenangkan hati Ali. seperti Ali yang mencintai Fatimah Az-zahra dengan hebat.
"zahra, Ali udah ada di aula, abi udah menunggu kamu"
(Ali Alvarez)
pria dengan celana hitam dan koko bertema kemeja dengan motif yang cukup singkat ditemani sepasang sepatu pantopel duduk dengan santai di taman sebuah perkarangan pesantren yang megah. melihat bunga-bunga yang indah membuat matanya terasa segar.
Alvarez masih melihat sekililing taman, ia tidak ikut bersama sang bunda dan Alfarabi menuju aula karena mendengar calon dari Alfarabi adalah wanita bercadar sehingga untuk acara sakral 'nazdroh' atau izin melihat wajah wanita itu cukup dilihat oleh calon suami yang akan mempersuntingnya dan Alvarez menganggap itu lebih baik dilihat oleh kakaknya saja. sedangkan ia bisa menghabiskan waktu berbagi pesan dengan sang kekasih. Naura.
seseorang keluar dari rumah putih, wanita bercadar dengan abaya yang dilapisi jubah mewah beserta pernak-pernik bak bidadari yang tengah berjalan melintasi sudut pesantren yang lain. mata Alvarez terikat pada wanita itu. wanita yang ditemani seorang wanita bercadar lainnya yang terkesan seperti kakak dari wanita tersebut.
beberapa waktu Alvarez segera memalingkan pandangannya saat wanita yang ia tatap ternyata melihatnya, dua pasang mata itu beradu beberapa detik dan wanita itu menundukkan pandangannya terus berjalan menuju aula.
'astaga alvarez, itu kan calon ka alfarabi. pasti itu calon kakak' batin Alvarez.
(Zahratunnisa)
Zahra dengan hati yang berdegup kencang berjalan santai keluar dari rumah ditemani sang kakak, perasaanya seperti dua kepala yang sedang saling bertanya, bagaimana, bagaimana dan bagaimana. kemarin rasanya ia masih fokus untuk belajar dan hari ini ia akan menemui pria yang akan menjadi sosok pemimpin dalam kehidupannya.
perasaan siapa yang tidak tegang saat akan bertemu seseorang yang akan meminangnya, pria asing yang bahkan tak terlintas namanya dalam benak tapi hari ini sudah berada di hadapan ayahnya untuk melakukan pertemuan sakral seumur hidup.
saat berjalan menuju aula Zahra merasa seperti ada sepasang mata di sudut lain yang melihatnya dengan pakaian semewah ini. reflek tanpa sengaja membuat zahra mencari rasa penasarannya sampai menangkap seseorang yang tengah terdiam di tengah taman dengan pancaran mata tenggelam dalam pandangannya.
dua pasang mata itu saling beradu tatap sampai. 'astagfirullah dia siapa, zahra ga boleh asal lihat, hari ini zahra mau ketemu calon suami zahra' peringat zahra pada dirinya yang bergegas menuju aula.
terlihat di dalam aula meja besar dengan beberapa keluarga besar, ummi, abi dan pria yang tidak asing di mata zahra, pria yang sebelumnya zahra lihat, hanya ia memakai kaca mata dan terlihat lebih berisi yang sedang ditemani oleh sang bunda.
"ahlannn, ibu ini anak kami zahratunnisa" sambut abi menyilahkan zahra duduk berhadapan dengan alfarabi.
dua pasang insan itu saling menunduk, alfarabi memang pria pemalu yang cukup tenang namun, dalam kondisi seperti ini hatinya pun bisa canggung setengah mati.
"Ali, sapa dulu Zahranya" ujar bunda meminta Alfarabi yang kini dipanggil Ali dihadapan keluarga Zahra.
Zahra mendengar ucapan bunda Ali ikut canggung, ia mengangkat sedikit kepalanya menatap Ali, pria tampan dengan ketenangan yang tersirat di wajahnya.
"ee, Zahra salam kenal saya Ali Alfarabi"
suasana canggung itu berlangsung lama, sampai ayah zahra, umi zahra dan kakak serta bunda Ali memecahkan suasana perlahan-lahan. tawa kecil timbul diantara dua keluarga yang tengah melihat kelucuan dua insan yang tengah mati gaya di hadapan satu sama lain.
"zahra, silahkan kamu buka cadar kamu" ucap abi dengan lembut.
zahra melihat sang kakak dengan tatapan bertanya. "sekarang?". sang kakak hanya tersenyum dalam cadarnya namun terlihat dari matanya yang menyipit seakan berucap "gapapa zahra"
perlahan zahra membuka cadarnya denga hati yang cukup canggung, beberapa belas tahun ia menjaga wajahnya dari pandangan pria yang bukan mahram namun hari ini. Ali Alfarabi menjadi pria pertama yang menatap indah wajahnya.
nampak Ali terdiam terpaku saat melihat keseluruhan wajah seorang wanita bernama zahratunnisa.
Bersambung...
...
halo penyintas ku.
wiii selamat membaca lohhhhh buat yang ikutin ceritaku
vote dan komen
jangan lupa jangan lupa
!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
AM I YOUR ALI || TAMAT
RomancePRIA DENGAN MASA LALUNYA, WANITA DENGAN KETULUSANNYA. PERNIKAHAN YANG TAK PERNAH TERCATAT NAMUN SUATU HARI MEREKA HARUS BERLAYAR DALAM BAHTERA YANG SAMA. sebuah tali takdir menautkan dua insan yang menarik, zahra seorang wanita cantik yang hidup di...
