23. masalah baru.

28 18 1
                                        

Dokter memasuki ruangan dengan langkah yang mantap, wajahnya serius saat dia mendekati Zahra yang duduk tegang di samping kasur Alvarez

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dokter memasuki ruangan dengan langkah yang mantap, wajahnya serius saat dia mendekati Zahra yang duduk tegang di samping kasur Alvarez. "Maafkan saya, Zahra," ucap dokter dengan suara yang lembut namun tegas, "Ada sesuatu yang perlu saya sampaikan."

Zahra menatap dokter dengan ekspresi campuran antara kekhawatiran dan harapan. "Apa yang terjadi, Dok?" tanyanya dengan suara bergetar.

Dokter mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjelaskan. "Alvarez mengalami benturan serius pada kepalanya saat terbentur karang. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ada kerusakan pada area otak yang mengontrol fungsi ingatan. Kami mendiagnosa bahwa Alvarez mengalami kehilangan ingatan parsial."

Pernyataan dokter itu seperti pukulan telak bagi Zahra. Dia terdiam sejenak, mencoba memproses informasi yang baru saja dia terima. "Kehilangan ingatan?" ulangnya dengan suara yang gemetar. "Apa itu berarti dia tidak akan mengingat apa-apa lagi?"

Dokter mengangguk, menyatakan, "Tidak sepenuhnya, Zahra. Kehilangan ingatan seperti ini bisa bervariasi dari kasus ke kasus. Alvarez mungkin tidak mengingat sebagian kecil atau sebagian besar dari masa lalunya. Hal ini bisa termasuk kenangan pribadi, pengenalan terhadap orang-orang terdekatnya, atau bahkan pengetahuan umum yang dimilikinya sebelumnya."

Zahra merasakan dunia di sekelilingnya berputar. Kehilangan ingatan yang didiagnosis oleh dokter membawa konsekuensi yang mendalam dan menakutkan. Bagaimana jika Alvarez lupa tentang mereka berdua? Tentang cinta dan ikatan yang mereka bagi bersama-sama? Pikiran-pikiran seperti itu memenuhi pikirannya dengan ketakutan dan kecemasan yang tak terbayangkan.

Beberapa waktu kemudian, umi, abi, dan Ka Ahmad tiba di rumah sakit. Mereka terkejut mendengar diagnosa dokter, dan ekspresi shock tergambar jelas di wajah mereka. Namun, di tengah semua kekhawatiran itu, mereka bersama-sama mencari kekuatan dan tekad untuk mendukung Alvarez dan Zahra melalui masa-masa sulit yang akan datang.

Setelah memberikan penjelasan yang sulit, dokter akhirnya berpamitan. Dia melihat ke arah Zahra dengan ekspresi penuh simpati sebelum meninggalkan mereka untuk memberikan ruang dan waktu bagi keluarga tersebut untuk menyerap kabar yang telah disampaikan.

Zahra terduduk di kursi, tubuhnya terhempas dalam pelukan yang hangat dari sang umi. Dia merasakan ketenangan dalam kehangatan itu, tetapi juga menyadari betapa rapuhnya dia merasa. Abi berdiri di samping mereka, menepuk punggung Zahra dengan lembut sambil mencoba memberikan dukungan yang dibutuhkan.

Namun, meskipun dia mencoba mempertahankan kekuatannya, Zahra merasa kelelahan yang melanda tubuhnya. Air mata yang sudah habis membuat matanya terasa kering, dan wajahnya terlihat sangat pucat. Dia telah terjaga semalaman, meratapi nasib Alvarez dan berjuang dengan ketakutannya akan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sementara itu, Alvarez masih terbaring tak sadarkan diri di atas kasur, perban yang melingkari kepalanya menjadi saksi bisu dari cobaan yang mereka hadapi bersama. Tidak ada suara kecuali suara monitor jantung yang terus berdetak dengan mantap, menciptakan latar belakang yang sunyi di dalam ruangan itu.

AM I YOUR ALI || TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang