(Ali Alvarez)
Di tengah gemerlap lampu jalan yang redup, Alvarez melangkah perlahan menuju mobilnya setelah meninggalkan rumah sakit tempat mantan kekasihnya terbaring. Hatinya terasa berat dan penuh dengan kebingungan yang tak terhingga. Seiring langkahnya melangkah, dia merasakan beban moral yang membebani bahunya semakin memperberat langkahnya.
Saat dia memutar kunci mobilnya, lamunan-lamunan tentang apa yang telah terjadi malam itu melintas di benaknya. Pertemuan singkat dengan mantan kekasihnya telah memicu tsunami emosi di dalam dirinya. Mereka telah berbagi tawa, kenangan manis, dan juga air mata. Tetapi di akhir pertemuan itu, kesedihan dan penyesalan menghiasi wajah mereka berdua, karena mereka tahu bahwa ini adalah perpisahan untuk selamanya.
Alvarez menghela nafas dalam-dalam saat mobilnya membelok ke dalam jalanan yang sepi. Di dalam hatinya, dia terpecah antara rasa tanggung jawab sebagai suami dan keinginan untuk mengulang kembali masa lalu yang telah berlalu. Memori tentang mantan kekasihnya menyala-nyala dalam ingatannya, menghantarkannya pada rasa sesal dan nostalgia yang tak terbendung.
Dalam kegelapan malam, ia merasa seperti terperangkap di antara dua dunia yang bertentangan. Di satu sisi, ada kehidupan yang dia bangun bersama istri yang dicintainya, dengan segala kenangan bahagia dan harapan masa depan. Namun di sisi lain, ada kerinduan akan masa lalu yang menghantuinya, dengan semua kenangan manis dan kesalahpahaman yang masih terasa begitu nyata.
Alvarez melangkah masuk ke dalam mobil dengan hati yang penuh dengan pertanyaan tanpa jawaban. Dia membiarkan dirinya terhanyut dalam keheningan malam, mencoba mencari kedamaian di tengah konflik batin yang merajalela. Dan dengan setiap kilometer yang dia lewati, perasaannya semakin terombang-ambing di antara rasa bersalah dan rasa penyesalan.
'Kamu masih ingat malam-malam kita dulu, Naura? Ketika kita hanya duduk di bangku taman, menatap bintang-bintang di langit, dan berbagi cerita tentang masa lalu?'
angin malam terasa sepi, tetapi di dalam hati Alvarez, kenangan itu begitu hidup.
'Kita telah melewati begitu banyak bersama, bukan? Dan sekarang, semuanya hanya tinggal kenangan yang bersemayam dalam hati.'
Alvarez menghela nafas dalam-dalam, merenungkan sejenak akan semua yang telah terjadi.
Aku akan merindukan senyummu, Naura. Senyum yang mampu menerangi hari-hariku, meski kadang hanya melalui sebuah pesan singkat.
Alvarez menutup matanya, mencoba memadamkan rasa rindu yang membara di dalam dirinya.
'Tapi kita tahu, semuanya berakhir dengan baik. Dan meskipun aku mencoba untuk melangkah maju, namun kenangan tentang kita selalu membawaku kembali.'
Dalam kesepian yang menyayat hati, Alvarez merenungkan masa lalu yang begitu indah di dalam mobil itu sendiri.
'Aku tak pernah benar-benar memahami betapa berharganya kita satu sama lain, Naura. Dan sekarang, setiap langkahku dipenuhi oleh rasa penyesalan dan kekosongan, aku adalah pria paling mengecewakan'
Dengan hati yang berat, Alvarez menatap ke dalam jiwanya sendiri, terjebak dalam nostalgia yang menghantui dan dilema yang tak terpecahkan sepanjang perjalanan, air mata yang berulang kali jatuh selalu ia usap.
(zahratunisa)
Zahratunisa memandangi langit-langit kamar tidurnya yang gelap. Waktu terus berjalan, namun dia masih terjaga, terperangkap dalam pusaran pikiran yang tak berujung. Di tangannya, dia memegang foto seorang wanita yang ditemukan di dompet suaminya, Alvarez, yang baru saja menikahinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AM I YOUR ALI || TAMAT
RomancePRIA DENGAN MASA LALUNYA, WANITA DENGAN KETULUSANNYA. PERNIKAHAN YANG TAK PERNAH TERCATAT NAMUN SUATU HARI MEREKA HARUS BERLAYAR DALAM BAHTERA YANG SAMA. sebuah tali takdir menautkan dua insan yang menarik, zahra seorang wanita cantik yang hidup di...
