Bahagia seperti apa yang diinginkan semua orang?
Apa bahagia mereka sama seperti definisi bahagia yang Husna inginkan?
Husna hanya ingin tenang, melupakan dan melenyapkan semua masalahnya. Itu rencana Husna dalam waktu dekat, tapi semuanya gagal.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Udah dzikir?
200 vomentlangsungup 👍
Jangan terlalu serius, ini cuma fiksi. Happy Reading 🧚♀️
ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤㅤ 🏍🏍🏍
ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤㅤ Ini pertama kalinya Husna sahur bersama keluarga, ternyata rasanya sangat hangat. Meja makan ini ramai dengan celotehan Khadijah, sahutan Ayah dan komentar Bunda, ada suara Husain dan Hasan yang ikut menanggapi.
Mereka tertawa, Husna juga ikut tersenyum. Selesai makan, mereka duduk santai di ruang keluarga sambil menunggu adzan subuh.
"Husain ga apa-apain kamu kan, Na?" tanya Bunda berbisik. Tapi yang lain bisa mendengar. Tadi saat Bunda hendak membangunkan Husna untuk sahur, Bunda melihat Husain juga tidur di sana. Husain langsung dijewer dan membuatnya terbangun, pun Husna.
"Engga kok, Bun," jawab Husna pelan, dia malu. Husain yang katanya akan pindah malah bablas tidur di sana.
"Mulai nanti malam, Husna tidur di kamar Husain aja, kasur di kamar Khadijah terlalu kecil buat kalian berdua," ucap Ayah. Husain bersorak senang.
Hampir waktu subuh, Ayah menyuruh mereka bersiap untuk ke masjid.
Husna, Bunda dan Khadijah sholat di mushola rumah. Setelah sholat Husna mengatakan keinginannya untuk membantu Bunda di toko kue. Bunda dengan senang hati mengiyakan.
"Boleh, nanti ya. Sekarang kamu bersih-bersih dulu terus pindahin baju kamu ke kamar Husain."
Husna mengangguk, dia pamit dan langsung ke kamar Husain, mengeluarkan bajunya dari tas dan menatanya di atas kasur. Tidak lama kemudian Husain masuk.
"Husain, gimana kamu tau kemarin aku ada di minimarket?" tanya Husna.
"Aku nyalain GPS di ponsel kamu."
Husna mengangguk mengerti. "Ponselnya beneran buat aku?"
"Iya, tapi nanti kalo udah balik ke pondok simpan di ndalem aja ya." "Boleh dipakai sosial media ga?" "Boleh, asal ga dipakai buat cari cowo lain."
Husna memanyunkan bibirnya, siapa juga yang ingin mencari cowo.
"Oh iya, aku penasaran, kamu masih suka sama Mas Hasan?" tanya Husain pelan.
Husna tidak langsung menjawab, melirik Husain yang menatapnya. "Menurut kamu, kenapa aku suka sama Mas Hasan?"
"Panggilnya Gus Hasan aja, harusnya aku yang kamu panggil Mas," keluh Husain.