Bahagia seperti apa yang diinginkan semua orang?
Apa bahagia mereka sama seperti definisi bahagia yang Husna inginkan?
Husna hanya ingin tenang, melupakan dan melenyapkan semua masalahnya. Itu rencana Husna dalam waktu dekat, tapi semuanya gagal.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤㅤ "Ingat ya, salamin satu-satu sambil minta uang. Kalo ditanya mau berapa, jawab lima ratus ribu."
Kedua anak di depan Husain mengangguk patuh. Husain memakaikan sepatu mereka bergirilan lalu membenarkan hijab putri kecilnya.
"Ga usah diajarin aneh-aneh. Tadi Ayah bilang apa?" Husna datang dari arah kamar dan bertanya kepada kedua anaknya.
"Kaya Ayah suluh minta uang sama Om," jawab si sulung Hafshah.
"Eh, Ayah suruh kalian salim," bantah Husain.
"Iya, Ayah suluh minta uang lima," sahut Hamzah si bungsu sambil menunjukkan lima jarinya.
"Subhanallah, jangan ya, ga sopan."
"Biarin aja sih, Ayang. Mereka juga pasti kasih kok," sahut Husain.
"Iya pasti kasih, tapi emang kamu ga malu suruh anak sendiri minta-minta?!"
Husain cemberut lalu dengan cepat menggendong kedua anaknya dan berjalan keluar.
Husna hanya menghela napas melihatnya. Bukan Hafshah dan Hamzah yang perlu dia awasi, tapi Husain. Laki-laki yang sekarang berumur dua puluh tiga itu semakin banyak tingkah, apalagi jika disuruh menjaga kedua anak mereka. Ada saja ilmu absurd baru yang Husain ajarkan kepada kedua anaknya.
"Sah mau gendong Om Asan!" Hafshah mencoba turun dari gendongan Husain dan berlari menuju Hasan.
Hasan tersenyum kecil dan menggendong Hafshah lalu berjalan ke mobil.
Hari ini, mereka akan menghadiri acara reuni kecil-kecilan yang diadakan geng Wani. Sebenarnya mereka memang masih sering bertemu tapi jarang untuk berkumpul lengkap tujuh orang.
Hasan yang mengendarai mobil, Husain duduk di sampingnya dan Husna di belakang bersama Hafshah dan Hamzah.
Oh iya, kalian pasti penasaran dengan Hafshah dan Hamzah. Mereka sekarang sudah berumur empat tahun. Husna melahirkan mereka dengan normal. Banyak perdebatan di dalam ruang operasi saat itu, tapi dokter meyakinkan jika Husna kuat dan akhirnya Husain menyerah membiarkan istrinya melahirkan secara normal.
Waktu itu, kontraksi yang Husna rasakan berjeda cukup lama. Lebih dari sepuluh jam sejak Husna dibawa ke rumah sakit.
Husain yang dapat kabar Husna akan melahirkan langsung berlari meninggalkan bengkel masih dengan pakaian kotor dan menyusul Ayah, Bunda dan Husna yang sudah di rumah sakit.
"Husna mana?!" tanya Husain dengan napas terengah saat itu.
"Mending kamu pulang dulu, ganti baju baru ke sini lagi," jawab Ayah santai.
"Husna mana Ayah!"
"Husna lagi jalan-jalan di koridor, masih pembukaan awal, masih lama kata dokter."