Bahagia seperti apa yang diinginkan semua orang?
Apa bahagia mereka sama seperti definisi bahagia yang Husna inginkan?
Husna hanya ingin tenang, melupakan dan melenyapkan semua masalahnya. Itu rencana Husna dalam waktu dekat, tapi semuanya gagal.
...
Banyak hal yang kurang baik di cerita ini, mohon bijak jika ingin membaca. Meski begitu, jika tetap berkenan untuk membaca, cukup ambil baiknya, dan ingat ini hanyalah fiksi.
ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤㅤ 🏍🏍🏍
ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤㅤ Husain bersiap memakai sepatunya di depan teras sambil matanya terus melihat ke arah luar, memperhatikan siapa saja yang melewat.
"Cepat Husain, kamu piket kan?"
Husain menoleh ke belakang, itu kakaknya, Hasan. Husain tidak menjawab, membiarkan kakaknya pergi terlebih dahulu. Husain kembali fokus melihat orang-orang yang melewat di depan ndalem, lalu tersenyum saat melihat orang yang dia tunggu.
"Kiw catri, ga mau mampir dulu?" goda Husain saat melihat Husna melewat di depan ndalem.
"Gila," ucap Husna singkat dan pelan tanpa menoleh membuat Husain tertawa.
Husna Almaira, gadis yang Husain suka dari tahun lalu. Sejak pertama melihat Husna, Husain langsung mengatakan pada gadis itu jika dia menyukainya. Husna yang saat itu murid baru, hanya mengerutkan keningnya tanpa menanggapi ucapan Husain. Husna kira itu hanya sebuah candaan, tapi ternyata Husain semakin berani mendekatinya dan terus mengatakan jika dia menyukai Husna.
Husain dengan cepat memakai sepatunya lalu menyusul Husna, sedikit berlari dan mensejajarkan langkahnya dengan Husna dan beberapa teman Husna.
"Adek Husna udah sarapan belum? Kalo belum, ayo ke ndalem dulu, Mas Husain siapin sarapan buat Adek Husna," ucap Husain membuat Husna menghentikan langkahnya.
"Ga usah ganggu, bisa ga?"
Husain menggeleng cepat. "Mana bisa, sakau aku kalo ga ganggu kamu."
Husna melengos membiarkan Husain sendirian, berjalan cepat mengajak kedua temannya. Husain juga menyamakan langkahnya.
"Husain!"
Husain menoleh melihat Hasan memanggilnya, melihat tampang kakaknya yang galak, Husain memilih untuk meninggalkan Husna.
"Mas Husain pergi dulu ya, nanti istirahat kita ketemu lagi, dadah catri," kata Husain sambil melambaikan tangannya.
Husna mendecih, membuat kedua temannya tertawa. Pemandangan sehari-hari yang sudah biasa mereka lihat.