Bahagia seperti apa yang diinginkan semua orang?
Apa bahagia mereka sama seperti definisi bahagia yang Husna inginkan?
Husna hanya ingin tenang, melupakan dan melenyapkan semua masalahnya. Itu rencana Husna dalam waktu dekat, tapi semuanya gagal.
...
Banyak hal yang kurang baik di cerita ini, mohon bijak jika ingin membaca. Meski begitu, jika tetap berkenan untuk membaca, cukup ambil baiknya, dan ingat ini hanyalah fiksi.
ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤㅤ 🏍🏍🏍
ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤㅤ
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤㅤ Husain bersiap memakai sepatunya di depan teras sambil matanya terus melihat ke arah luar, memperhatikan siapa saja yang melewat.
"Cepat Husain, kamu piket kan?"
Husain menoleh ke belakang, itu kakaknya, Hasan. Husain tidak menjawab, membiarkan kakaknya pergi terlebih dahulu. Husain kembali fokus melihat orang-orang yang melewat di depan ndalem, lalu tersenyum saat melihat orang yang dia tunggu.
"Kiw catri, ga mau mampir dulu?" goda Husain saat melihat Husna melewat di depan ndalem.
"Gila," ucap Husna singkat dan pelan tanpa menoleh membuat Husain tertawa.